PESAN M NATSIR TENTANG DISIPLIN WAKTU


Oleh: Fatih Madini (Alumni STID M Natsir)

Dewandakwahjatim.com, Depok – Mohammad Natsir dalam bukunya “Pesan Islam terhadap Orang Modern”, mengimbau, bahwa semestinya, karena Islamnya, orang Islam lebih bisa mempunyai kejauhan visi dan misi serta kedisiplinan waktu.
“Harusnya, orang Islam lebih lihai dalam “menghargai ketepatan waktu, teratur menurut waktu, dan terperinci dalam menyusun urusan- urusannya”. Sebab Islam sangat menekankan hal itu (QS. Al-Isra’: 12), bahkan jauh lebih baik dan bermakna,” kata M Natsir.


Menurut M Natsir, dalam ajaran-ajaran Islam, kesementaraan kehidupan di dunia ini telah membawa kepada penataan waktu bagi manusia sedemikian rupa sehingga dapat dimanfaatkan sepenuhnya, sebelum datangnya suatu hari ‘ketika bumi diguncang-guncang pada sumbunya, dan bumi itu melemparkan bebannya.”
Begitulah dorongan Islam soal keimanan akan hari akhir akan menuntun umat Islam untuk tidak hanya berpegang kepada prinsip bahwa “waktu adalah uang”, melainkan kepada suatu pandangan bahwa “waktu itu adalah: Keyakinan, perbuatan yang benar dan saling memperingatkan satu dengan yang lain kepada yang haq dan kesabaran” (QS. Al-‘Ashr: 1- 3).


Pesan M Natsir tentang kedisiplinan waktu ini pun banyak ditulis oleh para ulama. Jangan sampai seorang muslim menyia-nyiakan waktu yang begitu berharga. Dalam kitabnya, Qiimatuz Zaman ‘Indal Ulama’, Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah menuturkan banyak sekali kisah ulama yang begitu haus akan ilmu, yang sangat menghargai waktu dan usia demi ilmu.


Suatu ketika Ibrahim ibn Jarrah menjenguk Abu Yusuf yang sedang terbaring lemah karena sakit. Tiba-tiba Abu Yusuf bertanya kepada Ibrahim: “Lebih utama mana, lempar jumrah sambil berkendara atau sambil berjalan?” “Aku tidak tahu,” ucap Ibrahim. Ia pun menjawab pertanyaannya sendiri: “Kalau sambil berdoa, lebih utama yang berjalan.” Selang beberapa saat ia keluar dari rumahnya, Ibrahim mendengar bahwa Abu Yusuf telah wafat.


Ahli fikih Isham bin Yusuf dikisahkan pernah membeli pena seharga satu dinar agar dapat segera mencatat apa yang didengarnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh guru Imam Bukhari, Syaikh Muhammad bin Salam. Ketika tengah sibuk menulis hadits yang didiktekan, penanya patah. Ia pun berseru kepada kawan-kawannya, siapa pun yang mau menjual penanya, akan langsung ia bayar 1 dinar. Satu dinar setara dengan 4, 25 gram emas, sekitar 8-9 juta rupiah. Harga yang begitu fantastis untuk satu buah pena.
Anak seorang Ahli Hadits bernama Abu Hatim Ar-Razi mengatakan, “Kapan pun ayahku makan, berjalan, pergi buang hajat di kamar mandi, sampai masuk ke rumah untuk mencari sesuatu, aku selalu memperdengarkan bacaanku kepadanya.”


Semasa pembelajarannya, Imam Nawawi konsisten belajar 12 pelajaran setiap hari, meliputi ilmu fiqih, ushul fiqih, hadits, bahasa, dan ushuluddin. Ia mengatakan, “Aku memberi catatan pada semua pelajaran itu. Aku mencatat persoalan-persoalan yang belum terjawab, ungkapan-ungkapan yang belum jelas, dan bahasa-bahasa yang belum tervalidasi.”
“Selama dua tahun, aku hampir tidak pernah membaringkan tubuhku,” ungkapnya juga.


Dikisahkan, bahwa Ibn Rusyd menghabiskan hidupnya untuk mengkaji ilmu kecuali dua hari: ketika ayahnya wafat dan ketika ia menikah. Ibnu Taymiyah, ketika sakit parah di bawah pengawasan dokter, tetap saja sibuk belajar karena merasa bahagia dan tenang dengan ilmu.


Ada ulama yang mempunyai kebiasaan, setiap kali berjalan, selalu fokus membaca buku, sampai-sampai tidak jarang ia jatuh karena tersandung. Ada ulama yang tetap fokus menulis ketika sedang berada di atas hewan tunggangannya sampai menjadi sebuah buku. Ada ulama yang ketika sedang mandi, rela keluar sejenak untuk menulis ilmu yang baru saja diperoleh usai berpikir, sebelum luput dari ingatannya.


Dalam kitab Ta’lim Muta’allim, Imam al-Zarnuji menuturkan kisah tentang Muhammad ibn Hasan yang pernah dimimpikan seseorang. Orang itu bertanya dalam mimpinya: “Apa yang sedang anda lakukan ketika ruh anda hendak dicabut?” Muhammad menjawab, “ketika itu aku sibuk memikirkan satu permasalahan fiqih, lalu tanpa sadar ruhku tercabut.”


Raja Ali Haji dalam “Gurindam 12”-nya menyebut bahwa masa muda adalah masa di mana manusia menjadi sorotan utama setan, sebagai tunggangannya. “Kebanyakan orang yang muda-muda, di situlah setan tempat berkuda,” tuturnya. Maka baginya, manusia yang terlalu lama berbuat maksiat dan sia-sia padahal ia tahu, “bukan manusia ia itulah setan.”
Ia pun mengingatkan kepada anak-anak muda, “Jika hendak mengenal orang berilmu, bertanya dan balajar tiadalah jemu… Jika hendak mengenal orang yang berbahagia, sangat memeliharakan yang sia-sia.” Hal ini yang di mata Nabi Muhammad menjadi salah satu kriteria ideal orang Islam: “Di antara tanda keislaman seseorang adalah ia meninggalkan yang tidak bermanfaat baginya (laa ya’niihi).”


Imam Syafi’i katakan, “al-waqtu kas sayf, in lam taqta’hu, qatha’aka,” waktu ibarat pedang yang akan menebasmu kapan pun kamu tidak mampu menebasnya. Karenanya Ibn Abi Jamrah menegaskan, “tebaslah waktu dengan amal supaya ia tidak membunuhmu dengan sikap senang menunda-nunda (taswif)”.


Demikian petuah dan kisah teladan para tokoh dan ulama kita tentang pentignya berdisiplin soal waktu dan menggunakannya dengan semaksimal mungkin untuk aktivitas keilmuan dan aktivitas ibadah lainnya. Semoga Allah menolong kita semua. Amin. (Depok, 15 Juni 2025).

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor:;Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *