Oleh Kemas Adil Mastjik (Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kader Ulama Dewan Dakwah Jatim)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Ada ucapan Pak Natsir yang terlupakan, bahwa “Dakwah tak kenal henti”. Kalimat itu sambungan dari kalimat sebelumnya, “Bagi saya, untuk diam itu yang tidak bisa. Sekali lagi, bagi saya, untuk diam itu yang tidak bisa”.
Rasanya ingin terus mengulang kalimat ini, kalimat pendek tapi bermakna amat dalam. Ini, sangat menginspirasi: “Bagi saya untuk diam itu yang tidak bisa”.
Jika boleh dibahasakan dengan kalimat lain, jangan diam. Kaitannya dengan dakwah, “Jangan berhenti berdakwah”. Jangan berhenti memberi nasihat. Jangan berhenti beramar ma’ruf nahi mungkar. Jangan diam terhadap kemungkaran. Jangan diam terhadap kezaliman (Wildan Hasan, di buku “Menafsir Natsir”).
Oleh karena tugas hidup adalah beribadah, menghamba kepada Allah, maka beribadah tidak kenal kata henti. Menghamba kepada-Nya berlaku di sepanjang usia.
Spirit kalimat itulah yang menjadi salah satu alasan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) didirikan. Dewan Da’wah sebagai salah satu lembaga dakwah terkemuka, secara rutin mendukung program dakwah di berbagai bidang seperti pendidikan, dakwah pedalaman, pemberdayaan umat, agenda kemanusiaan dan kesehatan. Semua itu, menunjukkan bahwa da’i harus berada di semua sisi kehidupan.
Selaras Fitrah
Da’i berperan penting dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat luas, baik secara lisan maupun melalui tindakan sosial (bil hal). Da’i memberikan pendidikan dan pembinaan kepada umat, yang dengan itu masyarakat dapat memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Selain aspek spiritual, dakwah juga berperan dalam pemberdayaan umat, mencakup aspek ekonomi, sosial, dan kemanusiaan. Dengan luasnya wilayah Indonesia, kebutuhan akan da’i sangat terasa di berbagai pelosok terutama di daerah pedalaman dan terpencil yang membutuhkan akses dakwah. DDII menjalankan berbagai program yang membutuhkan kehadiran da’i, seperti beasiswa pendidikan untuk generasi penerus, dakwah di daerah pedalaman, dan program pemberdayaan umat yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Allah berfirman dalam Surat Ar Rum 30. “Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
Qur’an adalah himpunan dari Wahyu yang merupakan tuntunan yang dihajatkan oleh fitrah manusia itu. Tugas risalah para Rasul dan kemudian tugas dakwah para muballigh adalah mempertemukan fitrah manusia dengan wahyu ilahi.
Kewajiban Berdakwah
Dakwah adalah tanggung jawab setiap Muslim, bukan hanya para ustadz atau ulama. Di era modern, medan dakwah tak lagi terbatas di masjid atau majelis, tapi juga merambah ke ruang-ruang profesional: kantor, kampus, Rumah Sakit, pengadilan, bahkan dunia bisnis. Oleh karena itu, sangat penting melahirkan profesional yang juga seorang da’i yakni orang-orang yang ahli di bidangnya namun tetap membawa misi dakwah dalam kiprah mereka.
Umat Islam membutuhkan lebih banyak profesional yang juga da’i, orang-orang yang bisa berdiri di garis depan peradaban dengan membawa cahaya Islam. Dakwah bukan hanya tentang ceramah, tapi juga tentang bagaimana kita menjadi jawaban dari berbagai persoalan umat melalui keahlian dan integritas kita.
Dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang keinginannya hanya kehidupan akhirat maka Allah akan memberi rasa cukup dalam hatinya, menyatukan urusannya yang berserakan dan dunia datang kepadanya tanpa dia cari, dan barangsiapa yang keinginannya hanya kehidupan dunia maka Allah akan jadikan kemiskinan selalu membayang-bayangi di antara kedua matanya, menceraiberaikan urusannya dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sekedar apa yang telah ditentukan baginya” (HR at-Tirmidzi).
Profesional yang Da’i
Siapa profesional yang da’i? Mereka, yang punya kompetensi dalam bidang pekerjaannya dan menjadikan keahliannya sebagai sarana dakwah yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran melalui teladan, etika kerja, dan pelayanan. Mereka tidak hanya ahli di bidang teknis, tetapi juga menjadi figur teladan moral di lingkungannya.
Intinya, mereka memiliki keahlian di bidang profesinya—seperti dokter, guru, pengacara, insinyur, pebisnis, tenaga kesehatan, atau pekerja administrasi—dan memandang profesinya sebagai amanah dan ladang dakwah. Mereka menjalankan pekerjaannya dengan kompetensi tinggi, integritas moral, dan akhlak islami, sehingga setiap interaksi kerja menjadi sarana untuk menegakkan nilai Islam seperti menunjukkan kejujuran, disiplin, dan keadilan dalam setiap tugas. Juga, memberi teladan melalui etos kerja, tutur kata yang santun, dan pelayanan yang penuh empati. Pun, mengajak dengan hikmah yaitu menyampaikan pesan kebaikan secara halus dan tepat sasaran kepada kolega, klien, atau masyarakat.
Mereka, menjadikan pekerjaan sebagai ibadah. Mereka tidak sekadar mencari nafkah, tetapi mengharap ridha Allah. Mereka berkontribusi bagi umat dengan menggunakan ilmunya untuk memecahkan masalah masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Profesional yang da’i adalah individu yang:
• Kompeten dalam bidang keahliannya,
• Menjunjung tinggi etika dan integritas Islam,
• Menjadikan pekerjaannya sebagai ladang amal dan dakwah,
• Menginspirasi lingkungan sekitar dengan nilai-nilai Islam.
• Mereka tidak harus berdakwah lewat mimbar, melainkan lewat keteladanan, kejujuran, pelayanan terbaik, dan kontribusi nyata.
Tanpa Mimbar
Kita bisa berdakwah tanpa harus berbicara di depan banyak orang. Senyum tulus kepada rekan kerja, kejujuran dalam transaksi, kesabaran menghadapi pelanggan yang marah, atau menepati janji dalam pekerjaan—semuanya adalah dakwah melalui teladan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya kalian tidak akan mampu memuaskan semua orang dengan harta kalian, maka puaskanlah mereka dengan akhlak kalian yang baik” (HR Al-Baihaqi).
Peran dakwah melalui berbagai profesi, misalnya;
• Sarjana Hukum dan Pengacara Muslim. Mereka bisa menjadi garda terdepan dalam menegakkan keadilan. Mereka bisa berdakwah dengan memperjuangkan kebenaran, menolak suap, serta membela yang tertindas sesuai prinsip Islam.
• Dokter dan Tenaga Kesehatan. Mereka hadir dalam pelayanan yang manusiawi, mengingatkan pasien pada sabar dan syukur, serta menjadi contoh akhlak islami di tengah tekanan dunia medis.
• Guru dan Dosen. Mereka mendidik bukan hanya ilmu, tapi juga karakter. Dengan membimbing generasi muda penuh empati, nilai kejujuran, dan semangat ibadah, mereka adalah da’i di kelas-kelas modern.
• Pebisnis Muslim. Mereka menjalankan bisnis dengan jujur, adil, dan amanah, serta peduli sosial. Mereka berdakwah lewat transaksi halal dan tanggung jawab sosial.
• Tenaga Administrasi dan Profesional Kantoran. Mereka melayani dengan baik, disiplin waktu, tidak terlibat korupsi, dan menjadi contoh etos kerja islami. Semua ini, juga merupakan bentuk dakwah bil hal yang sangat dibutuhkan.
Menjadi profesional yang da’i berarti menggabungkan keahlian dunia dengan misi akhirat. Kita bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga untuk memberi manfaat sebesar-besarnya bagi manusia dan menjadi teladan yang menginspirasi. Dengan demikian, profesi bukan lagi sekadar karir, melainkan ladang pahala yang terus mengalir.
Mari jadikan profesi kita sebagai jalan menuju ridho Allah,b bukan hanya untuk mencari nafkah. Mari menginspirasi sekitar kita dan mengubah dunia melalui nilai-nilai Islam. Selalu amalkanlah pedoman mulia ini: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusi
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
