Filosofi Isim Ma‘rifah: Jalan Ruhani dari Isyarah hingga Dhamir

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDIi Jatim dan Penulis 4 Buku Perjalanan Jiwa

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dalam nahwu, isim terbagi menjadi dua: nakirah (umum, samar) dan ma‘rifah (spesifik, jelas). Jika nakirah melambangkan hidup yang masih kabur, maka ma‘rifah adalah hidup yang sudah terarah. Namun, ma‘rifah tidak berhenti pada satu level—ia memiliki tingkatan-tingkatan. Dan tiap tingkatan membawa pesan filosofis yang dalam.

  1. Isim Ma‘rifah dengan “Al” (Alif-Lam Ta‘rif)

Contoh: al-kitābu (buku itu), al-baytu (rumah itu).
Filosofinya: alif-lam adalah batas dan penegasan. Hidup manusia perlu batas agar jelas dan tidak liar. Dengan “al”, sesuatu menjadi spesifik, bukan sekadar bayangan samar.

Dalam ruhani, “al” melambangkan syariat: aturan Allah yang membatasi dan menegaskan jalan hidup. Tanpa syariat, manusia tetap nakirah—hidupnya kabur dan liar.

  1. Isim Isyārah (Kata Tunjuk)

Contoh: hādzā (ini), dzālika (itu).
Filosofinya: isim isyarah adalah penunjukan realitas. Hidup manusia bukan hanya teori, tapi juga butuh “isyarah”—tanda nyata dari Allah di sekitarnya.

Allah ﷻ berfirman:

هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ

“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah kepadaku apa yang diciptakan oleh selain-Nya.” (QS. Luqman: 11)

Isim isyarah mengajarkan kita membaca tanda-tanda (āyāt). Alam semesta, peristiwa, bahkan luka dan bahagia adalah isyarah dari Allah agar kita semakin mengenal-Nya.

  1. Isim Maushūl (Kata Sambung Relatif)

Contoh: alladzī (yang), allatī (yang).
Filosofinya: isim maushul adalah relasi. Hidup manusia tak pernah berdiri sendiri; selalu terhubung dengan sebab-akibat, dengan kisah panjang sebelum dan sesudahnya.

Dalam Al-Qur’an, isim maushul sering digunakan untuk menegaskan sifat hamba:

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ

“(Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat.” (QS. Luqman: 4)

Isim maushul mengingatkan bahwa manusia dikenal bukan hanya dengan “nama” (isim), tapi dengan sifat dan amal yang mengiringinya.

  1. Isim ‘Alam (Nama Khusus)

Contoh: Muhammad, Makkah, Al-Qur’an.
Filosofinya: isim ‘alam adalah keunikan. Setiap manusia diberi nama khusus, yang membedakannya dari orang lain. Nama adalah identitas, tapi lebih dari itu: amanah.

Nama “Muhammad” misalnya, bukan hanya label, tapi doa agung. Nama adalah cermin: apakah hidup kita sesuai dengan makna nama yang kita bawa?

  1. Isim Nakirah yang Dibatasi (menjadi Ma‘rifah karena Idhāfah)

Contoh: kitābu Zaidin (buku Zaid).
Filosofinya: sesuatu menjadi jelas ketika terhubung dengan pemiliknya. Kita sebagai manusia pun baru bermakna ketika “diidhafahkan” kepada Allah: ‘abdullāh (hamba Allah).

Tanpa sandaran itu, kita tetap nakirah—tak bermakna.

  1. Isim Dhamīr (Kata Ganti) – Puncak Ma‘rifah

Contoh: ana (aku), anta (engkau), huwa (dia).
Filosofinya: ini adalah puncak pengenalan.

Ana pengakuan diri, kesadaran eksistensi.

Anta relasi langsung dengan yang dihadapi.

Huwa kesaksian tauhid, Allah yang tidak terlihat tapi selalu hadir.

Inilah puncak ma‘rifah: hubungan langsung antara aku (ana) dengan Engkau (anta), hingga seluruh hidup bermuara pada Dia (huwa).

  1. Kalam Ma‘rifah: Hidup yang Jelas

Jika nakirah adalah awal perjalanan (hidup masih samar), maka ma‘rifah adalah puncaknya (hidup sudah jelas arah). Dari alif-lam syariat, tanda-tanda isyarah, relasi maushul, keunikan alam, idhafah kepada Allah, hingga akhirnya larut dalam dhamir—semuanya adalah jalan ruhani menuju Allah.

Allah adalah sumber segala nama. Semua ma‘rifah bermuara pada satu kalimat:

اللّٰه.

Kesimpulan:
Nahwu bukan sekadar ilmu bahasa, tapi cermin spiritual. Dari nakirah ke ma‘rifah, dari samar menuju terang, dari jauh menuju dekat, hingga akhirnya manusia menemukan dirinya dalam hubungan paling intim: hamba di hadapan Rabb-nya.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *