Sehat, Waktu, dan Lubang Api: Renungan tentang Dua Nikmat yang Terlupakan

Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

Hadits ini seperti tamparan lembut, menyadarkan bahwa sehat dan waktu luang bukan sekadar fasilitas hidup, melainkan amanah dan peluang.

Lihatlah kenyataan: di waktu sehat, manusia sibuk mengejar harta, berlari dari pagi hingga malam seakan dunia ini panggung abadi. Tapi ketika sakit datang, harta habis demi secuil harapan sehat yang dulu diremehkan.

Inilah ironi manusia:

Sehat digunakan untuk menumpuk, bukan mendekat.

Waktu digunakan untuk lalai, bukan mengingat.

Padahal Allah sudah mengingatkan dengan sumpah yang mengguncang jiwa:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

(“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”) — QS. Al-‘Ashr [103]: 1–3.

Masa yang hilang adalah modal yang tak bisa kembali. Sehat yang terbuang adalah kekuatan yang tak bisa diputar ulang. Siapa yang tak mengisi waktu dengan iman, amal shalih, dan kesabaran—Allah sendiri yang memastikan: dia dalam kerugian.

Bayangkan, bila di bumi ini ada sebuah lubang kecil seperti sumur. Dari luar tampak biasa, tak mengerikan. Tapi begitu dilihat ke dalam, ternyata ia menganga luas, dalam, dan penuh api membara, dengan kobaran yang tak pernah padam.
Sanggupkah engkau dilemparkan ke dalamnya?

Itulah neraka. Dan celakanya, jalan menuju ke sana bukan hanya dosa besar, tapi juga kelalaian kecil yang terus dibiarkan. Menyia-nyiakan sehat, menyia-nyiakan waktu, hingga tiba-tiba ajal datang, sementara ayat Allah sudah mengingatkan:

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ ۝ لَعَلِّىٓ أَعْمَلُ صَـٰلِحًۭا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ
“Hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku bisa berbuat amal shalih terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’” (QS. Al-Mu’minun [23]: 99–100).

Namun, penyesalan itu datang terlambat. Waktu sudah habis, sehat sudah hilang, dan lubang api yang dulu hanya kita bayangkan bisa jadi kenyataan.

Sehat itu cahaya, waktu itu ruang. Cahaya tanpa ruang hanyalah kilat sekejap, ruang tanpa cahaya hanyalah gelap gulita. Maka gunakan keduanya untuk menerangi jalan menuju surga, sebelum cahaya itu redup, sebelum ruang itu tertutup selamanya.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *