Oleh: Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis 4 buku Perjalanan Jiwa
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Hidup ini selalu tentang pilihan. Ada jalan shidq (jujur) yang mungkin berat di awal tapi manis di akhir. Ada juga jalan fujur (maksiat/kefajiran) yang kelihatan gampang tapi berakhir gelap. Rasulullah ﷺ udah kasih warning keras dalam haditsnya:
عَلَيْكُم بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا
(HR. Muslim)
“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa kepada surga. Seseorang senantiasa berkata jujur dan berusaha untuk jujur hingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur.”
Jalan Shidq: Cahaya yang Menuntun
Jujur memang kadang pahit, tapi hasilnya manis. Ia adalah kompas hidup yang membuat langkah kita tetap lurus meski jalan berliku. Shidq bukan cuma soal ucapan, tapi gaya hidup: jujur pada Allah, pada sesama, dan pada diri sendiri.
Abu Bakar ash-Shiddiq
Kenapa Abu Bakar digelari ash-Shiddiq? Karena setiap kali Rasulullah ﷺ berbicara, ia langsung percaya penuh. Termasuk saat Quraisy menertawakan peristiwa Isra’ Mi’raj, Abu Bakar tegas berkata: “Jika Muhammad ﷺ yang mengatakannya, maka aku membenarkannya.”
Kejujurannya konsisten, total, tanpa kompromi. Sampai Allah abadikan gelarnya: ash-Shiddiq, orang yang jujurnya level tertinggi.
Ka’ab bin Malik
Ada juga kisah Ka’ab bin Malik saat ia tak ikut perang Tabuk. Orang-orang munafik sibuk bikin alasan palsu. Tapi Ka’ab memilih jujur: “Aku tidak punya alasan, wahai Rasulullah. Aku salah.”
Kejujuran ini bikin ia dihukum sosial: dijauhi 50 hari penuh, bahkan istrinya disuruh menjauh. Sakit banget. Tapi akhirnya Allah turunkan ayat menerima taubatnya (QS. At-Taubah: 118). Ini bukti: jujur bisa pahit di awal, tapi berbuah manis di akhir.
Jalan Fujur: Gerbang Kegelapan
Sebaliknya, Rasulullah ﷺ memperingatkan:
وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
(HR. Muslim)
“Dan jauhilah dusta, karena dusta itu membawa kepada kefajiran, dan kefajiran itu membawa ke neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.”
Dusta itu api kecil. Kalau dibiarkan, bisa membakar besar. Bohong kecil lama-lama jadi kebiasaan. Dari kebiasaan lahir sifat fujur: keluar dari jalur ketaatan, terbiasa maksiat, dan akhirnya terseret ke neraka.
Allah ﷻ pun mempertegas:
﴿وَإِنَّ ٱلۡفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٖ﴾
(QS. Al-Infithar: 14)
“Sesungguhnya orang-orang fajir itu benar-benar berada dalam neraka Jahim.”
Lawan dari shidq adalah dusta. Dan jalan para pendusta adalah jalan orang munafik. Allah berfirman:
﴿إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ﴾
(QS. An-Nisā’: 145)
“Sesungguhnya orang-orang munafik berada di dasar neraka yang paling bawah.”
Refleksi untuk Kita
Shidq = jalan Abu Bakar, jalan sahabat sejati. Berat di awal, tapi Allah muliakan di akhir.
Fujur = jalan munafik, jalan para pendusta. Nikmat sesaat, tapi hancur abadi.
Orang jujur mungkin kalah di awal, tapi menang di akhir. Orang dusta mungkin terlihat menang di awal, tapi pasti tumbang di akhir.
Penutup:
Kejujuran adalah tiket menuju surga, sementara dusta adalah karcis neraka. Generasi kita mungkin sering terjebak dalam dusta kecil: manipulasi di medsos, alasan palsu, basa-basi nggak tulus. Tapi ingat, setiap dusta adalah langkah ke arah fujur. Dan setiap shidq, sekecil apa pun, adalah cahaya menuju surga.
So, mau pilih jalan siapa? Abu Bakar dengan gelar ash-Shiddiq, atau jalan munafik yang berakhir di gelapnya neraka?
Donasi DDII Jatim: lynk.id/laznasdewandakwahjatim
Rekening Da’wah :
BSI 7357 2777 73
a.n Laznas Dewan Dakwah Jawa Timur
Informasi & Konfirmasi
📱0851-0786-2777
LaznasDewanDakwah
DariKitaKepenjuruNusantara
DakwahPedalaman
DariPedalamanMembangunPeradabanYangBerkelanjutan
Pemberdayaan
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
