Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDIi Jatim dan Penulis 4 Buku Perjalanan Jiwa
SURABAYA – DDII JATIM: Dalam kaidah nahwu, isim selalu mengalami i‘rab dengan harakat: raf‘, nashab, atau khafadh. Tapi satu hal pasti: isim tidak pernah jazm, tidak pernah sukun, tidak pernah mati.
Kenapa? Karena isim adalah nama, dan nama adalah tanda kehidupan. Selama sesuatu masih bernama, ia masih ada, masih hidup, masih dikenali.
- Isim: Simbol Kehidupan yang Selalu Bergerak
Setiap isim selalu berharakat. Harakat itu artinya “gerak”.
Hidup manusia tak boleh berhenti, tak boleh membeku.
Selama masih ada nama, masih ada kehidupan yang mengalir.
Tidak ada istilah “sukun” dalam eksistensi manusia—sampai ajal tiba.
Allah ﷻ berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)
Mati hanya datang sekali, selebihnya hidup adalah harakat. Itulah sebabnya isim tidak pernah sukun: selama nama itu ada, kehidupan masih berjalan.
- Tidak Ada Jazm bagi Isim: Hidup Adalah Aliran
Fi‘il bisa jazm, bisa berhenti, bisa mati—karena perbuatan bisa terputus.
Tapi isim tidak. Nama tetap hidup, bahkan setelah pemiliknya tiada.
Seorang nabi wafat, tapi nama “Muhammad” ﷺ tetap hidup.
Seorang ulama meninggal, tapi namanya dikenang dalam sejarah.
Seorang manusia mati, tapi namanya tetap tercatat di sisi Allah.
Inilah filosofi: isim tidak pernah mati, karena nama adalah warisan abadi.
- Harakat Isim: Nafas Kehidupan
Dhammah (raf‘) melambangkan kehidupan yang tinggi, bersatu, jama‘ah.
Fathah (nashab) melambangkan perjuangan, pengorbanan, pembukaan jalan.
Kasrah (khafadh) melambangkan kerendahan, pecahnya ego, sujud total.
Tiga harakat ini adalah denyut nafas kehidupan. Manusia hidup di antara tiga keadaan itu:
Kadang diangkat (raf‘),
Kadang diuji (nashab),
Kadang direndahkan (khafadh).
Tapi tetap hidup. Tidak ada titik mati (sukun) bagi isim.
- Filosofi Agung: Nama Adalah Kehidupan
Isim adalah nama. Dan nama adalah tanda kehidupan yang Allah anugerahkan. Bahkan setelah jasad mati, nama tetap dipanggil:
Di dunia dalam doa orang-orang yang mengingatnya.
Di akhirat dalam panggilan Allah saat amal dibuka di hadapan-Nya.
يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ
“(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya.” (QS. Al-Isrā’: 71)
Manusia dipanggil dengan nama—karena isim adalah tanda bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar mati.
Jadilah Isim yang Hidup
Isim selalu berharakat, tidak pernah sukun. Begitu pula manusia: jangan berhenti, jangan mati sebelum mati. Hidup harus terus bergerak dalam tiga irama:
Tinggi dengan amal jama‘i (raf‘),
Berjuang membuka jalan (nashab),
Merendah dalam sujud (khafadh).
Karena kematian sejati bukan ketika jasad kita hancur, tapi ketika nama kita tidak lagi disebut dalam kebaikan.
Maka jadilah isim hidup—nama yang terus berdenyut dalam doa, amal, dan catatan Allah.
Isim Tak Pernah Mati
Isim tak pernah sukun,
sebab nama selalu hidup.
Ia berdenyut dalam doa,
tercatat dalam kitab-Nya.
Raf‘ meninggikanmu bersama jama‘ah,
Nashab membuka jalan perjuangan,
Khafadh merendahkanmu dalam sujud.
Dan engkau tetap hidup,
selama namamu dipanggil di sisi Allah.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
