Oleh : Anisa Nurdin,
(Mahasiswi Akademi Dakwah Indonesia Dewan Dakwah Jatim 2024-2025)
Dewandakwahjayim.com, Mojokerto – Dalam proses mendakwahi atau membimbing orang lain menuju kebaikan, sering kali kita diliputi semangat yang besar. Kita ingin orang-orang terdekat kita segera berubah, segera taat, dan segera kembali kepada Allah. Terutama ketika kita mencintai mereka — teman, sahabat, atau keluarga — kita berharap mereka merasakan keindahan iman seperti yang kita rasakan. Namun, semangat ini kadang tanpa sadar berubah menjadi desakan yang tidak tepat, bahkan justru kontraproduktif.
Hidayah adalah Hak Allah, Bukan Pilihan Kita
Hidayah (petunjuk menuju kebenaran) adalah anugerah Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kita tidak memiliki kuasa untuk menentukan kapan dan bagaimana seseorang mendapat hidayah. Bahkan Rasulullah ﷺ pun ditegur oleh Allah saat menginginkan pamannya, Abu Thalib, masuk Islam. Allah berfirman:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (56)
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Qashash: 56)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa tugas kita hanyalah menyampaikan, bukan memaksakan.
Gunakan Sarana yang Positif dan Bijak
Mendakwahi teman tidak harus melalui ceramah atau teguran keras. Banyak sarana yang lebih efektif dan lembut, seperti menjadi teladan dalam akhlak, memperlihatkan kesantunan, menyisipkan pesan kebaikan dalam obrolan ringan, mengajak ke kegiatan positif, atau memberikan bacaan yang menyentuh hati.
Kebaikan yang ditunjukkan secara konsisten jauh lebih mengena daripada nasihat yang hanya sesekali dan bernada menekan. Ingatlah bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari hal-hal kecil yang menyentuh hati.
Jangan Membuat Temanmu Merasa Diadili
Poin penting lainnya adalah menjaga perasaan teman yang sedang kita doakan atau bimbing. Jangan sampai mereka merasa bahwa kita sedang “menunggu-nunggu” mereka berubah, seolah-olah mereka belum layak berteman dengan kita sebelum mendapat hidayah. Sikap ini bisa membuat mereka merasa dinilai, dijauhi, bahkan direndahkan.
Padahal, dakwah sejati adalah menyertai, bukan menghakimi. Mendoakan dalam diam, bersabar dalam mendampingi, dan tetap memperlakukan mereka dengan kasih sayang adalah bagian dari akhlak dakwah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ.
Menjadi sebab hidayah bagi orang lain adalah kemuliaan besar, tetapi ia tidak bisa dicapai dengan tergesa-gesa atau memaksa. Tugas kita adalah berusaha dengan lembut dan sabar, sementara hasilnya kita serahkan kepada Allah. Karena bisa jadi, justru dari kesabaran dan ketulusan kita, Allah bukakan pintu hidayah bagi mereka—dan sekaligus mengangkat derajat kita di sisi-Nya.
- Imam Masjid dan Seni Menyampaikan Nasihat: Antara Membaca dan
Berbicara
Di tengah rutinitas ibadah di masjid, imam memiliki peran penting bukan hanya sebagai pemimpin salat, tetapi juga sebagai pembimbing spiritual jamaah. Salah satu momen berharga untuk menyampaikan nilai-nilai Islam adalah setelah salat, saat hati masih lembut dan pikiran masih terbuka. Namun, cara penyampaian nasihat itu sendiri memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana pesan diterima oleh jamaah.
Membaca dari Kitab: Sebuah Tradisi yang Mulia
Sudah menjadi hal yang umum bagi sebagian imam untuk menyampaikan nasihat atau pelajaran dengan membaca langsung dari kitab-kitab klasik atau modern. Tradisi ini tentu memiliki kelebihan, terutama dalam menjaga keilmuan, menyampaikan isi yang orisinal, serta memastikan akurasi dalil. Membaca dari kitab juga menunjukkan penghormatan terhadap karya para ulama terdahulu.
Namun, sebagaimana setiap metode memiliki sisi kekuatannya, ia pun memiliki batasan. Ketika nasihat terlalu bergantung pada bacaan, ada kalanya interaksi emosional dan kedekatan dengan jamaah menjadi berkurang.
Kebutuhan Jamaah Akan Sentuhan Personal
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak jamaah lebih tersentuh oleh kata-kata yang disampaikan langsung, dengan mata yang menatap, dan suara yang penuh empati. Mereka lebih mudah terhubung secara emosional ketika merasa seolah diajak berbicara secara pribadi oleh imam, bukan hanya sebagai pendengar pasif dari teks yang dibaca.
Orang-orang ingin merasakan bahwa imam hadir bersama mereka, memahami kehidupan mereka, dan berbicara dari hati ke hati. Di sinilah letak kekuatan mukhatabah—berbicara langsung kepada hadirin.
Melatih Diri Menyampaikan Tanpa Membaca
Bukan berarti membaca kitab itu keliru, tetapi ada nilai lebih dalam menyampaikan nasihat secara lisan tanpa tergantung penuh pada teks. Jika seorang imam melatih dirinya untuk menghafal poin-poin penting atau merangkai kalimat dengan bahasa sendiri, maka nasihat yang disampaikan akan terasa lebih hidup, relevan, dan menyentuh jiwa.
Ini tentu memerlukan persiapan, keberanian, dan latihan. Namun, hasilnya adalah kehadiran imam yang lebih kuat di tengah jamaahnya, bukan hanya sebagai pembaca kitab, tapi sebagai murabbi (pendidik) yang mampu menyentuh hati.
Penutup
Wahai para imam masjid, menyampaikan nasihat setelah salat adalah kesempatan mulia. Membaca dari kitab adalah tradisi terpuji, namun berbicara langsung dari hati kepada jamaah sering kali lebih membekas dan menghidupkan ruh mereka. Maka, latihlah diri untuk menyampaikan hikmah dengan cara yang lebih personal, lebih dekat, dan lebih menyentuh—karena dakwah bukan hanya soal ilmu yang disampaikan, tetapi juga cara dan jiwa yang mengantarkannya.
- Dakwah: Pilar Perbaikan Sosial dan Harmoni Keluarga
Dakwah bukan hanya aktivitas keagamaan yang terbatas pada mimbar atau masjid. Lebih dari itu, dakwah adalah proses membangun peradaban, menanamkan nilai, dan memperbaiki kehidupan masyarakat dari dalam. Salah satu dampak paling nyata dari dakwah adalah peran strategisnya dalam memperbaiki relasi sosial dan membentuk keharmonisan dalam lingkup keluarga.
Dakwah dan Perbaikan Sosial
Dakwah kepada Allah—baik melalui ceramah, tulisan, dialog, maupun teladan—memiliki pengaruh besar dalam membangun kehidupan sosial yang sehat. Ketika nilai-nilai Islam disampaikan dengan cara yang bijak dan menyentuh, ia akan menumbuhkan akhlak mulia, rasa tanggung jawab, dan semangat saling menolong dalam masyarakat.
Dakwah menjadi sarana untuk menghidupkan amar ma’ruf nahi munkar, memperkuat solidaritas antarwarga, dan menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa setiap individu memiliki peran dalam kebaikan sosial. Melalui dakwah pula, semangat silaturahim dan kasih sayang di antara kerabat kembali ditumbuhkan, yang pada akhirnya menciptakan komunitas yang damai dan bersatu.
Dakwah dan Keharmonisan Rumah Tangga
Betapa banyak kata-kata sederhana dari ceramah atau khutbah yang ternyata menjadi sebab perbaikan hubungan antara suami dan istri. Seringkali, seorang suami yang keras hatinya menjadi lembut setelah mendengar nasihat tentang hak istri. Seorang istri yang tadinya lalai menjadi lebih perhatian setelah mendengar pengingat tentang pentingnya menjaga rumah tangga.
Dakwah menanamkan nilai rahmah (kasih sayang) dan sakinah (ketenangan) dalam relasi suami-istri, mendorong keduanya untuk saling menghormati, bersabar, dan berkomunikasi dengan baik. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa dakwah mampu menyelamatkan banyak rumah tangga dari perpecahan.
