Oleh Nur Adi Septanto, pengurus Dewan Da’wah Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Ada satu jalan yang tidak pernah selesai untuk saya renungi: jalan dakwah. Ia bukan sekadar tugas tambahan dalam kehidupan seorang Muslim, melainkan sebuah pilihan aktif yang menuntut keberanian, kesabaran, dan kesetiaan. Jalan ini tidak selalu mulus, namun justru di situlah letak kemuliaannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali ‘Imran 104). Ayat ini selalu membuat saya bertanya: apakah saya sudah menjadi bagian dari golongan yang beruntung itu? Atau justru masih sibuk dengan urusan dunia yang tak ada habisnya?
Kenangan Kuat
Saya teringat masa-masa ketika menjadi santri di Pesantren PERSIS Bangil, akhir 1990-an. Di sana, saya berjumpa dengan para aktivis dakwah dari Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII). Mereka bukan orang-orang yang hidup bergelimang fasilitas. Mereka sederhana, bahkan kadang serba terbatas. Namun justru di balik kesederhanaan itu, saya melihat keteguhan dan keikhlasan yang sulit dilupakan.
Saya masih ingat bagaimana dalam sebuah jamuan makan, tidak ada perbedaan hidangan antara tokoh senior dan para da’i muda. Semuanya duduk bersahaja, menikmati hidangan yang sederhana. Dari sana saya belajar, dakwah bukanlah panggung untuk tampil menonjol, melainkan ladang keikhlasan di mana semua pejuang sejajar di hadapan Allah.
Menggenggam Amanah
Seiring waktu, saya semakin menyadari bahwa dakwah bukan sekadar ceramah di atas mimbar. Rasulullah Saw pernah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Bukhari). Pesan ini seakan meneguhkan bahwa dakwah harus berangkat dari ilmu.
Seorang da’i yang tulus akan selalu belajar, memperbaiki diri, dan tidak pernah merasa cukup. Hal ini, karena dakwah yang sejati adalah cermin dari kehidupan itu sendiri. Dakwah bukan hanya kata-kata, tetapi juga sikap dan keteladanan.
Kadang saya merasa berat. Tantangan zaman ini begitu besar: Moral yang merosot, keluarga yang rapuh, dan arus liberalisme yang mengikis iman. Saya bersyukur, setiap kali hati mulai lelah saya kembali teringat pada sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang mengerjakannya” (HR Muslim).
Hadits di atas seperti memberi energi baru. Bahwa setiap nasihat kecil, setiap langkah mengajak kebaikan, setiap usaha menguatkan orang lain—semuanya bernilai besar di sisi Allah.
Bersama Dakwah
Indonesia, negeri yang kita cintai ini, tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik atau kemajuan ekonomi. Lebih dari itu, ia membutuhkan kekuatan spiritual dan moral. Apa arti jalan tol, gedung megah, atau teknologi canggih jika masyarakatnya kehilangan arah hidup?
Di sinilah peran da’i menjadi sangat penting. Mereka tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga menjaga fondasi bangsa: aqidah, akhlak, dan persatuan.
Dakwah adalah cahaya. Dengan demikian, dakwah dapat menyelamatkan negeri dari kegelapan krisis nilai.
Ketika merenungi perjalanan dakwah, saya sadar: Ini bukan jalan mudah. Namun, jalan inilah yang penuh berkah. Jalan di mana setiap tetes keringat dan setiap kata yang tulus akan tercatat sebagai amal yang tidak pernah sia-sia.
Terkait, doa yang selalu terucap adalah yang terinspirasi oleh QS Ali ‘Imran 104, yaitu: “Yaa Rabb, masukkanlah kami ke dalam golongan yang Engkau sebut sebagai orang-orang yang beruntung”.
Terakhir, dakwah adalah pilihan sadar, pilihan aktif. Saat kita memilihnya sebagai jalan hidup, berarti harus siap mengorbankan apa pun demi sesuatu yang lebih agung: Keselamatan umat dan negeri. []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
