Natsir tentang Urgensi Berkata-kata Lurus dan Lembut

Oleh M. Anwar Djaelani, pengurus Dewan Da’wah Jatim

Surabaya – DDII Jatim: Di keseharian, masyarakat tidak suka kepada siapa pun yang jika bicara berbelit-belit. Hal terkait, di keseharian, masyarakat tidak suka kepada mereka yang jika bicara kasar. Padahal, Islam sudah mengajarkan agar jika kita sedang berbicara hendaknya lurus dan lembut.

Pertama, rata-rata orang tidak senang kepada mereka yang tidak jujur. Semestinya, semua orang harus memperhatikan firman Allah yang terjemahnya sebagai berikut: ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar” (QS Al-Ahzab [33]: 70).

Frase ”perkataan yang benar” di atas adalah terjemah dari qaulan sadida. Kata Natsir di buku Fiqhud Da’wah, qaulan sadida (terutama untuk bidang dakwah) adalah kata-kata yang lurus. Itu, kata-kata yang tidak berbelit-belit. Qaulan sadida adalah kata-kata yang benar, yang keluar dari hati yang suci.

Qaulan sadida diucapkan dengan cara sedemikian rupa hingga tepat mengenai sasaran, sampai ke akal dan kalbu pihak yang dituju. Caranya, bisa mendekati akal sasaran dakwah dengan logika. Bisa pula mendekati kalbu sasaran dakwah dengan rasa. Keduanya, baik ke arah akal maupun kalbu, bahasa penyampaiannya harus selalu bersih dari kekasaran. Mesti sunyi dari kata-kata yang mungkin akan menyakitkan hati (1983: 186-187).

Kedua, kebanyakan orang tidak senang kepada mereka yang saat bicara menyakitkan hati yang mendengarnya. Seharusnya, semua orang memperhatikan firman Allah yang terjemahnya adalah: ”Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (QS Thaahaa [20]: 43-44).
Frase ”kata-kata yang lemah-lembut” di atas terjemah dari qaulan layyina. Kata Natsir di buku Fiqhud Da’wah, qaulan layyina lazim diterjemahkan dengan ”kata yang lembut” atau ”kata yang manis”.

Dua ayat di atas, QS Thaahaa [20]: 43 dan 44, berisi perintah Allah kepada Nabi Musa As dan Nabi Harus As untuk mendakwahi Fir’aun. Kepada keduanya, Allah memberi arahan bahwa meskipun Fir’aun telah melampaui batas (zalim bahkan mendaku dirinya sebagai Tuhan), saat berbicara dengannya hendaklah dengan kata-kata yang lemah-lembut.

Cukup panjang, tak kurang dari sembilan halaman, Natsir memberi penjelasan terkait saat Musa As dan Harun As berdialog dengan Fir’aun. Selama berbicara, kedua Nabi itu terus berpegang kepada arahan Allah agar menggunakan qaulan layyina atau kata-kata yang lembut.
Natsir pun sampai kepada kesimpulan ini: Bahwa kombinasi qaulan sadida dan qaulan layyina yang diperagakan Musa As dan Harun As, ”Tepat dan tajam tikamannya tetapi halus dan bersih, keluar dari kalbu yang bersih. Bersih dari nafsu kasar yang hanya bisa menyalakan nafsu yang kasar pula pada pihak yang dihadapi” (1983: 197).

Natsir lalu menyandarkan pendapatnya kepada QS Al-An’am [6]: 108 yang terjemahnya sebagai berikut: ”Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan”.

Pelajaran Al-Qur’an

Tentang hal di atas, berkata tegas tapi lembut, Al-Qur’an memberi contoh. Misal, perintah Allah untuk menjauhi minuman keras dan judi. Bahwa, larangan minuman keras dan judi, disampaikan dengan tegas tapi lembut. Perhatikan QS Al-Baqarah [2]: 219, yang terjemahnya sebagai berikut: ”Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (semua minuman yang memabukkan) dan judi. Katakanlah: ’Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya’. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, ’Yang lebih dari keperluan’. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”.
Ayat di atas ditutup dengan ”supaya kamu berpikir”. Di dalamnya ada pesan yang kuat. Pesan, agar kita memikirkan apa yang seharusnya kita perbuat dalam keadaan seperti itu.

Cermatilah urutan membangun kesadaran kita, di QS Al-Baqarah [2]: 219 itu. Awal, akal yang sehat dirangsang untuk berpikir, agar memahami dengan jelas posisi masalah minuman keras dan judi. Itu, diperlukan untuk menyiapkan diri kita dalam menerima ketentuan hukum yang akan diberlakukan.

Kata Natsir, larangannya tegas dan penjelasannya mudah dipahami bahkan oleh kalangan awam. Larangannya logis, memuaskan logika orang-orang yang berakal (1983: 188).
Kita ulang penutup ayat QS Al-Baqarah [2]: 219 di atas, ”Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir”. Kita garisbawahi, ”supaya kamu berfikir”. Frase ini, kata Natsir, penuh kerahiman dan oleh karena itu menggugah hati.

Terhadap hal di atas, Natsir membuka sejarah bahwa dengan bahasa Al-Qur’an yang seperti itu yaitu tegas tapi lembut, Umar bin Khaththab Ra tergugah. Dia spontan berseru dengan nada haru: ”Wahai Tuhan kami, kami pasti berhenti (minum minuman keras dan berjudi). Pasti berhenti.”

Teladan Natsir

Natsir sendiri konsekwen. Di keseharian dia amalkan qaulan sadida dan qaulan layyina. Sebagai penulis, jejaknya bersih. ”Di dalam tulisan-tulisannya, sekalipun merupakan polemik yang setajam-tajamnya, belumlah pernah dia mempergunakan perkataan yang mengurangi nilai jiwa besarnya,” kata ZA Ahmad (Capita Selecta, 2015: xxv).
Ada contoh lain. Sebagai sesama tokoh nasional, Natsir dan Soekarno kerap berbeda pendapat secara tajam. Meski begitu, Natsir tetap bisa menjaga bahasa yang halus dan penuh hormat.

Dalam perdebatan publik, Natsir dikenal dengan gaya qaulan sadida (perkataan yang benar / lurus) dan qaulan layyina (perkataan yang lembut). Dia mampu menyampaikan kritik tajam tetapi dengan bahasa yang santun. Ini terlihat dalam tulisannya di berbagai media, juga dalam perdebatannya parlemen.

Agar Sukses

Al-Qur’an telah memberi pelajaran yang jelas. Bahwa, saat berkata-kata kita harus lurus dan disampaikan dengan lembut. Bahwa, kita mesti senantiasa praktikkan qaulan sadida dan qaulan layyina.

Dari Nabi, yaitu antara lain dari Musa As dan Harun As, telah ada teladan yang jelas. Dari praktik ulama, telah ada contoh antara lain Natsir. Maka, kapan pun, kita harus istiqomah meneladani dalam hal berkata-kata yang lurus sekaligus lembut. Dengan itu, insya Allah komunikasi kita akan berhasil. Dengan itu, insya Allah dakwah kita akan sukses. []

Donasi: lynk.id/laznasdewandakwahjatim

Rekening Da’wah :
BSI 7357 2777 73
a.n Laznas Dewan Dakwah Jawa Timur

Informasi & Konfirmasi
📱0851-0786-2777

LaznasDewanDakwah
DariKitaKepenjuruNusantara
DakwahPedalaman
DariPedalamanMembangunPeradabanYangBerkelanjutan
Pemberdayaan

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *