DR. SYAMSUDDIN ARIF JERNIHKAN KEDUDUKAN IBNU RUSYD

Artikel Terbaru ke-2.242
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

Dewandakwahjatim.com, Depok - Saya pernah mengirim surat kepada seorang profesor karena sang profesor menulis buku yang menyatakan, dunia Islam mundur karena mengikuti pemikiran Imam al-Ghazali. Ada juga profesor lain di Jawa Tengah yang menulis buku sejenis. Isinya pun senada: dunia Islam mundur karena ikut pemikiran Imam al-Ghazali.
 
Padahal, anggapan seperti itu jelas tidak terbukti dalam sejarah. Umat Islam bangkit dari kekalahan melawan pasukan Salib justru Pakar filsafat Dr. Syamsuddin Arif berhasil menjernihkan posisi Ibnu Rusyd dalam soal kemajuan sains dan teknologi yang dicapai oleh bangsa-bangsa Barat. Biasanya, kepada para mahasiswa diinformasikan, bahwa Barat maju karena mengikuti pemikiran Ibnu Rusyd dan dunia Islam mundur karena mengikuti pemikiran Imam al-Ghazali.karena mengikuti pemikiran Imam al-Ghazali. Umat Islam ketika itu kalah melawan bangsa Eropa karena terjangkit tiga penyakit: cinta dunia, meninggalkan jihad, dan berpecah belah.

Dr. Majid Irsan al-Kilani menjelaskan secara terperinci jatuh bangunnya umat Islam di zaman itu dan bagaimana peran strategis Imam al-Ghazali dan Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam proses kebangkitan umat Islam tersebut. Kebangkitan itu dilakukan melalui madrasah-madrasah yang akhirnya melahirkan generasi Shalahuddin al-Ayyubi.
 
Jadi, secara historis, klaim bahwa umat Islam bangkit dan maju karena meninggalkan pemikiran Imam al-Ghazali adalah tidak terbukti. Apalagi, dibuatkan mitos juga bahwa Barat maju karena mengikuti pemikiran Ibnu Rusyd. Mitos inilah yang dijelaskan kekeliruannya oleh Dr. Syamsuddin Arif, melalui artikelnya berjudul "Averroisme dan Renaissance" sebagaimana dimuat dalam buku Islam & Diabolisme Intelektual ( 2017).

Dr Syamsuddin menjelaskan, bahwa    mereka yg mengerti sejarah intelektual Barat akan terkejut mendengar klaim seperti itu. Faktanya, revolusi sains di Eropa biasanya dikaitkan dengan teori Copernicus yang menyangkal geosentrisme atau hasil eksperimen Galileo yg menyanggah teori gerak Aristoteles, pada abad ke-15 dan ke-16. Keduanya dimungkinkan oleh semakin kuatnya gelombang penolakan terhadap teori-teori fisika Aristoteles yg diusung oleh Ibnu Rusyd. 

Artinya mereka maju justru dengan menolak Aristotelianisme & Averroisme. Sebagaimana dinyatakan oleh Frederick Coplestone: “Pada abad ke 14 Masehi, kritikan kepada teori² fisika Aristotle, yg disertai dengan berbagai eksperimen & refleksi intelektual yg lebih mendalam, mendorong lahirnya penjelasan-penjelasan & hipotesis-hipotesis baru dalam ilmu fisika.” (A History of Philosophy: Late Medieveland Renaissance Philosophy)
Menurut Dr. Syamsuddin Arif, paradigma sains Aristotelian yang bersifat deduktif dan cenderung deterministik memang bertolak belakang dengan semangat sains modern yang lebih mengedepankan metode induktif, eksperimental dan empiris.


Bahwa kesetiaan Ibnu Rusyd pada teori-teori Aristoteles justru dianggap menghambat kemajuan sains modern diakui oleh Ernest Renan (tokoh sentral yang membangkitkan kembali gagasan-gagasan Averroisme): “Aristotelianisme Arab, yg menjelma dalam figur Ibnu Rusyd, merupakan salah satu rintangan intelektual utama yg dihadapi oleh para pemikir, yang pada saat itu berupaya secara intensif untuk membangun peradaban modern di atas puing-puing warisan abad pertengahan.”


Dalam sebuah kuliah S2 di Universitas Ibn Khaldun Bogor, saya pernah menyampaikan informasi bahwa sebenarnya Imam al-Ghazali memiliki jasa besar dalam kebangkitan umat Islam dan pembebasan Masjid al-Aqsha tahun 1187. Ketika itu, seorang mahasiswa menyatakan ketrekejutannya. Ia menyatakan, bahwa selama kuliah S1, ia mendapatkan pemahaman dari dosennya, bahwa umat Islam mundur gara-gara ikut pemikiran Imam al-Ghazali.


Sebenarnya pemahaman yang keliru tentang Imam al-Ghazali dan Ibnu Rusyd ini juga meluas di berbagai kalangan umat Islam. Karena itu, diperlukan kajian sejarah dan pemikiran yang lebih cermat. Kita perlu memahami kedudukan dan pemikiran para ulama kita dengan adil.


Sebagai generasi pelanjutnya, kita perlu mengambil hikmah sejarah dan menjadikannya sebagai bekal untuk memahami dan menyelesaikan persoalan umat kita di masa kini. Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 10 Juni 2025).

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *