Oleh : Hilya Salsabila
(Mahasiswi Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Dewan Dakwah Jatim 2024-2025)
Dewandakwahjatim.com, Mojokerto – Dakwah adalah panggilan mulia yang membutuhkan lebih dari sekadar niat baik. Menyampaikan pesan kebaikan bukan hanya tentang menyampaikan isi, tetapi juga tentang bagaimana pesan itu dibungkus dan dihadirkan. Karena itu, dalam berdakwah, janganlah menjadi orang yang biasa-biasa saja. Zaman ini memerlukan dai yang tampil dengan keistimewaan, bukan dalam kemewahan atau sensasi, tetapi dalam kualitas dan karakter.
Menjadi pribadi yang unik dan kreatif dalam berdakwah berarti mampu menemukan cara yang tepat dan menyentuh untuk menjangkau hati manusia. Seorang dai tidak cukup hanya menyampaikan pesan kebenaran secara datar atau monoton. Ia perlu menumbuhkan kepekaan terhadap konteks, membaca kebutuhan masyarakat, serta menghadirkan gaya penyampaian yang menggugah. Keunikan tidak harus dalam bentuk luar yang mencolok, tapi dalam cara berpikir, pendekatan yang segar, dan solusi yang ditawarkan. Kreativitas bukan untuk memikat manusia demi popularitas, melainkan sebagai wasilah agar pesan kebenaran lebih mudah diterima.
Di samping itu, kualitas pribadi seorang dai juga menjadi penentu keberhasilan dakwah. Tidak cukup hanya fasih berbicara, ia juga harus menjadi contoh nyata dalam perbuatannya. Perkataannya menggambarkan isi hatinya, dan tindakannya mencerminkan akhlak Islam yang luhur. Masyarakat lebih mudah percaya dan mengikuti mereka yang benar-benar hidup dalam nilai-nilai yang mereka sampaikan. Keteladanan adalah bentuk dakwah paling kuat dan sulit terbantahkan.
Rahasia Dakwah yang Mengena di Hati
Dakwah yang berhasil bukan hanya dinilai dari isi ceramahnya, tetapi juga dari bagaimana ia dibuka, disampaikan, dan ditutup. Seorang dai yang berpakaian rapi menunjukkan keseriusan dan rasa hormat kepada audiens. Pembukaan yang menarik akan membangun perhatian sejak awal, sementara topik yang menginspirasi akan meninggalkan kesan mendalam. Penyampaian yang singkat namun padat lebih mudah dicerna dan diingat. Terakhir, mendoakan hadirin di awal atau akhir menjadi sentuhan spiritual yang membuat pesan dakwah terasa lebih hangat dan penuh kasih. Semua unsur ini, jika dihadirkan dengan tulus, akan menjadikan dakwah lebih mengena di hati dan memberi dampak yang nyata.
Bahagia di Jalan Dakwah
Perjalanan dakwah bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, melainkan langkah demi langkah menuju keridhaan Allah. Aku telah menapaki banyak negeri, kota, provinsi, hingga desa, lebih dari tujuh puluh tempat yang berbeda, semuanya dalam rangka menyampaikan risalah-Nya. Dengan karunia Allah semata, perjalanan itu bukan menjadi beban, melainkan sumber kebahagiaan yang tak terbandingkan.
Anehnya, justru ketika tubuh semakin lelah, jiwa ini justru merasakan kenikmatan yang bertambah. Kelelahan fisik itu seolah menjadi jalan pembuka bagi ketenangan batin yang hanya dirasakan oleh mereka yang menjadikan dakwah sebagai bagian dari hidupnya. Kebahagiaan itu bukan berasal dari tempat yang dituju, melainkan dari makna yang dibawa dalam setiap langkah dan pertemuan. Karena ketika hati tulus berdakwah, maka setiap lelah menjadi cahaya, dan setiap peluh menjadi saksi cinta kepada jalan Allah.
Menjadi Pembawa Rahmat di Bumi
Jika Allah Maha Luas rahmat-Nya, maka sudah sepantasnya kita, sebagai hamba-Nya, menjadi perpanjangan dari rahmat itu di muka bumi. Rahmat Allah bukan hanya mencakup hamba-hamba-Nya yang taat, tetapi juga meliputi seluruh makhluk-Nya, baik manusia, hewan, maupun alam semesta. Maka seorang muslim, apalagi yang berdakwah di jalan Allah, harus meneladani sifat kasih sayang itu dengan menyayangi sesama, memaafkan kesalahan, serta memahami kekurangan orang lain. Rasulullah ﷺ adalah teladan utama dalam hal ini. Beliau tidak diutus kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya: “Dan tidaklah Kami mengutusmu
Dakwah di Era Digital: Tanggung Jawab dan Peluang
Perkembangan media sosial yang pesat dari waktu ke waktu adalah sebuah realitas yang tidak bisa dihindari. Setiap hari, jutaan orang mengakses informasi, mencari inspirasi, dan membentuk pandangan hidup mereka melalui berbagai platform digital. Dalam kondisi seperti ini, para dai tidak boleh tinggal diam. Menjadi kewajiban mereka untuk mengikuti perkembangan teknologi dan memahami arah perubahan zaman.
Dakwah tidak boleh terkungkung dalam metode konvensional semata, sementara umat berpindah ke ruang digital. Para dai harus hadir di sana, memberikan pencerahan, menebar nilai-nilai Islam, dan menjadi penyejuk di tengah derasnya arus informasi. Memantau setiap hal baru dan mengambil manfaat dari teknologi adalah bagian dari ikhtiar menjaga relevansi dakwah. Dengan cara ini, pesan kebaikan tidak hanya sampai, tetapi juga mampu bersaing di tengah hiruk-pikuk dunia maya yang penuh tantangan.
Estafet Dakwah dalam Pelukan Umat Produktif
Umat Islam adalah umat yang senantiasa hidup dan bergerak. Ia bukan umat yang mati atau mandek oleh zaman. Dalam setiap masa, Allah selalu menghadirkan generasi baru yang siap memikul amanah dakwah dan menjaga risalah-Nya.
Produktivitas umat ini bukan hanya dalam aspek duniawi, tetapi juga dalam melahirkan para penjaga agama yang ikhlas dan tangguh. Jika suatu waktu sebagian orang mulai lalai atau lelah dalam menjalankan tugas dakwah, maka itu bukan akhir dari perjuangan. Sebab Allah tidak akan membiarkan agama-Nya terbengkalai. Ia akan menggantikan mereka dengan kaum lain, yang lebih siap, lebih teguh, dan lebih bersungguh-sungguh menolong agama-Nya.
Maka jangan pernah merasa paling berjasa, karena dakwah ini akan tetap berjalan dengan atau tanpa kita. Yang paling mulia bukanlah yang hanya pernah berdakwah, melainkan yang istiqamah memikulnya hingga akhir hayat. Umat ini akan terus subur dengan para pejuang yang datang silih berganti, sebab janji Allah adalah kemenangan bagi mereka yang sungguh-sungguh dalam menolong-Nya.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
