Renungan Natsir di Maulid Nabi Saw

Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 13 judul lainnya

SURABAYA – DDII JATIM: Suasana meriah perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw akan berangsur hilang dan senyap. Hanya saja, selama umat Islam perlu kepada petunjuk yang sempurna maka kapanpun tidak boleh hilang dari ingatan semua ajaran Nabi Saw. Tidak boleh lupa terhadap panduan cara beramal Nabi Saw. Tidak boleh lepas dari tiap pribadi kaum Muslimin-terutama para pemimpinnya-spirit Nabi Saw yang tabah di jalan dakwah. Sikap Nabi Saw yang rendah hati dan ikhlas. Juga, teladan Nabi Saw dalam hal keberanian di medan juang (Natsir, Capita Selecta I, 2015: 186).

Sebagian Wajah

Refleksi Natsir tentang Maulid Nabi Saw ada pada buku Capita Selecta jilid I. Di situ ada judul Pesan Rasulullah Saw (2015: 182). Mari kita ikuti petikannya.

Pertama, Rasulullah Saw meninggalkan pusaka yang tak ternilai, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di dalamnya penuh dengan amanat yang harus kita jalankan. Kita harus istiqomah mengikuti jejak Sang Uswatun Hasanah.

Kedua, cermati kisah perjuangan Nabi Saw. Kala di awal memulai dakwah, Nabi Saw mendapati kaum yang rusak. Menghadapi itu, tugas amar makruf nahi munkar istiqomah dijalankan sampai akhir hayat. Ketika wafat, Rasul Saw meninggalkan tatanan masyarakat yang sempurna. Sungguh menakjubkan hasil usaha Nabi Saw.

Ketiga, amal dakwah Nabi Saw memperjuangkan sekaligus mempertahankan ajaran yang haq. Untuk itu, praktiknya tidak ringan. Nabi Saw melawan musuh dari luar, juga menghadapi musuh dari dalam yaitu kaum munafik.

Keempat, semua aktivitas dakwah dikerjakan Nabi Saw dengan sepenuh keyakinan bahwa Allah akan menolong. Nabi Saw yakin akan mendapat kemenangan seperti yang dijanjikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan tawakkal.

Kelima, dalam menegakkan syariat Nabi Saw tegas. Nabi Saw tak pernah gentar menyebut yang salah sebagai salah dan tak ragu mengatakan yang benar sebagai benar. Bagi Nabi Saw, tak ada yang setengah salah dan tak ada pula yang setengah benar. Meskipun kebenaran pada suatu waktu berada pada posisi yang lemah dan kebatilan pada pada posisi yang kuat, Nabi Saw tetap berusaha untuk menegakkan Islam. Lihat, Nabi Saw saat berhadapan dengan Nasrani dan Yahudi sama sekali tidak gagap.

Keenam, Nabi Saw yakin bahwa amanat dakwah yang dijalankan dengan benar dan sepenuh hati akan berhasil. Perhatikan, umat Islam kala itu jumlahnya terus bertambah. Mereka adalah yang tak takut menahan sakit karena siksaan kaum kafir (seperti Bilal Ra). Mereka yang tak takut lapar (seperti Ammar bin Yasir Ra). Mereka yang tak takut miskin (seperti Mush‘ab bin ‘Umair Ra yang rela hidup melarat setelah sebelumnya bergelimang kemewahan). Mereka yang tak gentar mati (seperti Sumayyah Ra).

Ketujuh, Nabi Saw selalu ingatkan untuk teguh menjaga akidah. Rasul Saw senantiasa ingatkan umatnya agar tak kembali kepada kekafiran. Hal itu penting sebab musuh Islam akan terus berusaha untuk meruntuhkan akidah kita. Perhatikan QS Al-Baqarah [2]: 109, yang terjemahnya: ”Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran”. Juga, di QS Al-Baqarah [2]: 120 yang terjemahnya: ”Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka”.

Kedelapan, Nabi Saw sabar menghadapi semua ujian di lapangan dakwah. Sebagai pemimpin, Rasul Saw tidak sunyi dari penderitaan karena berbagai sebab. Atas hal itu Nabi Saw terus berdakwah. Jika ada halangan, tidak ada rasa kecewa di dirinya karena bukan nama harum dan popularitas yang menjadi tujuannya. Bukan soal lambat atau cepat hasil usaha dakwah akan dicapai. Untuk dakwah, Nabi Saw hanya bersandar kepada petunjuk Allah.

Kesembilan, saat Rasul Saw wafat, putus pertalian umat Islam dengan jasadnya. Hanya saja, akan tetap ada hubungan dengan ruhaninya. Akan tetap terdengar oleh umat Muhammad Saw suara junjungannya lewat sejarah yang telah dijalankannya.

Amalkan, Terus!

Demikian petikan renungan Natsir di buku karyanya yang berjudul Capita Selecta. Buku itu, isinya, kumpulan karangan dan pidato tentang politik, dakwah, dan pemikiran Islam. Sementara, capita selecta berarti pokok-pokok pikiran pilihan atau kumpulan bahasan terpilih.

Dengan demikian, di buku itu hanya berisi pokok-pokok pikiran Natsir. Artinya, di samping yang telah disebut Natsir sebagai hikmah dari peringatan atau perayaan maulid Nabi Saw, masih banyak pelajaran yang lain. Untuk itu kita harus aktif mendapatkannya sendiri dengan cara yang tepat.

Terakhir, yang paling penting, ada pada substansi pesan Natsir seperti yang dikutip di paragraf pembuka tulisan ini. Bahwa, mempelajari pesan-pesan Nabi jangan hanya semarak pada perayaan maulid Nabi Saw saja. Kapanpun, kita tak boleh melupakannya. Terutama sekali, amalkan semua ajaran Nabi Saw. Allaahumma shalli ‘alaa Muham

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *