Indonesia Maju Tanpa Lima Penyakit di 80 Tahun Merdeka

Oleh Adil Mastjik (Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kader Ulama Dewan Da’wah Jatim)

Dewandakwahjatim.com, Tangerang – Sunan Ampel mempunyai ajaran yang terkenal, yaitu Molimo. Molimo merupakan gabungan dari kata “Mo” yang berarti tidak mau, dan “limo” yang berarti lima perkara. Maka, Molimo adalah tidak mau melakukan lima perkara yang dilarang.

Lima perkara tersebut adalah “Emoh Main” (tidak mau berjudi), “Emoh Ngumbi” (tidak mau minum yang memabukkan), dan “Emoh Madat” (tidak mau mengisap candu atau ganja). Juga, “Emoh Maling” (tidak mau mencuri atau kolusi), dan “Emoh Madon” (tidak mau berzina).

Penyakit Sosial

Indonesia merdeka telah delapan puluh tahun. Dalam perjalanan panjang ini, bangsa kita telah menorehkan banyak kemajuan dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Namun, satu tantangan besar yang masih menghambat laju peradaban adalah penyakit sosial akibat kemaksiatan.

Masyarakat Jawa menyebutnya dengan istilah ”Molimo” (lima maksiat besar). Jika bangsa ini ingin benar-benar maju, ”Molimo” harus menjadi musuh bersama.

”Molimo” merujuk pada lima perbuatan maksiat yang sangat merusak:

  • Main → Judi dan permainan haram, kini hadir dalam bentuk daring (online).
  • Madat → Penyalahgunaan narkoba, minuman keras, dan zat adiktif.
  • Maling → Pencurian, perampokan, termasuk korupsi.
  • Madon → Perzinaan, seks bebas, perilaku seksual menyimpang.
  • Minum → Khamar, alkohol, minuman memabukkan.

Kelima hal itu terbukti menjadi biang kerusakan moral. Keluarga menjadi hancur. Generasi muda lemah. Ekonomi bangsa bobrok.

Syarat Pokok

Jika bangsa Indonesia ingin maju setelah 80 tahun merdeka, maka ”Molimo” harus diberantas. Gambarannya sebagai berikut:

  • Tanpa judi → masyarakat fokus bekerja dan produktif.
  • Tanpa narkoba dan mabuk → generasi muda sehat dan kreatif.
  • Tanpa pencurian dan korupsi → ekonomi adil, pembangunan merata.
  • Tanpa zina → keluarga sakinah, generasi berakhlak mulia.
  • Tanpa minuman keras → lingkungan aman, jauh dari kriminalitas.

Untuk itu, beriman dan bertakwalah! Dengan itu insya Allah negeri akan makmur. Perhatilan QS Al-A’raf 96 ini: “Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”

Kita dan Ulama

Sebagai mayoritas, umat Islam memiliki tanggung jawab besar. Bangunlah pandangan bahwa maksiat tidak boleh dilonggarkan. Dakwah dan pendidikan untuk menyadarkan generasi muda harus dikuatkan. Keteladanan pemimpin adalah wajib, yang dengan ini tidak memberi ruang pada korupsi dan maksiat.

Teruslah hadapi berbagai tantangan dan ujian. Terus perjuangkan agar perzinahan dimasukkan ke dalam kategori kejahatan sebagaimana disebutkan di dalam Alquran. Teruslah maju bersuara, meski elit bangsa banyak yang tetap memandang bahwa perzinahan sebagai hal yang boleh-boleh saja selama dilakukan suka sama suka.

Tetap bertahanlah dalam keyakinan Islam, meskipun negara belum secara resmi melarang dan menjadikan seluruh bentuk perzinahan sebagai suatu tindakan kriminal. Tetap bertahanlah dalam iman dan takwa, meskipun negara masih mengizinkan berdirinya pabrik-pabrik minuman keras. Hal ini, karena Islam menyatakan bahwa minuman keras haram hukumnya.

Sebagai umat Islam, agenda perjuangan terpenting adalah menyiapkan sumber daya umat yang unggul, yang mampu menjadi pemimpin teladan di semua bidang kehidupan. Unggul, bukan hanya dalam bidang politik tetapi juga dalam bidang keilmuan.

Hal yang perlu mendapatkan perhatian umat Islam, adalah apa yang pernah disampaikan Imam Ghazali. Dalam Ihya Ulumiddin-nya, Imam Ghzali bilang bahwa masyarakat rusak karena penguasa rusak. Adapun penguasa rusak karena ulama rusak dan ulama rusak karena cinta harta dan kedudukan.

Artinya, mulailah perbaikan bangsa dengan membenahi ”performa” ulama. Jika hal itu sudah, mudah menjalin kolaborasi umat–negara. Arahnya, menjadikan nilai Islam sebagai energi peradaban dan bukan sekadar identitas saja.

Songsong Esok

Mari kita bayangkan: Pemuda Indonesia bebas narkoba, rajin menuntut ilmu, kreatif membangun bangsa.

Ayo kita bayangkan: Pemerintah bersih dari korupsi, pemimpin amanah dan bijaksana.

Harus kita inginkan: Keluarga Indonesia terjaga dari zina, harmonis, penuh cinta kasih.

Wajib kita impikan: Ekonomi tumbuh dengan kerja keras dan keberkahan, bukan lewat judi jalan haram lainnya.

Meski menjadi cita-cita kita: Negeri aman, damai, penuh keberkahan. Itulah wajah Indonesia Emas yang kita cita-citakan.

Delapan puluh tahun Indonesia merdeka seharusnya menjadi momentum besar untuk menegaskan: Indonesia tidak akan maju jika ”Molimo” masih dibiarkan hidup. Bangsa ini akan jaya jika menjadikan iman, ilmu, dan akhlak mulia sebagai fondasi pembangunan. Indonesia maju pasca-80 tahun merdeka hanya akan terwujud jika bangsa ini mau meninggalkan ”Molimo”.

Nasihat Kuat

Ada nasihat sangat berharga dari A.Hassan (1887-1958). Nasihat itu ada di buku karyanya, yang berjudul Hai anak dan cucuku. Berikut ini nasihat dari sang Guru Utama Persis tersebut:

Sekiranya tanah airmu di bawah pengaruh atau penjajahan orang, maka hendaklah pula engkau turut memikirkan dan bekerja supaya jadi bangsa yang merdeka. Buat anak Islam, kewajibannya bukan sampai di situ saja, bahkan wajib juga ia berikhtiar supaya tanah airnya berdasar Islam dan menjalankan hukum hukum Islam, dan supaya tanah airnya bersih dari zina, judi, peminum arak, pencurian dan lain lain maksiat yang sudah nyata merusak kesehatan dan akhlak dalam pergaulan.

Sungguh, nasihat A.Hassan di atas relevan dan terasa aktual. Mari, berbuat untuk negeri. Jauhi ”Molimo”. Wallahu a’lamu.

Tangerang 17 Agustus 2025

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *