Buku Fiqhud Da’wah; Kolaborasi Indah Natsir dan SU Bayasut

Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 13 judul lainnya

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Di negeri ini, buku Fiqhud Da’wah karya M. Natsir termasuk istimewa. Buku itu, dicetak kali pertama pada 1969. Sampai tulisan ini dibuat, pada 2025, buku tersebut masih sering dipercakapkan dan dikutip. Buku itu masih mudah didapat.

Buku Fiqhud Da’wah dengan sub-judul Jejak Risalah dan Dasar-Dasar Da’wah memiliki nilai penting. Hal ini, karena memberikan panduan lengkap tentang dakwah. Misalnya, di dalamnya ada aspek hukum dakwah, cara dan etika berdakwah, serta bagaimana seharusnya pendakwah menyiapkan diri.

Kilau Natsir

Siapa Natsir? Dia lahir di Alahan Panjang – Sumatera Barat, pada 17/07/1908. Predikatnya banyak, antara lain: Muballigh, pendidik, intelektual, pemikir, penulis, dan negarawan. Ketokohannya tak hanya diakui di Indonesia, tetapi juga di dunia Islam.
Natsir adalah intelektual yang kedalaman ilmunya membuahkan penghargaan. Pada 1967 Universitas Islam Libanon memberinya gelar Doctor Honoris Causa bidang politik Islam. Pada 1991, gelar yang sama dianugerahkan Universiti Kebangsaan Malaysia.

Pada 1980, Natsir menerima penghargaan internasional-Jaa-izatul Malik Faisal Al-Alamiyah-atas jasa-jasanya di bidang pengkhidmatan kepada Islam untuk tahun 1400 Hijriah. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada ulama besar India yaitu Syaikh Abul Hasan Ali An-Nadwi dan juga kepada ulama dan pemikir terkenal Abul A’la Al-Maududi.

Natsir pernah menjadi Perdana Menteri RI pertama, 1950-1951, setelah Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jasa Natsir dalam mengembalikan NKRI sangat besar. Bahwa, pada 03/04/1950, sebagai anggota parlemen, Natsir mengajukan mosi dalam Sidang Parlemen RIS (Republik Indonesia Serikat). Mosi itulah yang lalu dikenal sebagai Mosi Integral Natsir, yang memungkinkan bersatunya kembali 17 Negara Bagian ke dalam NKRI.

Penulis Cemerlang

Siapa Natsir? Natsir menulis lebih dari 35 judul buku dan ratusan artikel tentang berbagai masalah dalam Islam dan kemasyarakatan. Fiqhud Da’wah adalah salah satu karyanya yang sangat menonjol dan berpengaruh.

Sebagian buku-buku Natsir telah diterbitkan dalam bahasa Arab. Di samping dalam bentuk buku, banyak materi ceramah dan makalah Natsir yang tersebar luas di tengah-tengah masyarakat (www.dunia.pelajar-islam.or.id).

Kembali ke buku Fiqhud Da’wah. Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia saat tulisan ini dibuat, punya kenangan spesial: “Tulisan Natsir yang paling tersebar luas di Malaysia ialah Fiqhud Da’wah. Saya selaku Presiden ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia, pen.) ketika itu mencetaknya, termasuk menerbitkannya ke dalam edisi Jawi dan menjadikannya teks usrah ataupun grup studi kami. Saya begitu terkesan oleh buku ini karena metode dakwahnya bersifat moderat dan berhikmah. Melalui metode ini, ABIM dapat melebarkan sayapnya hingga menjadi organisasi massa dan gerakan Islam yang bergaris sederhana” (www.majalah.tempointeraktif.com 14/07/2008).

Siapa Natsir? Nanda Putri Kesumawati (2024) di jurnal UIN Raden Intan Lampung, menulis artikel berjudul Gerakan Dakwah Mohammad Natsir dalam Pembaharuan Dakwah di Indonesia. Kata si penulis, Natsir memberikan kontribusi signifikan dalam gerakan dan pembaharuan dakwah Islam yang relevan hingga masa kini. Natsir menekankan pentingnya pemahaman kontekstual dalam dakwah, yaitu memperhatikan kondisi sosial, politik, dan budaya masyarakat yang menjadi sasaran. Pendekatan ini sejalan dengan tren dakwah kontemporer yang semakin menekankan pentingnya memahami dan beradaptasi dengan kondisi lokal dan global (https://repository.radenintan.ac.id/36767/).

Di Balik Buku

Ternyata, di balik penerbitan buku Fiqhud Da’wah ada jasa besar Saleh Umar Bayasut. Alkisah, lelaki yang namanya biasa ditulis SU Bayasut itu, mengambil inisiatif untuk mengumpulkan diktat-diktat dan catatan-catatan kursus latihan calon mubaligh dengan pemateri Natsir.

Kursus-kursus itu sudah berlangsung sekian tahun sebelumnya. Berbagai diktat/catatan itu bertebaran di tangan para pengikut kursus tersebut yang tinggal di banak tempat. Tentu saja, diperlukan usaha serius dan tekun untuk mengumpulkannya.

Tak kenal payah, akhirnya SU Bayasut berhasil menghimpun dan menyusun secara tertib bahan-bahan itu. Jadilah sebuah buku yang, dapat dikatakan, isinya dari Natsir dan bisa terbit atas jasa SU Bayasut.

Buku Fiqhud Da’wah mengandung dasar-dasar pokok bagi dakwah serta penyelenggaraannya. Didahului oleh intisari dari risalah yang hendak dilanjutkan oleh para pendukung dakwah. Penting kita pahami, pelaksanaan dakwah tidak bisa dipisahkan dari isi dakwah yang hendak disampaikan.

Buku Fiqhud Da’wah relatif lengkap, meliputi ”A sampai Z” dari dunia dakwah. Lengkap, dari jejak risalah yang dibawakan oleh Rasulullah Saw dan jalan dakwah yang ditempuh oleh para Sahabat, serta seterusnya.

Kata Natsir di buku Fiqhud Da’wah, bahwa buku itu minimal untuk mengungkit perhatian para (calon) pendakwah kepada tuntunan-tuntunan pokok dalam melaksanakan tugas mereka yang mulia. Kata Natsir lagi, di samping berguna bagi mereka yang baru akan terjun ke medan dakwah, buku ini juga bermanfaat bagi yang sudah berpengalaman berdakwah yaitu untuk memperbarui semangat dan pemahaman.

Lelah yang Indah

SU Bayasut bekerja keras dalam mewujudkan buku Fiqhud Da’wah. Dia kumpulkan dengan sabar naskah yang bertebaran. Dia lalu susun secara tertib. Dia tashih. Dia lengkapi dengan lampiran-lampiran yang diperlukan.

Tak hanya itu. SU Bayasut juga menghubungi banyak sahabat untuk dimintai tolong. Sahabat-sahabat itu, insya Allah sebagian besar kita kenal dengan baik karena mereka adalah ulama dan/tokoh nasional. Mereka, seperti Abdul Qadir Hassan, Umar Salim Hubeis, AR Baswedan, K Ahmad Yazid, dan lain-lain. Dia juga hubungi Yayasan Da’wah Islamiyah Surabaya dan Yayasan Kesejahteraan Pemuda Islam Surakarta.

SU Bayasut juga menemui Prof. KH Abdul Kahar Mudzakkir untuk memberikan Kata Sambutan di buku itu. Datang respons yang baik. ”Saya mengenal pribadi Al-Ustadz SU Bayasut sebagai kawan lama dalam perjuangan,” tutur Sang Profesor.
”Saya,” lanjut Pahlawan Nasional itu, ”Hargai ketekunan beliau di dalam menghimpun serta menyusun catatan-catatan dan diktat-diktat Saudara Mohammad Natsir sehingga menghasilkan karya yang bernilai, yang pasti akan merupakan sumbangan sangat berharga bagi perkembangan dakwah Islamiyah di Indonesia” (1983: 8).

Dengan sedikit gambaran seperti di atas, terasa jasa besar SU Bayasut bagi dunia dakwah pada umumnya dan bagi Natsir pada khususnya. Terkait, sangat pada tempatnya jika Natsir di Pendahuluan buku itu menyampaikan ucapan terima kasih kepada SU Bayasut. Juga, Natsir tulus berdoa: Jazahullah khayran katsiran.

Sang Dokumentator

Tentang SU Bayasut, MB Setiawan punya catatan menarik. Pada 24 April 2024 dia menulis dengan judul: Mengenang SU Bayasut; Jejak Agung Sang Dokumentator Ulung di www.indonesiainside.id. Berikut ini petikannya.

Tokoh satu ini lahir pada 16 Maret 1913 di Desa Kutorejo, Tuban, Jawa Timur. Dia bersemangat dalam mencari ilmu. Lelaki itu menyelesaikan pendidikan di Madrasah Al-Irsyad Surabaya dan Madrasah Tabligh School Muhammadiyah Yogyakarta. Dia menjadi aktivis Islam.

Dia dikenal sebagai salah satu perintis berkembangnya Muhammadiyah di Tuban. SU Bayasut, pada masa pendudukan Jepang, turut aktif dalam mendirikan kantor berita Domei. Belakangan, lembaga itu berubah menjadi Kantor Berita Antara.

Tercatat, SU Bayasut pernah menjadi anggota KNIP dan Konstituante dari fraksi Masyumi. Terekam pula, dia turut berperan lewat Kantor Penerangan Agama Islam di berbagai daerah, termasuk Bojonegoro dan Surabaya. Bersama lembaga itu, dia aktif menyebarkan ajaran Islam.

Masih dari artikel MB Setiawan, SU Bayasut adalah pribadi yang kuat sekaligus aktivis yang istiqomah. Sebagai aktivis, dia penah turut mengirim para pendakwah ke Timor-Timur. Sebagai pribadi kuat, berikut ini contohnya.

SU Bayasut wafat pada 27 Februari 1982. Di hari-hari terakhirnya, dia tunjukkan keteguhan hatinya dalam beriman. Di dekat saat sakaratul maut, dia masih sempat menurunkan salib di ruangan Rumah Sakit tempat dia dirawat. Salib itu digantinya dengan lafadz Allah. Hal yang demikan, cerminan dari kesetiaannya kepada Islam hingga akhir hayatnya (https://indonesiainside.id/khazanah/2024/04/24/mengenang-s-u-bayasut-jejak-agung-sang-dokumentator-ulung-islam).

Paduan Serasi

Demikianlah! Natsir telah berjuang, sudah berdakwah. SU Bayasut sudah berjuang, telah berdakwah. Natsir menulis, SU Bayasut mendokumentasikan dan mempublikasikan. Ini, sebuah kombinasi dakwah yang indah.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudino Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *