Artikel Terbaru ke-2.259
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)
Dewandakwahjatim.com, Depok - Dalam bukunya, “Paradoks Indonesia dan Solusinya” (Jakarta: PT Media Pandu Bangsa, 2022), Presiden Prabowo membuka bukunya dengan harapan agar negara Indonesia menjadi negara kuat. “The Strong do what they can and the weak suffer what they must,” kata Presiden Prabowo mengutip filosof Yunani Thuycidides.
Pernyataan itu sangat penting. Sebab, itulah sebenarnya tujuan kita bernegara. Indonesia harus menjadi negara yang kuat agar disegani dan dapat berperan penting dalam mewujudkan ketertiban dunia. Tujuan besar dalam Pembukaan UUD 1945 itu tidak mungkin bisa diwujudkan jika pendidikan kita melahirkan manusia-manusia yang lemah.
Pada bagian “Menunaikan Janji Kemerdekaan”, Prabowo menulis: “Yang ingin saya lakukan adalah mendorong perubahan besar cara kita bernegara. Saya ingin menyelamatkan masa depan bangsa Indonesia. Saya ingin membangun sistem ekonomi dan sistem politik yang bersih, yang membela rakyat dan yang membangun bangsa ini.”
Untuk melahirkan manusia-manusia yang kuat, maka yang harus dilakukan dalam pendidikan kita adalah: bangunlah jiwanya, bangunlah badannya! Pendidikan kita harus benar-benar serius menyelenggarakan proses pensucian jiwa para murid dan mahasiswa. Jangan buat program yang macam-macam yang justru akan mengotori jiwa mereka, sehingga mereka menjadi manusia yang lemah, malas, dan penakut.
Pada saat yang sama, jiwa mereka harus dihiasi dengan akhlak mulia: cinta ilmu, kerja keras, pantang menyerah, pemberani, sabar dan bijak. Buanglah jauh-jauh mental pesimis dan tidak percaya diri. Apalagi, mental rendah diri dalam menghadapi bangsa lain.
Karena itulah, kita berharap, ada perubahan yang mendasar dalam proses pendidikan nasional kita. Zaman sudah berubah. Anak-anak kita saat ini lebih banyak berinteraksi dengan internet daripada dengan guru atau orang tua. Generasi sekarang amat sangat cepat dalam berinteraksi dengan aneka informasi.
Secara fisik, para murid wajib dilatih dengan keras agar mereka menjadi anak-anak yang tanggung; tidak lembek; tidak mudah menyerah pada keadaan. Caranya mudah. Wajibkan saja mereka mengikuti bela diri, sehingga badan mereka sehat dan kuat.
Sekedar usul, sebaiknya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diperluas maknanya sebagai pendidikan akhlak makan yang sehat. Bukan hanya bahan makanannya yang harus baik, tetapi cara makan, bahkan gaya hidup anak-anak muda itu harus mengikuti pola hidup sehat.
Jika perlu, kondisi fisik ideal dijadikan sebagai salah satu standar kompetensi lulusan para pelajar. Anak yang malas dan kelebihan berat badan jangan diluluskan. Wajibkan mereka untuk mengikuti program pendidikan kesehatan ttertentu. Di berbagai negara – seperti USA, Singapura, Thailand — para pelajar sudah diwajibkan mengikuti program wajib militer.
Jika program ini dilakukan secara nasional, insyaAllah, para guru – termasuk saya dan beberapa menteri – akan bersungguh-sungguh menurunkan berat badan dan menjalakan pola hidup sehat. Jangan sampai ada program pendidikan yang mengarah kepada pembentukan generasi lembek, lemah, dan bingung!
Sekedar usul, Kementerian yang mengurusi pendidikan perlu melakukan evaluasi menyeluruh dan mendasar terhadap apa yang sudah terjadi dalam dunia pendidikan. Kita yakin, kondisi bangsa dan negara kita saat ini adalah akibat ulah manusianya. Dan manusia-manusia itu adalah produk dari pendidikan yang mereka terima di masa lalu.
Kualitas pejabat dan rakyat yang memegang berbagai posisi saat ini merupakan produk pendidikan di masa lalu. Pendidikan kita saat ini juga akan melahirkan para pemimpin dalam 20 tahun kedepan. Tahun 2045, kita sudah menentukan Indonesia akan menjadi negeri Emas; yakni negeri yang adil dan makmur dalam naungan ridho Ilahi.
Kita sudah 80 tahun merdeka. Tapi, suka atau tidak suka, cita-cita kemerdekaan – terutama tegaknya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia – masih belum dirasakan oleh banyak rakyat Indonesia. Inilah faktanya!
Pendidikan kita perlu dievaluasi secara mendasar, sebab rata-rata anak Indonesia harus menjalani sekolah dan kuliah tingkat S-1 selama 18 tahun. Harusnya, setelah 19 tahun sekolah, para sarjana itu tidak menjadi manusia yang bingung dan tidak menganggur.
Jadi, Presiden Prabowo Subianto sudah mencanangkan cita-cita mulia. Indonesia harus jadi negara kuat dan hebat. Tidak ada pilihan lain, pendidikan kita pun harus dipastikan akan melahirkan manusia-manusia yang hebat dan kuat. Jangan jadi manusia yang lemah dan malas! Semoga Allah menolong kita semua. (Depok, 27 Juni 2025).
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
