Oleh M. Anwar Djaelani, pengurus Dewan Da’wah Jatim dan penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 12 judul lainnya
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini penting. Hal ini, karena Hamka adalah Ulama Besar sekaligus pengarang terkemuka. Ternyata, karangan terakhir Hamka yang wafat pada 22 Ramadhan 1981 berjudul 17 Ramadhan. Ini menarik!
Naskah itu menjadi ”abadi”. Hal ini, karena yang semula dimuat di Majalah Panji Masyarakat, kemudian menjadi bagian dari buku berjudul Iman dan Amal Shaleh (1982: 139-144).
Tentu karangan itu, 17 Ramadhan, menarik. Hal ini, karena: Pertama, terlihat sampai di dekat hari wafatnya, Hamka masih aktif mengarang. Sementara, mengarang adalah satu hal yang telah puluhan tahun menjadi kebiasaannya. Kedua, tampak temanya aktual. Bukankah, 17 Ramadhan adalah salah satu dari berbagai kemuliaan di Bukan Suci? Sementara, Hamka wafat pada 22 Ramadhan. Ketiga, materi karangan yaitu umat Islam harus aktif membaca dan menulis, sangat pokok dan penting. Ini berdasarkan QS Al-Alaq 1-5, lima ayat pertama yang Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad Saw pada 17 Ramadhan.
Hingga Akhir
Sampai di dekat hari wafatnya, Hamka masih aktif mengarang. Aktivitas ini, sudah puluhan tahun telah menjadi kebiasaannya. Di dalam hal ini, antara lain, kita lalu ingat ungkapan masyhur ini: “Siapa saja yang hidup di atas suatu kebiasaan tertentu, dia pun akan diwafatkan di atas kebiasaan tersebut”.
Setiap orang akan wafat sesuai kebiasaannya, tutur Ustadz Adi Hidayat di salah sebuah ceramahnya. Terkait, sang ustadz lalu menyampaikan kisah mengharukan dan baru saja terjadi kala itu. Berikut ini petikannya.
Ketika itu Ustadz Adi Hidayat baru tiba di sebuah masjid (tempat dia akan berceramah) untuk menunaikan shalat subuh. Di pintu masjid, ada yang menyampaikan. Bahwa seorang yang istiqomah menunaikan shalat lima waktu di masjid, terkena serangan jantung.
Orang itu tergeletak di masjid. Lalu, diusahakan pertolongan yang pertama. Namun Allah lebih sayang kepadanya, dia wafat. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Masya Allah, lanjut Adi Hidayat, wafat seperti itu sangat tidak mudah untuk mendapatkannya. Wafat di Rumah Allah dalam keadaan yang terbaik yaitu saat akan menunaikan shalat subuh. Sementara, shalat subuh langsung disaksikan oleh Allah dan seluruh malaikat (https://www.youtube.com/watch?v=Cm_VyCLI0Co).
Hamka hingga menjelang wafat masih bisa menghasilkan karangan. Mengarang, bagi Hamka telah menjadi kebiasaan puluhan tahun. Mengarang, seperti yang dilakukan Hamka sangat positif.
Dengan demikian, kita perlu memiliki kebiasaan yang baik. Kita harus punya keseharian yang Allah suka. Semoga dengan cara itu, kelak Allah wafatkan kita di saat sedang dalam posisi yang Allah ridho.
Aktual, Aktual!
Hamka meninggal pada Jum’at pukul 10.30 WIB, 24 Juli 1981 yang bertepatan dengan tanggal 22 Ramadhan 1401 H. Perhatikan, beberapa hari sebelumnya Hamka menulis karangan berjudul 17 Ramadhan untuk dimuat di Majalah Panji Masyarakat. Majalah yang disebut terakhir ini, telah dipimpin Hamka 24 tahun. Tak ada lagi karangan Hamka setelah yang berjudul 17 Ramadhan itu.
Apa yang ditulis Hamka, dengan judul 17 Ramadhan, mengajarkan kepada kita bahwa hendaknya tema karangan itu aktual. Lewat cara itu, karangan kita akan lebih menarik perhatian. Dengan jalan tersebut, karangan kita akan lebih terasa diperlukan.
Lihatlah rubrik opini di koran (atau media pada umumnya). Pasti yang dimuat adalah yang bertema aktual. Kala menjelang Ramadhan, misalnya, akan muncul opini-opini semisal ”Selamat Datang Ramadhan”. Ketika di sekitar 17 Agustus, misalnya, akan terbit opini-opini seperti ”Sudah Sejatikah Kemerdekaan Kita?” Saat di sekitar 10 November, misalnya, akan hadir opini-opini semisal ”Makna Takbir Bung Tomo di Keseharian Kita”.
Materi Penting
Hendaknya, di samping aktual, karangan kita harus memuat hal yang penting. Hamka, di karangan terakhirnya, menulis sesuatu yang bukan hanya penting. Bahkan, sangat penting.
Sangat relevan dengan judul 17 Ramadhan, Hamka mengingatkan kita dengan keutamaan QS Al-Alaq [96]: 1-5. Pertama, karena lima ayat itu adalah wahyu Allah yang pertama kepada Nabi Muhammad Saw. Kedua, karena isinya berupa titah Allah agar kita menunaikan aktivitas mulia yaitu membaca dan menulis.
Mari baca (terjemah) QS Al-Alaq [96]: 1-5: ”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (tulis-baca), Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.
Inilah, kata Hamka, permulaan petunjuk atau hidayah kepada Muhammad Saw dan kepada seluruh manusia. Pertama, menyuruh membaca. Kedua, menyuruh mempergunakan kalam atau pena buat menulis ilmu pengetahuan. Dengan menulis, masih kata Hamka, masalah yang sebelumnya tidak diketahui kemudian menjadi diketahui. Selanjutnya, terus berkembanglah ilmu pengetahuan.
Hanya Sedikit
Adakah lagi yang Hamka ungkap di karangan terakhirnya? Rupanya, untuk lebih meyakinkan keutamaan aktivitas membaca dan menulis, Hamka lalu memberikan ilustrasi: Jika kita jujur, makin banyak yang kita ilmui justru akan makin terasa bahwa sejatinya ”kita tak tahu”.
Hamka memulai dengan ilustrasi ringan. Masuklah ke salah satu perpustakaan di dunia, misalnya ke perpustakaan besar di Washington DC Amerika Serikat. Di sana akan bertemu tidak kurang dari satu juta buku.
Masuklah ke perpustakaan itu. Mintalah izin untuk melihat buku-buku itu saja dengan tidak usah memegangnya. Maka, diperlukan tidak kurang dari 3 jam hanya semata untuk melihat.
Kalau kiranya bukan hanya melihat dari jauh saja melainkan akan dipegang satu persatu dengan tujuan hendak melihat apa judul buku dan Daftar Isi-nya, untuk satu juta buku, mungkin satu pekan tidak akan selesai. Kemudian, kira-kira berapa lamakah jika kita membaca dan mempelajari satu juta buku?
Gambaran di atas hanya untuk satu perpustakaan saja. Sementara, di dunia, ada berapa perpustakaan seluruhnya? Berapa total waktu yang kita perlukan untuk membaca dan mempelajarinya?
Jangan lupa, gambaran Hamka di atas ditulis pada tahun 1981. Sekarang, puluhan tahun kemudian, tentu berubah jauh kondisinya. Jumlah buku akan sangat berlipat-lipat.
Tak Tahu
Tak berhenti sekadar menyadarkan kita bahwa yang kita baca sedikit. Lebih jauh, Hamka memberikan ilustrasi yang lebih tajam. Bahwa makin hari, kita akan makin sering mengatakan ”Saya tidak tahu”.
Ketika orang bertanya kepada Socrates, bagaimana kesan dia setelah belajar berbagai ilmu pengetahuan? Tokoh Besar itu menjawab dengan tegas, ”Suatu hal yang saya dapat ketahui karena membaca buku-buku, yaitu saya tidak tahu”.
Hal senada, pernah juga dikatakan oleh Imam Syafi’i. ”Tiap-tiap bertambah ilmuku, bertambah pula-lah aku insaf bahwa aku tidak tahu,” kata salah satu Imam Mazhab itu.
Energi Dahsyat
Hamka pun menuntaskan pikirannya. Kata Hamka, wahyu pertama kepada Nabi Muhammad Saw pada 17 Ramadhan menunjukkan betapa pentingnya aktivitas membaca dan menulis. Dengan itu, dimulailah perubahan besar dalam sejarah Nabi Saw dan sejarah hidup manusia.
Mari, ajak Hamka, perkuat jiwa kita. Jadilah orang bertakwa yang menjadikan Al-Qur’an (termasuk dan terutama lima ayat pertamanya) sebagai Petunjuk Utama. Yakinilah, kata Hamka dengan mengutip Al-Qur’an, wal-‘āqibatu lil-muttaqīn (dan kesudahan-yang baik-itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa).
Paragraf di atas menjadi penutup karangan Hamka yang terakhir. Sebuah karangan yang temanya aktual (saat ditulis ketika itu). Sebuah tulisan yang sangat berharga, kapan pun. Sebuah kajian yang bisa menggerakkan siapapun untuk aktif membaca dan menulis, di manapun. []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
