Oleh Adi Purnomo, Sekretaris DDII Kb. Banyuwangi
Dewandakwahjatim.com, Banyuwangi – Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَا لْاِ نْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَا رِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ فَا نْفُذُوْا ۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍ
yaa ma’syarol-jinni wal-ingsi inistatho’tum ang tangfuzuu min aqthooris-samaawaati wal-ardhi fangfuzuu, laa tangfuzuuna illaa bisulthoon
Artinya:
“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah).”
English :
Allah Subhanahu Wa Ta’ala says:
يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَا لْاِ نْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَا رِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ فَا نْفُذُوْا ۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍ
“O company of jinn and mankind, if you are able to pass beyond the regions of the heavens and the earth, then pass. You will not pass except by authority [from Allah].”
(QS. Ar-Rahmaan 55: Verse 33)
Ayat ini berisi seruan kepada jin dan manusia untuk menembus penjuru langit dan bumi, yang pada dasarnya adalah tantangan dari Allah SWT, bahwa hal itu tidak mungkin kecuali dengan kekuatan-Nya.
Artinya:
Makna Penting Ayat 33:
Tantangan dan Keterbatasan Manusia:
Ayat ini menekankan bahwa jin dan manusia tidak memiliki kekuatan untuk menembus batas-batas langit dan bumi atas kehendak sendiri.
Kekuatan dari Allah (Sulthan):
Untuk bisa melakukan hal tersebut, diperlukan kekuatan atau kekuasaan dari Allah SWT.
Relevansi dengan Ilmu Pengetahuan:
Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (yang bisa diartikan sebagai “sulthan” atau kekuatan), manusia bisa menjelajah angkasa, namun hal itu tetap dalam batas yang ditentukan oleh Allah.
Menurut para ahli tafsir ( Mufasir), ayat ini punya dimensi Dunia dan Akhirat.
Tafsir Ibnu Katsir untuk Surat Ar-Rahman, Surat No.55, ayat 33 menyatakan bahwa jin dan manusia tidak akan mampu melarikan diri dari kekuasaan dan hukum Allah, bahkan dengan kekuatan atau teknologi apa pun, baik saat di dunia maupun pada hari kiamat di Yaumul Mahsyar.
Ayat ini menegaskan bahwa manusia akan selalu berada di bawah cakupan takdir dan hukum Allah yang tidak dapat dilewati kecuali dengan kekuatan yang diizinkan oleh-Nya.
Penjelasan Lebih Lanjut dari Tafsir Ibnu Katsir.
Ketidakmampuan Melarikan Diri:
Ayat ini memberitahukan bahwa manusia dan jin tidak akan mampu keluar dari wilayah kekuasaan Allah. Tidak ada tempat di langit dan bumi yang dapat mereka tuju untuk menghindari hukum dan takdir-Nya.
Kekuasaan Allah yang Meliputi:
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah senantiasa meliputi makhluk-Nya ke mana pun mereka pergi, dan tidak akan ada yang mampu melepaskan diri dari hukum-Nya atau membatalkan hukum-Nya.
Keadaan di Yaumul Mahsyar:
Ayat ini juga menggambarkan situasi pada Hari Pengumpulan (Yaumul Mahsyar), di mana tidak ada yang bisa melarikan diri dari pengawasan dan kekuasaan Allah. Malaikat akan mengelilingi makhluk-Nya, dan tidak seorang pun yang bisa pergi kecuali dengan sulthan (kekuatan) yang diizinkan.
Makna Sulthan:
Kata sulthan di akhir ayat diartikan sebagai kekuatan. Dalam konteks teknologi modern, sulthan dapat diartikan sebagai teknologi yang memungkinkan manusia untuk menjelajahi luar angkasa dan memahami alam semesta, namun tetap berada di bawah batasan yang ditetapkan oleh Allah.
Secara ringkas, Tafsir Ibnu Katsir mengenai Surat Ar-Rahman ayat 33 adalah pengingat bahwa kekuasaan Allah tidak terbatas, dan makhluk-Nya, baik jin maupun manusia, tidak dapat lari dari ketetapan-Nya.
Surat 55 Ayat 33 ini juga dimaknai sebagai seruan bagi kaum muslimin untuk mempelajari dan mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi yg berhubungan dg Jagat Raya, mis :
Astronomi, Tehnologi Pesawat Angkasa Luar, dst.
Salah satu ilmuwan Muslim yg pernah mempelajari dan mengembangkan Astronomi yaitu : Abu Abdullah Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi dg karya ilmiahnya:
Al Jabar Wa Al Muqabalah.
Dikenal sebagai Bapak Aljabar ( Salah satu cabang dari Matematika).
Meskipun karya ini lebih dikenal sebagai Kontribusi di bidang Matematika, Al Khawarizmi juga memiliki Kontribusi Signifikan dlm bidang Astronomi, seperti menyusun Tabel Astronomi dan memperbaiki Peta Dunia.
Astronomi adalah ilmu yang mempelajari tentang Alam Semesta, termasuk semua objek dan fenomena yang terjadi di luarnya, seperti bintang, planet, galaksi, nebula, serta proses-proses yang terjadi di ruang angkasa.
Ilmu ini menggunakan prinsip-prinsip fisika dan matematika untuk mengamati, menganalisis, memodelkan, dan menjelaskan asal-usul serta evolusi benda-benda langit tersebut.
Objek dan Fenomena yang Dipelajari:
Benda-benda langit:
Matahari, bulan, bintang, planet, komet, asteroid, galaksi, dan objek langit lainnya.
Fenomena alam semesta:
Aurora, meteor, kelahiran dan kematian bintang, pembentukan galaksi, serta fenomena kosmik berskala besar seperti materi gelap dan energi gelap.
Tujuan Astronomi:
Memahami asal-usul, evolusi, dan sifat fisik serta kimiawi benda-benda langit.
Menjelaskan pergerakan dan perilaku objek-objek di alam semesta.
Mengembangkan model dan teori untuk menggambarkan struktur dan dinamika alam semesta.
Perbedaan dengan Astrologi:
Astronomi adalah ilmu pengetahuan ilmiah yang didasarkan pada pengamatan, data, dan metode ilmiah.
Astrologi adalah sistem kepercayaan yang mengklaim adanya korelasi antara posisi benda langit dengan nasib manusia, dan tidak menggunakan metode ilmiah.
Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan kita.
Jazakallahu khairaan katsiraa.
جزاك اللهُ خيراكثرا
Kaligondo, Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur.
Rabu Legi, 3 Rabiul Awwal 1447H
Wednesday, August 27, 2025.
Pukul 06.15
Admin: Kominfo DDII Jatim
