Artikel Terbaru ke-2.256
Oleh; Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id), Ketua Umum DDII Pusat
Dewandakwahjatim.com, Depok - Dalam sebuah acara perkuliahan untuk mahasiswa baru di Kota Solo, seorang guru besar ITB berkisah tentang perjalanannya keliling dunia. Saat mampir di negara Jerman, ia terheran-heran, banyak alat-alat laboratorium yang diimpor dari Korea Selatan. Mengapa Korea Selatan begitu maju dalam hal teknologi?
Nah, ketika melawat ke Korea Selatan, ia bertemu dengan seorang guru besar. Sang profesor itu memberi semangat kepada mahasiswanya, “Kalian jangan malas seperti orang Jepang!”
Saya mendengar langsung cerita sang guru besar. Cerita itu menarik, dan perlu menjadi bahan renungan serius. Khususnya bagi anak-anak muslim. Betapa tidak! Nabi kita sudah mewariskan doa yang begitu dahsyat: “Allaahumma inni a’udzubika minal ‘ajzi wal-kasali”. (Ya Allah, jauhkan aku dari sifat lemah dan malas).
Jadi, Rasulullah saw sudah memberi kunci kemajuan. Kerja keras, jangan malas, dan jangan lemah! Nabi juga perintahkan, agar mukmin menjadi orang kuat, karena Allah SWT lebih mencintai orang mukmin yang kuat.
Doa dan ajaran Islam tentang kerja keras itu sudah menjadi bahan hafalan rutin bagi umat Islam. Tetapi, mengapa tetap malas dan sering bingung? Ini terkait dengan kondisi jiwa seseorang dan juga kondisi jiwa bangsa. Jika jiwanya kotor, maka akan terjangkit penyakit hati seperti lemah, malas, sombong, dengki, pendusta, dan sebagainya.
Itulah kenapa pendidikan kita harus amat sangat serius dalam meningkatkan akhlak mulia. Masalahnya, pekerjaan itulah yang paling berat dalam pendidikan. Sebab, memerlukan keteladanan dan pembiasaan. Tidak mudah bagi pejabat pemerintah untuk menjadi contoh atau teladan dalam pendidikan.
Ironisnya, sering kali orang bukan muslim memiliki beberapa keunggulan sikap dan perilaku dibandingkan kaum muslim. Mereka mungkin lebih jujur, pekerja keras, tidak malas, peduli kebersihan dan kesehatan. Padahal, semua sifat-sifat baik itu sepatutnya dimiliki oleh setiap muslim.
Di mana saja, orang muslim dituntut untuk bekerja keras. Nabi saw perintahkan agar setiap muslim bersemangat melakukan apa yang bermanfaat, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan sekali-kali merasa tidak mampu. Bahkan, lebih dari itu, Rasulullah saw pun memberi teladan dalam soal kerja keras.
Rasulullah mengajarkan bahwa amalan yang baik adalah yang dilakukan secara rutin, meskipun sedikit. Ini satu bentuk kedisiplinan. Loss of adab, kata Prof. Naquib al-Attas, adalah loss of discipline. Karena itulah, jika mengacu kepada panduan dan keteladanan Rasulullah saw, maka harusnya orang muslim tidak malas dan lemah.
Penyakit malas (kasl) adalah penyakit hati yang harus dihilangkan. Ini bagian dari proses pembentukan akhlak mulia. Islam memiliki metode khas dalam pembentukan akhlak mulia, yaitu dilandasi dengan keimanan, dilanjutkan dengan keteladanan, pembiasaan, dan disiplin penegakan aturan.
Seorang mukmin yang yakin dengan takdir Allah dan yakin dengan kehidupan akhirat, pasti tidak mau menyia-nyiakan waktu yang diberikan oleh Allah. Ia tidak akan membuang-buang waktu percuma. Nabi saw pun menjelaskan, bahwa diantara tanda kualitas keislaman seseorang adalah kemampuannya meninggalkan hal-hal yang tidak patut.Bermalas-malasan adalah hal yang tidak patut dilakukan. Ini tindakan yang melemahkan dan menjadikannya pribadi yang rapuh dan mudah dikalahkan.
Jadi, bermalas-malasan adalah tindakan tidak mensyukuri nikmat Allah, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang. Jadi, mukmin yang baik pasti pekerja keras; pasti tidak malas. Itulah makna, bahwa akhlak mulia adalah perwujudan dari kesempurnaan iman.
Jika ditelusuri lebih dalam lagi, inti kurikulum pendidikan kita memang “tazkiyyatun nafs” (pembersihan jiwa). Jiwa yang bersih akan melahirkan akhlak mulia. Jiwa yang bersih diraih melalui proses pencarian, pengamalan, dan pendakwahan ilmu yang dilakukan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Mari kita renungkan kondisi pendidikan kita hari ini. (Depok, 24 Agustus 2025).
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
