Oleh Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatum
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Hidup ini bukan sekadar lewat, numpang makan, kerja, lalu mati. Hidup ini arena pilihan. Allah sudah kasih manusia dua jalan: jalan kebenaran dan jalan kesesatan. Tinggal manusia sendiri yang mau pilih jalannya.
Allah berfirman:
وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebaikan dan keburukan).” (QS. Al-Balad: 10)
Jadi, manusia itu bukan robot, tapi makhluk berakal yang dikasih kebebasan memilih. Mau jadi mukmin yang lurus di atas tauhid? Bisa. Mau jadi orang yang ibadahnya penuh riya’ dan haus validasi? Silakan. Mau jadi orang munafik yang main dua kaki? Juga bisa. Bahkan kalau mau jadi musyrik atau kafir, Allah juga kasih ruang.
Tapi… ingat baik-baik: setiap pilihan ada konsekuensinya.
- Kalau jadi Mukmin yang Shalih di atas Tauhid
Inilah pilihan terbaik. Tauhid itu pondasi. Amal shalih yang ikhlas akan jadi cahaya di dunia, kubur, dan akhirat.
Allah berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Barangsiapa beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, sedang dia beriman, maka sungguh Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)
- Kalau ibadah tapi di atas Riya’ & Validasi
Riya’ itu ibadah yang dipamerin buat dapet like dan respect orang. Bukan Allah yang jadi tujuan, tapi manusia. Rasulullah ﷺ bilang:
أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ، الرِّيَاءُ
“Yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’.” (HR. Ahmad)
Artinya apa? Semua amal yang riya’ bakal jadi debu yang berterbangan, gak ada nilainya di hadapan Allah (QS. Al-Furqan: 23).
- Kalau jadi Munafik
Munafik itu hidupnya capek. Luar terlihat Islam, tapi dalamnya benci Islam. Mereka pura-pura beriman, padahal hatinya kosong. Allah kasih warning keras:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ
“Sesungguhnya orang-orang munafik (akan ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.” (QS. An-Nisa: 145)
- Kalau jadi Musyrik atau Kafir
Inilah pilihan paling buruk. Allah sudah kasih hidayah, kasih petunjuk, kasih bukti kebenaran, tapi ditolak.
Allah tegas bilang:
إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ
“Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya, dan tempat kembalinya adalah neraka.” (QS. Al-Maidah: 72)
Refleksi: Jalan Mana yang Kita Pilih?
Hidup ini singkat. Kita boleh bebas milih, tapi bukan bebas dari akibat. Setiap langkah, setiap keputusan, semuanya akan dihisab. Jangan sampai kita salah jalan cuma gara-gara ngejar validasi manusia, padahal Allah yang punya surga dan neraka.
Ingatlah:
Tauhid itu cahaya.
Riya’ itu racun.
Nifaq itu gelap.
Syirik itu jurang tanpa dasar.
Allah sudah jelas kasih opsi. Tugas kita tinggal milih jalan yang bener.
فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ
“Maka barangsiapa yang mau (beriman), silakan beriman; dan barangsiapa yang mau (kafir), silakan kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim neraka…” (QS. Al-Kahfi: 29)
Closing:
Hidup itu pilihan. Tapi jangan salah pilih. Karena sekali kita melangkah, konsekuensinya kekal: surga atau neraka. Jadi… lo pilih yang mana?
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
