Menjadikan Dakwah Efektif di Era Modern

Oleh : Putri Sayyidah Fadhilah
(Mahasiswi Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Dewan Dakwah Jatim 2024-2025)

Dewandakwahjatim.com, Mojokerto – Dakwah yang berhasil membutuhkan keseimbangan antara strategi yang tepat dan kekuatan spiritual yang mendalam. Di tengah perubahan zaman, ruang publik seperti bandara bisa menjadi tempat dakwah yang efektif. Kesabaran, dzikir, salat malam, ketelitian dalam mengambil keputusan, serta mencatat pengalaman dakwah menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya menyebarkan Islam dengan hikmah dan kebijaksanaan.

Media Publik

Di era modern, peluang dakwah tidak lagi terbatas pada masjid, majelis, atau ceramah formal. Tempat-tempat umum seperti bandara, stasiun, atau pusat perbelanjaan menjadi ladang dakwah yang sangat potensial. Bandara, misalnya, adalah tempat di mana ribuan orang dari berbagai bangsa, agama, dan latar belakang berkumpul setiap hari. Di sana, dakwah bisa hadir dalam bentuk yang damai dan universal.

Salah satu metode yang efektif adalah pemasangan layar-layar besar yang menampilkan pesan-pesan Islam dalam berbagai bahasa. Tanpa perlu bicara langsung, nilai-nilai Islam yang penuh kasih dan hikmah dapat diperkenalkan kepada publik luas.

Bentuk dakwah ini tenang, tidak mengganggu, namun mampu menyentuh hati. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang relevan dan rahmat bagi semua umat manusia.

Namun, strategi saja tidak cukup. Yang membuat pesan dakwah hidup adalah keikhlasan dan keyakinan bahwa setiap kata kebaikan akan dibalas oleh Allah. Dalam hadis Qudsi, Allah berfirman: “Jika engkau menyebut-Ku dalam sebuah majelis, Aku akan menyebutmu dalam majelis yang lebih baik dari mereka.” Ini menjadi pengingat bahwa siapa pun yang menyampaikan kebaikan di hadapan manusia akan mendapatkan balasan yang sangat mulia dari Tuhan semesta alam. Maka, seorang dai tidak hanya berperan sebagai komunikator, tapi juga pembawa cahaya yang menghidupkan hati manusia.

Kekuatan Batin

Perjuangan dakwah bukanlah perjalanan yang mudah. Di dalamnya ada lelah, ujian, dan mungkin ketidak pastian. Maka Allah memerintahkan para nabi, termasuk Nabi Muhammad ﷺ, untuk bersabar dalam jalan dakwah. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

“Dan untuk Tuhanmu, maka bersabarlah.” (QS. Al-Muddatsir: 7)

Ayat ini begitu lembut namun dalam maknanya. Ia memanggil para pejuang dakwah agar terus melangkah meskipun banyak rintangan. Sabar dalam dakwah bukan tanda kelemahan, tapi bukti keteguhan cinta kepada Allah.

Namun kesabaran itu butuh bahan bakarnya sendiri. Karena itu, Allah juga memerintahkan Nabi untuk memperbanyak dzikir dan menegakkan salat malam (qiyamul lail). Ibadah-ibadah ini bukan hanya rutinitas, tetapi sumber kekuatan ruhani yang menjaga hati agar tetap ikhlas, teguh, dan bersih dari ambisi duniawi. Seorang dai yang sibuk berbicara kepada manusia harus lebih dahulu sibuk berbicara kepada Allah dalam sunyi malam.

Selain itu, tidak sedikit dai yang memiliki pengalaman berharga dalam perjalanan dakwahnya, namun sayangnya tidak menuliskannya. Padahal, banyak pengalaman tersebut mengandung hikmah yang layak ditulis dengan “tinta emas”.

Menulis pengalaman dakwah bukan hanya untuk dokumentasi pribadi, tetapi juga untuk diwariskan kepada generasi berikutnya agar mereka bisa belajar dari keberhasilan dan kegagalan para pendahulunya.

Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah kemampuan mengambil keputusan secara bijaksana. Terkadang, karena semangat yang tinggi, seorang dai bisa terburu-buru mengambil langkah tanpa pertimbangan matang. Dakwah yang sukses membutuhkan perencanaan yang cermat dan keputusan yang tenang. Ketergesaan bisa merusak niat baik, sedangkan kehati-hatian dapat menjaga agar dakwah tetap berjalan sesuai nilai Islam penuh hikmah, sabar, dan proporsional.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *