Kesombongan Tersembunyi di Balik Dakwah: Refleksi untuk Para Da’i

Oleh M. Najib Ali Azizi
(Mahasiswa Akademi Dakwah Indonesia Dewan Dakwah Jatim 2024/2025)

Dewandakwahjatim.com, Mojokerto – Dalam dunia dakwah dan aktivitas keislaman, tak jarang kita menemui para dai yang memiliki kedalaman ilmu, keahlian berbicara, serta pengaruh yang luas di tengah masyarakat. Mereka menjadi panutan, pemimpin, bahkan simbol kebaikan. Namun, ada satu penyakit hati yang kerap tak disadari menyelinap dalam diri sebagian dai — kesombongan tersembunyi.

Ini bukan dalam bentuk yang mudah dikenali, seperti merendahkan secara terang-terangan atau memamerkan kehebatan. Justru, bentuknya lebih halus, bahkan sering dibungkus dengan tampilan kerendahan hati. Satu bentuk yang sangat sering terjadi adalah enggan menerima kebenaran dari orang yang dianggap setara atau lebih rendah — baik dari segi ilmu, usia, posisi sosial, ataupun popularitas.

Mengapa Ini Berbahaya?

Ketika seseorang sudah merasa dirinya “lebih tinggi” dari orang lain, maka ia secara tidak sadar membatasi dirinya dari ilmu dan kebenaran. Ia mungkin hanya akan membuka telinga ketika yang berbicara adalah tokoh besar, guru yang diakui, atau sosok yang lebih senior. Tapi jika kebenaran datang dari seorang mahasiswa, aktivis muda, atau bahkan orang awam yang tak punya nama — ia langsung menutup diri.
Inilah bentuk kesombongan yang halus, namun dampaknya sangat besar: merasa cukup dengan pencapaian diri, hingga lupa bahwa kebenaran bisa datang dari siapa saja. Bahkan dalam Islam, kita diajarkan bahwa siapa pun bisa menjadi sumber pelajaran, selama yang disampaikan adalah benar.

Dakwah Bukan Arena Kompetisi

Sebagian dai mungkin tidak sadar bahwa dalam dirinya muncul mentalitas “kompetisi”. Saat melihat orang lain berkembang, punya pengaruh, atau bahkan memberikan masukan, mereka merasa terancam. Mereka mengira bahwa menerima kebenaran dari orang lain berarti mengakui kekurangan diri — padahal itu justru ciri dari orang yang berilmu sejati.


Rasulullah SAW sendiri, manusia paling mulia dan sempurna, tak segan menerima pendapat dari sahabat-sahabatnya. Beliau tidak pernah merasa bahwa posisi kenabian membuatnya tak perlu mendengar orang lain. Maka, jika Rasul saja bisa bersikap terbuka terhadap kebenaran dari siapa pun, mengapa kita — yang ilmunya tak seberapa — justru menutup diri?

Refleksi untuk Kita Semua

Bagi kita yang sedang belajar, berdakwah, atau aktif di dunia keislaman, penting untuk terus menjaga hati. Ilmu, pengaruh, dan popularitas adalah nikmat, tapi juga ujian. Jangan sampai pencapaian kita dalam kebaikan justru menjauhkan kita dari sikap rendah hati dan semangat untuk terus belajar.
Mari kita jaga niat, buka hati untuk nasihat dari siapa pun, dan sadari bahwa menjadi dai bukan berarti menjadi orang yang paling tahu — tetapi menjadi orang yang paling siap menerima dan menyampaikan kebenaran, dari dan kepada siapa pun.

Ujian di Jalan Dakwah: Belajar Sabar dari Para Nabi

Menjadi bagian dari jalan dakwah bukanlah jalan yang mulus tanpa hambatan. Banyak dari kita yang awalnya terinspirasi untuk aktif berdakwah karena semangat dan idealisme yang tinggi — ingin berkontribusi untuk umat, menyebarkan kebaikan, dan membawa perubahan positif. Tapi seiring waktu, kita akan menyadari bahwa jalan ini tidak mudah. Justru, jalan dakwah adalah jalan yang penuh ujian.


Allah SWT telah memperingatkan bahwa orang-orang yang menyeru kepada kebaikan akan diuji. Ujiannya tidak selalu datang dari luar; kadang justru dari dalam diri sendiri — rasa lelah, futur (turunnya semangat iman), atau bahkan konflik batin antara idealisme dan realita hidup. Tak jarang juga datang dari harta, keluarga, hingga urusan pribadi yang menguras energi.

Dakwah Bukan Jalan Instan

Dalam sejarah Islam, kita melihat bahwa para nabi dan rasul — manusia terbaik pilihan Allah — pun diuji dengan cobaan yang berat. Nabi Nuh AS berdakwah lebih dari 950 tahun dan hanya sedikit yang mengikuti. Nabi Ibrahim AS harus meninggalkan anak dan istrinya di tengah padang tandus demi ketaatan. Nabi Muhammad SAW sendiri diuji dengan penolakan, ancaman, bahkan pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya.

Semua itu menunjukkan bahwa ujian adalah bagian dari perjalanan dakwah. Maka, ketika kita merasa berat, lelah, atau bahkan ingin menyerah, ingatlah bahwa kita sedang berjalan di jejak orang-orang mulia.

Sabar Adalah Kunci


Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Maka bersabarlah kamu sebagaimana sabarnya ulul azmi dari para rasul…” (QS. Al-Ahqaf: 35)

Sabar di sini bukan berarti pasrah tanpa usaha, tapi tetap teguh walau jalan terasa berat. Ini adalah bentuk komitmen kita terhadap misi dakwah yang kita pilih. Kita tidak hanya diminta menyampaikan kebaikan, tapi juga menjadi pribadi yang kuat dan tangguh dalam menghadapi ujian.

Kesudahan yang Baik Milik Orang Bertakwa

Mungkin kita tidak langsung melihat hasil dari dakwah kita. Bisa jadi, usaha kita hari ini baru akan berdampak beberapa tahun ke depan, atau bahkan setelah kita tiada. Tapi percayalah, Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal. Kita hanya perlu menjaga niat, memperbaiki proses, dan terus bertakwa.

Karena pada akhirnya, kesudahan yang baik bukan milik mereka yang paling cepat, paling viral, atau paling populer, tapi milik mereka yang terus bertahan dalam ketaatan — dengan sabar, ikhlas, dan tetap istiqamah meski dalam keterbatasan.

Bijak Berdakwah: Mengedepankan Maslahat, Menolak Mafsadat

Dalam dunia dakwah, banyak orang berlomba menyuarakan kebenaran baik lewat ceramah, tulisan, video, atau media sosial. Tapi tidak semua yang benar harus disampaikan tanpa mempertimbangkan waktu, tempat, dan dampaknya. Seorang dai yang bijak bukan hanya berpikir tentang “apa yang benar”, tapi juga “bagaimana dan kapan menyampaikannya agar membawa maslahat, bukan mafsadat”.

Dakwah Itu Bukan Sekadar Bicara

Dalam aktivitas dakwah, penting bagi seorang dai — termasuk kita sebagai mahasiswa yang aktif menyuarakan nilai-nilai Islam — untuk memahami satu kaidah penting dalam Islam:
“Mendatangkan maslahat dan menolak mafsadat (kerusakan)”.
Artinya, kita tidak boleh sembarangan bicara atau menyebarkan informasi hanya karena merasa itu benar. Harus ada pertimbangan: Apakah ini akan membawa kebaikan atau justru menimbulkan masalah baru? Apakah cara menyampaikannya bijak dan tepat sasaran?
Misalnya, menyampaikan kritik sosial yang keras tanpa data yang akurat bisa menimbulkan keresahan. Menyebarkan video dakwah yang mengandung provokasi tanpa konteks bisa menimbulkan perpecahan. Padahal, niat awalnya adalah menyampaikan kebenaran.

Menjadi Dai yang Bertanggung Jawab

Seorang dai yang baik akan berhati-hati dalam setiap ucapan dan tindakannya. Ia sadar bahwa setiap kata memiliki konsekuensi, dan setiap konten yang ia bagikan akan berdampak — bukan hanya pada dirinya, tapi juga pada umat.
Oleh karena itu, ia tidak akan:

  • Mengucapkan sesuatu yang bisa memicu fitnah atau konflik, meskipun itu kelihatannya benar.
  • Menulis artikel atau opini yang hanya berdasarkan emosi, tanpa pertimbangan maslahat.
  • Menyebarkan video atau ceramah yang bisa menimbulkan perpecahan di tengah umat.
  • Mengambil keputusan dakwah yang ceroboh tanpa memikirkan jangka panjang.

Semua itu bukan karena ia takut atau tidak tegas, tapi karena ia memahami tanggung jawab dakwah yang besar. Ia ingin kebenaran yang disampaikan membawa kebaikan, bukan kerusakan.
Maslahat Bukan Berarti Kompromi
Perlu ditegaskan: mengedepankan maslahat bukan berarti berkompromi terhadap kebenaran. Bukan juga berarti takut berbicara. Tapi ini soal strategi dan hikmah dalam menyampaikan dakwah. Rasulullah SAW pun memilih waktu dan cara yang paling tepat dalam menyampaikan Islam — tidak tergesa, tidak emosional, tapi tetap tegas dan konsisten.

Sadar Diri di Era Digital: Berkatalah dengan Ilmu, Bukan Sekadar Viral

Wahai kamu yang sedang aktif berdakwah, berbagi ilmu, atau menyuarakan pendapatmu di media sosial — ketahuilah bahwa setiap kata, tulisan, cuitan, video, atau rekaman yang kamu sebarkan bisa saja sampai ke tangan orang-orang yang jauh lebih berilmu darimu. Dan di era digital seperti sekarang, itu bukan sekadar kemungkinan, tapi hampir pasti.

Dunia Tidak Lagi Terbatas. Dulu, mungkin kita hanya bicara di lingkaran sempit — forum kampus, majelis kecil, atau obrolan komunitas. Tapi hari ini, satu unggahan bisa tersebar ke mana-mana. Kamu mungkin hanya berniat sharing ke followers-mu yang seribu, tapi ternyata video itu ditonton oleh ustaz, dosen, atau akademisi dengan gelar panjang dan pengalaman puluhan tahun.

Maka pertanyaannya: Apakah kita sudah cukup bijak dalam berkata. Apakah isi konten kita sudah pantas untuk “didengar” oleh orang-orang yang lebih berilmu.

Jangan Sembarangan Bersuara

Bukan berarti kamu tidak boleh berbicara. Tapi bicaralah dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran. Karena semakin luas jangkauan ucapan kita, semakin besar pula risiko kesalahan, kesalahpahaman, bahkan kerusakan yang bisa ditimbulkan.

Sebaliknya, ketika kita sadar bahwa ada orang yang lebih ahli yang mungkin melihat, maka itu seharusnya mendorong kita untuk berhati-hati, berpikir lebih dalam, dan menyampaikan dengan lebih elegan dan cerdas.

Kesadaran yang Menumbuhkan Kualitas

Perasaan bahwa “aku bisa saja didengar oleh orang yang lebih paham” seharusnya tidak membuat kita minder. Justru kesadaran ini bisa menjadi bahan bakar untuk terus naik tingkat, memperbaiki kualitas, dan memperluas wawasan.

Ini bisa mendorong kita untuk: Memastikan sumber informasi yang kita pakai valid. Memilih kata-kata yang santun dan berkelas. Menentukan judul dan topik dengan bijak, tidak asal sensasional. Tidak asal menghakimi, menyederhanakan, atau melebih-lebihkan masalah. Terbuka pada kritik, dan siap belajar dari siapa pun, termasuk dari yang menegur kita.

Menjadi Dai yang Unggul dan Kreatif

Inilah ciri dai yang matang: bukan yang banyak bicara, tapi yang tahu kapan, apa, dan bagaimana harus berbicara. Kreativitas dalam berdakwah itu penting, tapi harus dibarengi dengan ketelitian, kepekaan, dan kerendahan hati.
Semakin sadar bahwa masih banyak yang lebih tahu dari kita, semakin semangat pula kita belajar. Dan semakin banyak kita belajar, semakin berkualitas pula isi dakwah yang kita sampaikan. Hasilnya? Kita bukan hanya menjadi dai yang populer, tapi dai yang benar-benar bermanfaat.

Saat Teman Berbuat Dosa: Jangan Sebarkan, Tapi Rangkul dengan Cinta

Di lingkungan kampus atau pertemanan, kita pasti pernah tahu ada teman yang melakukan kesalahan atau bahkan jatuh ke dalam dosa. Entah karena khilaf, pengaruh lingkungan, atau karena sedang berada di titik lemah dalam hidupnya. Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap?

Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya: kesalahan teman malah jadi bahan obrolan. Dengan dalih “membahas keadaan”, kita menyebarkan cerita itu ke teman-teman lain. Akhirnya, bukan hanya aibnya tersebar, tapi bisa jadi teman tersebut merasa dijauhi, disudutkan, bahkan semakin jauh dari kebaikan. Padahal, Islam mengajarkan hal yang jauh lebih mulia, Jangan Sebarkan Aib, Tapi Tutupi dan Bantu Ia Bangkit

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa yang menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Ini bukan soal membiarkan dosa begitu saja. Tapi tentang bagaimana cara kita menyikapi kesalahan orang lain dengan adab dan kasih sayang, bukan dengan sikap menghakimi.
Kalau kamu tahu temanmu berbuat salah, maka yang perlu kamu lakukan adalah: Doakan dia agar Allah beri hidayah dan kekuatan untuk berubah. Temui dia secara pribadi, tanpa mempublikasikan kesalahannya. Nasihati dengan lemah lembut, bukan dengan nada tinggi atau sindiran yang menyakitkan. Sikap seperti inilah yang bisa benar-benar menyentuh hati dan membuka pintu perubahan.

Bayangkan Jika Kamu yang Jatuh
Coba balik posisinya. Bagaimana jika kamu yang sedang terjatuh dalam dosa, lalu orang-orang malah membicarakanmu, menyebarkan kesalahanmu, atau bahkan menjauh darimu? Pasti rasanya berat, kan?

Semua orang bisa salah. Tapi tidak semua orang diberi teman yang bersedia mengingatkan dan menuntunnya kembali ke jalan yang benar. Maka, jadilah teman itu — yang tidak sibuk menyebar aib, tapi sibuk membantu saudaranya kembali kepada Allah.

Menjadi Mahasiswa yang Beretika dalam Menasihati

Kita memang tidak bisa mengontrol semua orang, tapi kita bisa mengontrol cara kita merespons. Mahasiswa yang matang adalah yang mampu menjadi penyeru kebaikan tanpa mencederai perasaan orang lain. Yang tahu kapan harus bicara, dan bagaimana cara menasihati dengan adab.
Nasihat itu tidak harus keras. Terkadang, cukup dengan hadir, mendengarkan, dan memberi pelukan, orang bisa merasa diterima dan termotivasi untuk berubah.

Apakah Dakwah Termasuk Penerima Zakat? Ini Penjelasannya

Zakat adalah salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang memenuhi syarat. Tujuannya bukan hanya untuk membersihkan harta, tapi juga sebagai instrumen sosial yang sangat penting dalam membangun kesejahteraan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah menetapkan delapan golongan yang berhak menerima zakat, salah satunya adalah “fi sabilillah” (di jalan Allah).

Nah, pertanyaannya adalah:

Apakah program dakwah termasuk dalam kategori “fi sabilillah”?

Makna “Fi Sabilillah” dalam Konteks Zakat

Dalam Surah At-Taubah ayat 60, Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Kata “fi sabilillah” secara harfiah berarti “di jalan Allah”. Secara klasik, banyak ulama menafsirkannya sebagai jihad fisik di medan perang. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, makna jihad tidak hanya terbatas pada angkat senjata, tetapi juga mencakup segala bentuk perjuangan untuk menegakkan agama — termasuk dakwah.

Dakwah Sebagai Bagian dari “Fi Sabilillah”

Sebagian ulama kontemporer dan lembaga fatwa modern, termasuk Majma’ al-Fiqhi (Majelis Fikih Islam), berpendapat bahwa dakwah termasuk dalam kategori “fi sabilillah”. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa dakwah adalah bagian dari perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat, baik melalui pendidikan, media, pelatihan, penyebaran ilmu, hingga penguatan komunitas Muslim.

Dengan begitu, program-program dakwah yang terorganisir dan bertanggung jawab dapat menjadi salah satu sasaran penyaluran dana zakat. Misalnya: Pembiayaan lembaga dakwah dan pendidikan Islam. Pembuatan konten dakwah digital. Penerbitan buku atau media dakwah. Pelatihan dai dan pengkaderan muballigh. Kegiatan syiar Islam di masyarakat terpencil. Syaratnya: Transparan dan Amanah

Namun, perlu digarisbawahi: meskipun dakwah bisa menjadi sasaran zakat, pengelolaannya harus transparan, akuntabel, dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Dana zakat bukan dana sembarangan. Penggunaan zakat untuk dakwah harus dipastikan memang mendatangkan manfaat yang luas, dan benar-benar digunakan “di jalan Allah”, bukan kepentingan pribadi atau golongan.

Wahai Dai, Jangan Lupa Introspeksi Diri
Menjadi seorang dai, aktivis dakwah, atau penggiat kebaikan adalah tugas yang mulia. Tapi di balik amanah itu, ada tanggung jawab besar dan risiko yang sering tak terlihat — salah satunya adalah lupa untuk melihat ke dalam diri sendiri.

Seringkali, karena sibuk berdakwah, menyampaikan nasihat, mengisi kajian, dan membina orang lain, seorang dai terlena hingga lupa mengoreksi dirinya sendiri. Padahal, sehebat apapun kita di mata manusia, kita tetaplah hamba yang penuh kekurangan dan dosa di hadapan Allah.

Dakwah Bukan Bukti Kesucian Diri

Kita perlu ingat bahwa berdakwah bukan tanda bahwa kita sudah paling benar, paling bersih, atau paling layak memberi nasihat. Justru, dakwah adalah proses saling mengingatkan, yang juga mencakup diri kita sendiri.

Makanya, penting banget bagi seorang dai untuk meluangkan waktu untuk introspeksi diri. Tanya pada diri sendiri:
Apakah aku sudah ikhlas dalam dakwahku. Apakah aku sudah mengamalkan apa yang aku sampaikan. Apakah lisanku lebih tajam daripada hatiku yang lembut. Apakah aku sudah memohon ampun atas dosa-dosaku yang mungkin tidak diketahui orang lain. Mohon Ampun Kepada Allah, Bukan Karena Kita Gagal, Tapi Karena Kita Manusia
Sering kali, kesibukan berdakwah membuat kita merasa “baik-baik saja”. Padahal, bisa jadi hati mulai mengeras, amal jadi rutinitas kosong, atau bahkan ujub (merasa lebih baik dari orang lain) mulai merayap diam-diam.

Itulah kenapa Rasulullah ﷺ — yang sudah dijamin surga — tetap beristighfar lebih dari 70 kali dalam sehari. Bukan karena beliau banyak dosa, tapi karena beliau sadar betul bahwa seorang hamba selalu butuh Allah, bahkan ketika sedang berdakwah di jalan-Nya.

Introspeksi Itu Menguatkan, Bukan Melemahkan
Mengakui kesalahan dan memperbaiki diri bukan tanda kelemahan, justru itu tanda kedewasaan iman. Seorang dai yang jujur pada dirinya sendiri akan terus bertumbuh. Ia tidak merasa malu untuk mengakui kekurangan, dan tidak gengsi untuk terus belajar.

“Wahai dai, introspeksilah dirimu dari waktu ke waktu, dan mohonlah ampunan atas dosamu.”

Kalimat ini bukan teguran, tapi pengingat lembut — bahwa meskipun kamu mengajak orang ke jalan Allah, kamu juga sedang berjalan di jalan yang sama, dan kamu pun bisa tersandung.

Bersyukurlah Menjadi Bagian dari Jalan Dakwah

Setiap dari kita sedang menapaki jalan hidup yang penuh pilihan. Ada yang mengejar karier, ada yang fokus belajar, dan ada juga yang mengabdikan sebagian waktunya untuk berdakwah — menyampaikan kebaikan, mengajak kepada Allah, dan berusaha menjadi jalan hidayah bagi orang lain.

Kalau kamu adalah bagian dari barisan itu — barisan para dai, aktivis dakwah, atau siapa pun yang menyeru kepada kebaikan, maka bersyukurlah. Karena sejatinya, itu adalah karunia besar dari Allah.
“Setiap saat yang kamu habiskan dalam berdakwah kepada Allah, kamu akan bergembira karenanya pada hari kamu bertemu dengan Allah.”

Kalimat ini bukan sekadar motivasi. Ia adalah pengingat bahwa semua waktu, tenaga, dan pikiran yang kamu curahkan dalam dakwah tidak akan pernah sia-sia. Bahkan jika tak banyak yang tahu, tak banyak yang ikut, atau tak semua yang kamu ajak berubah — Allah tetap mencatatnya. Dan kelak, di hari pertemuanmu dengan-Nya, kamu akan melihat semua itu menjadi sumber kebahagiaan yang abadi.

Dakwah Adalah Jalan Hidayah yang Allah Pilihkan

Tidak semua orang diberi kesempatan untuk berdakwah. Maka kalau kamu bisa aktif di jalan ini ikut forum kajian, jadi panitia syiar, nulis konten Islam, berbagi ilmu di media sosial — itu bukan karena kamu paling hebat. Tapi karena Allah sedang membimbingmu.

Dan karena itu pula, kita perlu bersyukur.
“Bersyukurlah kepada Allah karena Dia telah memberimu petunjuk di jalan dakwah.”

Syukur ini bukan cuma dengan lisan, tapi juga dengan menjaga semangat dakwah, memperbaiki niat, dan terus belajar agar apa yang kita sampaikan semakin berkualitas dan sampai ke hati orang lain.

Minta Ditetapkan di Jalan Ini

Perjalanan dakwah tidak selalu mudah. Ada kalanya kamu merasa sendiri, lelah, tidak dihargai, bahkan kehilangan arah. Tapi dalam momen-momen itu, ingatlah:
“Mintalah kepada-Nya agar Dia meneguhkanmu di atasnya.”

Karena keteguhan tidak datang dari motivasi semata, tapi dari doa yang terus dipanjatkan, dan hati yang bergantung pada Allah. Maka jangan hanya sibuk mengajak orang lain kepada kebaikan, tapi juga sibukkan dirimu dengan doa: “Ya Allah, tetapkan aku di jalan ini, meski langkahku kadang goyah.”

Doa untuk Para Dai: Mereka yang Berjuang di Garis Depan Kebaikan

Di balik setiap kajian yang kita hadiri, setiap postingan dakwah yang menyentuh hati, atau setiap nasihat yang mengubah cara pandang kita tentang hidup — ada sosok dai yang berjuang. Mereka adalah orang-orang yang mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk menyampaikan kebaikan, mengajak manusia kembali kepada Allah, dan menjaga cahaya Islam tetap menyala di tengah zaman yang penuh fitnah.

Mereka bukan malaikat. Mereka bukan manusia tanpa cela. Tapi mereka memilih untuk berdiri dan bergerak, saat banyak orang hanya diam. Dan untuk itu, mereka layak kita doakan.“Ya Allah, berilah taufik kepada para dai yang jujur, lindungilah mereka dari fitnah, mudahkanlah urusan-urusan mereka, dan terimalah amal mereka, wahai Rabb semesta alam.”

Mengapa Mereka Butuh Doa Kita?
Para dai mungkin terlihat kuat, penuh percaya diri saat berbicara di depan umum, atau aktif di media sosial dengan konten-konten yang menyejukkan. Tapi di balik itu, mereka juga menghadapi tekanan yang tidak sedikit:
Fitnah dan ujian dari luar, baik dalam bentuk kritik, hinaan, atau bahkan ancaman. Godaan dari dalam, seperti rasa ujub, kelelahan, atau kehilangan arah. Kesulitan dalam keluarga, pekerjaan, finansial, atau waktu yang sering berbenturan dengan amanah dakwah.

Oleh karena itu, doa kita untuk mereka bukanlah formalitas, tapi bentuk dukungan moral dan spiritual yang nyata. Sebab, dakwah bukan hanya tugas dai, tapi tanggung jawab kolektif umat.

Taufik, Perlindungan, dan Penerimaan Amal

Dalam doa tersebut, kita memohon tiga hal besar untuk para dai:

Taufik (bimbingan Allah): Agar mereka selalu berada di jalur yang benar, ikhlas, dan penuh hikmah dalam menyampaikan kebenaran.

Perlindungan dari fitnah: Karena dalam berdakwah, godaan untuk tergelincir sangat banyak baik berupa pujian, popularitas, maupun tekanan.

Kemudahan urusan dan diterimanya amal: Karena perjuangan mereka sering tidak terlihat, maka kita doakan agar Allah memudahkan jalannya dan menerima setiap peluh yang mereka teteskan demi agama-Nya.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *