Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan Penulis 4 Buku Perjalanan Jiwa
SURABAYA – DDII JATIM: Fi‘il adalah kata kerja, simbol pergerakan. Dan i‘rab pada fi‘il adalah irama nasib manusia dalam bertindak: kadang mulia, kadang terjatuh, kadang terhenti.
- Fi‘il Māḍī – Selalu Raf‘, Pasti Terangkat
Fi‘il māḍī (kata kerja lampau) selalu mabni ‘ala al-fath tapi secara makna posisinya “stabil” ia sudah selesai, tuntas, tidak bisa berubah lagi. Filosofinya:
Masa lalu itu raf‘: sudah ditetapkan, tidak bisa diganggu gugat.
Setiap amal yang sudah terjadi akan kekal tercatat di sisi Allah.
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا
“Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (QS. Al-Hadīd: 22)
Fi‘il māḍī mengajarkan: jangan terlalu menoleh ke belakang. Masa lalu sudah “mabni”, sudah terangkat (raf‘) di kitab catatan amal. Yang penting, apa yang akan kita lakukan sekarang.
- Fi‘il Mudhāri‘ – Hidup yang Dinamis: Bisa Raf‘, Bisa Nashab, Bisa Jazm
Fi‘il mudhāri‘ (kata kerja sedang/akan) adalah simbol hidup saat ini dan masa depan. Maka i‘rab-nya bisa berubah-ubah:
Raf‘ (ُ) ketika kita hidup dalam kebebasan, tanpa penghalang. Filosofinya: saat hati lapang, amal mudah, hidup terasa naik.
Nashab (َ) ketika ada pemasangan tujuan, hidup diarahkan oleh faktor tertentu (huruf nasib: an, lan, kay, hatta). Filosofinya: pengorbanan, perjuangan, membuka jalan.
Jazm (ْ) ketika amal dipotong, berhenti, dihentikan oleh syarat (huruf jazm: lam, lam an-nahiyah, lam al-amr, dll). Filosofinya: amal bisa terputus jika iman terputus, amal bisa gugur bila terhenti oleh maksiat.
Fi‘il mudhāri‘ adalah hidup sekarang: kadang naik (raf‘), kadang jatuh (nashab), kadang berhenti (jazm). Di sinilah ujian sebenarnya.
- Fi‘il Amr – Selalu Sukun, Tunduk Total
Fi‘il amr (kata kerja perintah) selalu mabni ‘ala as-sukun. Filosofinya:
Amar adalah tunduk total: perintah Allah tak bisa ditawar, tak bisa ditambah, tak bisa dikurangi.
Bentuk sukun melambangkan diamnya ego. Saat diperintah Allah, tugas hamba hanya taat, tanpa banyak argumen.
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ
“Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Rasul.” (QS. An-Nūr: 56)
Fi‘il amr adalah simbol bahwa kadang hidup harus berhenti pada titik patuh, sukun dari segala nafsu, dan diam di hadapan perintah Allah.
- Fi‘il Nahy – Larangan yang Membekukan
Fi‘il nahy (kata kerja larangan) juga mabni ‘ala as-sukun. Filosofinya:
Larangan adalah titik mati: “Stop! Jangan lewat.”
Sukun pada larangan adalah tembok pengingat bahwa tidak semua jalan boleh dilalui.
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji.” (QS. Al-Isrā’: 32)
Fi‘il nahy mengajarkan: larangan adalah sukun yang menyelamatkan. Diam dari maksiat lebih mulia daripada bergerak dalam dosa.
- Kesimpulan: Irama Fi‘il adalah Irama Hidup
Māḍī selalu “raf‘”: masa lalu sudah tuntas, tercatat, tak bisa diubah.
Mudhāri‘ dinamis: bisa raf‘ (naik), bisa nashab (terbuka untuk ujian), bisa jazm (terputus).
Amr & Nahy → sukun: titik taat dan titik berhenti, saat ego dibungkam demi perintah dan larangan Allah.
Fi‘il adalah aksi hidup. Ia menggambarkan bahwa hidup manusia selalu berputar antara bergerak, diuji, dan berhenti. Dan semua itu adalah skenario ilahi agar kita sadar: amal tak sekadar gerakan, tapi ibadah yang selalu tercatat di sisi Allah.
Adm8n: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
