Shibghah Islam Dalam Berteman

Oleh Dr. Slamet Muliono Redjosari, Ketua Bidang MPK DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Memilih teman yang bisa memperkokoh iman sangat dianjurkan dalam Islam. Bahkan Islam telah mengatur dan mengarahkan seorang hamba untuk selektif dalam menentukan teman. Dalam memilih teman, “shibghah” Allah begitu sempurna, sehingga seorang muslim diingatkan agar tak salah dalam memilih teman. Karena, dalam Islam memilih teman bukan hanya urusan sosial biasa, melainkan juga bagian dari identitas iman dan bentuk ketaatan kepada Allah.

Disinilah penting menjadikan hukum Allah dalam menentukan teman. Ketika berhukum dengan aturan Islam, seorang muslim tidak akan salah arah dalam menentukan lingkaran sosialnya. Al-Qur’an sangat melarang berteman dengan Yahudi dan Nasrani, karena mereka bisa membelokkan iman seorang muslim dan menjauhkan dari ketaatan kepada Allah.

Pertemanan Yang Baik

Ṣhibghah secara bahasa berarti celupan atau warna. Dalam konteks ini dipahami sebagai celupan Allah, yaitu agama, syariat, atau fitrah tauhid yang Allah tetapkan bagi manusia. Shibghah Allah sangat jelas dalam memilih teman. Memilih teman yang tepat merupakan pondasi dasar dalam keberlangsungan menjadi keimanan seorang hamba. Memilih teman yang salah berakibat terkikisnya iman seseorang. Sementara tepat dalam memilih teman, iman seorang hamba bisa berkembang. Al-Qur’an menegaskan pentingnya menjadikan hukum Allah sebagai rujukan utama dalam segala urusan, termasuk dalam memilih teman. Allah berfirman :

أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَ ۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Mā’idah: 50)

Al-Qur’an menegaskan bahwa berpaling dari hukum Allah sama dengan kembali pada kegelapan jahiliyah. Maka, seorang muslim yang yakin harus menundukkan diri pada hukum Allah, termasuk dalam perkara pertemanan. Dalam konteks pertemanan, Islam melarang untuk memilih orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman karib. Al-Qur’an secara khusus memberi peringatan keras untuk tidak menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin atau wali. Allah berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَ ۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mā’idah: 51)

Al-Qur’an menegaskan bahwa pertemanan merupakan loyalitas, dan perlindungan tidak boleh diberikan kepada mereka yang berseberangan secara akidah. Sebab, loyalitas dalam Islam (al-wala’) adalah bagian dari kesetiaan pada tauhid. Sementara keyakinan orang Yahudi dan Nasrani bertentangan dengan konsep tauhid.

Mengapa Islam melarang Yahudi dan Nasrani dijauhkan dari pertemanan atau menjadikannya sebagai pemimpin ? Al-Qur’an menggambarkan perilaku buruk sebagian besar orang Yahudi yang condong kepada perbuatan dosa dan keburukan. Hal ini sebagaimana termaktub dalam firman-Nya :

وَتَرَىٰ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدُوَٰنِ وَأَكۡلِهِمُ ٱلسُّحۡتَ ۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ
“Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan, dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka kerjakan itu.” (QS. Al-Mā’idah: 62)

Oleh karena Islam melarang kaumnya untuk menjauhi perbuatan dosa dan permusuhan, sementara orang Yahudi sangat lekat dengannya, maka sebagai hamba yang taat kepada hukum Allah, sangat logis apabila tidak menjadikan mereka sebagai teman atau pemimpin. Narasi ini sekaligus sebagai peringatan bagi umat Islam agar tidak terjebak dalam pola hidup dan perilaku yang menyimpang dari kebenaran.

Mengenal Karakter Teman

Menjaga hubungan baik dengan sesama manusia merupakan anjuran Islam. Namun Al-Qur’an mengajarkan agar mengenal karakter teman secara detail. Bisa jadi manusia terperangah dengan seseorang yang dianggap baik dan menguntungkan, sehingga menjadikannya sebagai teman atau pemimpin. Namun dalam perjalanan waktu, justru menjerumuskannya. Menjerumuskan dalam konteks ini karena mengikis, dan bahkan menghancurkan iman seseorang.
Al-Qur’an memberi rambu sekaligus peringatan agar mengenal karakter seseorang sebelum menjadikannya sebagai teman. Al-Qur’an menyodorkan Yahudi dan kaum musyrik adalah kelompok yang paling keras permusuhannya terhadap umat Islam. Namun, di sisi lain, Al-Qur’an juga mengakui bahwa sebagian orang Nasrani lebih dekat secara emosional dan spiritual dengan kaum Muslimin. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ ۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقۡرَبَهُم مَّوَدَّةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّا نَصَٰرَىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنۡهُمۡ قِسِّيسِينَ وَرُهۡبَانٗا وَأَنَّهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani’. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, juga karena mereka tidak menyombongkan diri.” (QS. Al-Mā’idah: 82)

Shibghah Islam dalam pertemanan memberikan nuansa yang seimbang dimana umat Islam harus mengenal seseorang sebelum akrab dengannya. Islam melarang memberikan loyalitas penuh kepada siapa pun yang tidak berkontribusi dalam mempertahankan imannya.

Surabaya, 12 September 2025

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *