Menguatkan Dakwah Global: Tanggung Jawab Kita Bersama

Oleh : Hadijah
(Mahasiswi Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Dewan Dakwah Jatim 2024-2025)

Dewandakwahjatim.com, Mojokerto – Memperhatikan pembiayaan para dai yang bertugas di luar negeri adalah salah satu amal yang paling utama dan sangat berpengaruh dalam menyebarkan Islam ke berbagai penjuru dunia. Perjuangan mereka yang jauh dari kampung halaman, menanamkan risalah tauhid dan akhlak Islam di tengah masyarakat yang asing, membutuhkan sokongan yang serius dari kita semua.

Bukan sekadar amal sesaat, namun pembiayaan ini harus bersifat berkelanjutan. Untuk itulah, penting bagi kita untuk berusaha membangun wakaf-wakaf dakwah di negeri-negeri tersebut, agar kontribusi dan pengabdian para dai tidak terputus oleh waktu atau keadaan. Melalui wakaf, dakwah bisa terus berjalan bahkan setelah para donatur tidak lagi hadir secara fisik, karena amal jariyah terus mengalir dari wakaf yang ditinggalkan.

Dalam perjalanannya, para dai akan menemui berbagai peristiwa yang menyentuh hati dan penuh pelajaran. Kisah-kisah nyata ini sering kali membawa perubahan besar dalam hidup seseorang. Maka, para dai dianjurkan untuk menyaring kisah-kisah tersebut, memilih yang paling menyentuh dan inspiratif, lalu menuliskannya dan menyebarkannya melalui media sosial dan platform dakwah lainnya. Tidak sedikit dari kisah-kisah itu yang dapat menjadi sebab terbukanya hati banyak orang untuk kembali kepada Allah dan agama-Nya.

Sebagaimana firman Allah yang ditegaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, bahkan semut di lubangnya dan ikan di laut pun, mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. At-Tirmidzi, dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1838)

Hadits ini menunjukkan keutamaan mengajarkan ilmu dan menyebarkan kebaikan. Bahkan makhluk-makhluk kecil yang tak tampak di mata pun ikut memohonkan ampun dan kebaikan bagi orang yang berdakwah. Maka, setiap orang yang mengajar, membina, dan membimbing ke arah kebaikan terutama dalam dakwah global berada dalam kedudukan mulia di sisi Allah.

Namun, yang menyedihkan adalah ketika sebagian kalangan intelektual justru menjauh dari realitas dakwah. Sebagian dosen universitas, meski ilmunya bertambah dan jabatannya naik, tetapi tidak lagi terjun ke lapangan. Mereka menjauh dari pembinaan umat, khususnya generasi muda yang sangat membutuhkan bimbingan. Padahal, ilmu yang tidak dibagikan adalah ilmu yang mati. Ilmu yang sejati adalah yang diamalkan dan disebarkan.

Di sinilah kita semua dituntut untuk berperan. Kita harus ikut menguatkan dan mendukung para dai, terutama yang berada di lingkungan kita. Bentuk dukungan itu bisa berupa dukungan moral semangat, doa, apresiasi, dan pengakuan—maupun materi seperti bantuan logistik, dana operasional, atau fasilitas. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian, sebab dakwah adalah tanggung jawab kolektif umat Islam.

Selain itu, kita perlu bijak dalam menyikapi perbedaan pandangan dalam program dakwah. Perbedaan dalam metode atau pendekatan adalah hal yang wajar. Setiap dai memiliki cara, gaya, dan strategi masing-masing sesuai kapasitas dan konteks dakwahnya. Maka, perbedaan tersebut tidak boleh menimbulkan perpecahan hati atau permusuhan.
Sebagaimana dinyatakan:
“Perbedaan pandangan dalam program-program dakwah tidak seharusnya menyebabkan perpecahan hati. Setiap dai melakukan apa yang ia anggap sesuai.”

Justru dengan adanya perbedaan pendekatan, kita bisa menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas. Yang penting adalah tujuannya tetap satu: menegakkan kalimat Allah, menyebarkan kebaikan, dan membimbing umat kepada jalan yang lurus.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *