Oleh Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Al-Qur’an tidak hanya berisi kisah para nabi dan orang-orang saleh, tetapi juga mencatat tokoh-tokoh yang menjadi simbol kesombongan, kezaliman, dan kedurhakaan. Di antara mereka adalah Fir‘aun, Qarun, dan Haman. Ketiganya hidup di zaman Nabi Musa `alaihis salam dan masing-masing menampilkan sisi berbeda dari kesombongan manusia.
Bahkan, Allah menyebut nama mereka bersamaan dalam satu ayat:
وَقَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَۖ وَلَقَدْ جَآءَهُم مُّوسَىٰ بِٱلْبَيِّنَٰتِ فَٱسْتَكْبَرُوا۟ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَمَا كَانُوا۟ سَٰبِقِينَ
“Dan (juga) Qarun, Fir‘aun, dan Haman; sungguh Musa telah datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, tetapi mereka berlaku sombong di muka bumi, dan mereka sekali-kali tidak dapat lolos (dari azab Kami).” (QS. Al-‘Ankabūt [29]: 39)
Ayat ini menegaskan bahwa meskipun mereka berbeda posisi — raja, pejabat, atau orang kaya — ketiganya sama-sama dihancurkan karena kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran.
- Fir‘aun: Simbol Kesombongan Kekuasaan
Fir‘aun adalah raja Mesir yang sangat berkuasa. Ia menindas Bani Israil, memperbudak mereka, bahkan tega membunuh bayi laki-laki mereka. Lebih dari itu, Fir‘aun sampai mengaku sebagai tuhan:
فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ
“Lalu dia berkata: ‘Akulah Tuhanmu yang paling tinggi’.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 24)
Kesombongan Fir‘aun juga tampak ketika ia meremehkan dakwah Nabi Musa:
وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ
“Dan Fir‘aun berkata: ‘Biarkanlah aku membunuh Musa dan biarlah dia memohon kepada Tuhannya. Sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di bumi’.” (QS. Al-Mu’min [40]: 26)
Namun, akhirnya Fir‘aun binasa. Ia dan bala tentaranya ditenggelamkan oleh Allah di Laut Merah (QS. Asy-Syu‘arā [26]: 60–66).
- Qarun: Simbol Kesombongan Harta
Qarun berasal dari kaum Nabi Musa, tetapi ia menolak mengikuti kebenaran. Ia sombong dengan kekayaan yang dimilikinya:
إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَآتَيْنَاهُ مِنَ ٱلۡكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوءُ بِٱلۡعُصۡبَةِ أُوْلِي ٱلۡقُوَّةِ…
“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka. Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat…” (QS. Al-Qashash [28]: 76)
Ketika dinasihati agar tidak sombong, ia malah berkata:
قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِيٓ
“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi (kekayaan) itu karena ilmu yang ada padaku’.” (QS. Al-Qashash [28]: 78)
Namun, Allah segera menghukumnya:
فَخَسَفۡنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلۡأَرۡضَ فَمَا كَانَ لَهُۥ مِن فِئَةٖ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُنتَصِرِينَ
“Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya selain Allah, dan tidak pula ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela diri.” (QS. Al-Qashash [28]: 81)
- Haman: Simbol Kesombongan Jabatan
Haman adalah pejabat terdekat Fir‘aun. Ia menjadi simbol orang-orang yang rela menjual integritas demi mendukung penguasa zalim. Fir‘aun pernah memerintahkannya untuk membangun menara tinggi agar bisa melihat “Tuhan Musa”:
وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا ٱلۡمَلَأُ مَا عَلِمۡتُ لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرِي فَأَوۡقِدۡ لِي يَٰهَٰمَٰنُ عَلَى ٱلطِّينِ فَٱجۡعَل لِّي صَرۡحٗا لَّعَلِّيٓ أَطَّلِعُ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُۥ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ
“Dan Fir‘aun berkata: ‘Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah untukku hai Haman tanah liat, lalu buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat melihat Tuhan Musa. Dan sesungguhnya aku memandangnya termasuk orang-orang pendusta’.” (QS. Al-Qashash [28]: 38)
Haman adalah contoh bagaimana jabatan bisa menjerumuskan seseorang ketika ia memilih mendukung kebatilan.
Tiga Wajah Kesombongan
Al-Qur’an menghadirkan kisah Fir‘aun, Qarun, dan Haman sebagai cermin bagi manusia sepanjang zaman:
Fir‘aun sombong karena kekuasaan.
Qarun sombong karena harta.
Haman sombong karena jabatan dan loyalitas buta pada tirani.
Ketiganya disebut bersama dalam QS. Al-‘Ankabūt ayat 39, untuk menegaskan bahwa siapa pun — raja, orang kaya, atau pejabat — jika berlaku sombong dan menolak kebenaran, maka ujungnya adalah kehancuran.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