Dakwah dan Pembentukan Jiwa Anak-Anak
Program-program dakwah yang menyasar generasi muda—seperti pesantren kilat, majelis remaja, dan kajian keluarga—adalah sarana penting untuk membentuk karakter anak laki-laki dan perempuan sejak dini. Melalui dakwah, nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, cinta ilmu, dan akhlak terpuji tertanam dalam jiwa mereka.
Anak yang tumbuh dengan bimbingan dakwah akan memiliki kompas moral yang kuat, serta pemahaman yang benar tentang kehidupan. Ini menjadi bekal yang sangat berharga di tengah derasnya arus media dan budaya yang sering kali mengikis nilai-nilai Islam.
Dakwah kepada Allah bukan hanya urusan para ustaz dan pendakwah. Ia adalah proyek sosial dan spiritual yang mendalam. Melaluinya, keluarga menjadi harmonis, masyarakat menjadi bersatu, dan anak-anak tumbuh dengan nilai yang kokoh. Oleh karena itu, marilah kita hidupkan semangat dakwah dalam setiap lini kehidupan—karena setiap kata yang mengajak pada kebaikan bisa jadi menjadi penyebab berubahnya nasib banyak jiwa dan keluarga.
- Dakwah untuk Para Wanita Muda: Kebutuhan Mendesak di Tengah Arus Zaman
Di tengah derasnya arus globalisasi, media sosial, dan gaya hidup modern, para wanita muda—baik pelajar, mahasiswa, pekerja, maupun ibu muda—menghadapi tantangan yang luar biasa. Mereka berada dalam fase pencarian jati diri, pengambilan keputusan penting, dan pembentukan karakter. Di masa inilah dakwah seharusnya hadir, membimbing dan menguatkan mereka. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa dakwah yang serius dan terarah kepada wanita muda masih sangat minim.
Wanita Muda: Pilar Umat dan Penentu Arah Generasi
Wanita muda bukan hanya bagian dari umat; mereka adalah penentu masa depan. Dari mereka akan lahir generasi baru, baik secara biologis sebagai ibu, maupun secara sosial sebagai pendidik, pemimpin komunitas, dan penggerak perubahan. Jika mereka kuat dalam iman, ilmu, dan akhlak, maka kuat pula masyarakat. Sebaliknya, jika mereka terabaikan dalam bimbingan, maka dampaknya akan sangat luas.
Mereka membutuhkan dakwah yang relevan, yang menyentuh realitas hidup mereka: isu identitas diri, krisis moral, tantangan karier, relasi sosial, hingga dinamika rumah tangga. Namun sayangnya, perhatian terhadap segmen ini masih sangat terbatas.
Kurangnya Upaya Serius: Dakwah yang Belum Menyentuh
Masih sedikit program dakwah yang secara khusus dirancang untuk menjawab kebutuhan dan bahasa generasi wanita muda. Banyak ceramah atau materi agama yang tidak komunikatif, terlalu normatif, atau tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis yang mereka hadapi.
Padahal, mereka tidak hanya butuh nasihat, tetapi juga pendampingan, dialog terbuka, dan role model yang bisa mereka kagumi dan teladani. Mereka memerlukan pendekatan yang bersahabat, menyentuh hati, dan memberi ruang untuk bertanya dan didengarkan.
Dakwah yang Relevan: Solusi dan Harapan
Sudah saatnya muncul kebangkitan dakwah besar yang berfokus kepada para wanita muda—baik melalui majelis taklim, media digital, mentoring pribadi, komunitas dakwah kampus, hingga forum parenting muda. Materi yang disampaikan harus kontekstual, aplikatif, dan menyentuh persoalan nyata mereka.
Dakwah kepada wanita muda juga harus melibatkan para pendakwah perempuan yang mampu memahami psikologi dan bahasa sesama wanita. Mereka bisa menjembatani banyak ruang yang tidak bisa dijangkau oleh pendekatan konvensional.
Masyarakat wanita muda saat ini adalah kelompok strategis yang sangat membutuhkan sentuhan dakwah yang hangat, cerdas, dan membumi. Jika dakwah tidak segera hadir dengan kekuatan baru di tengah mereka, maka ruang tersebut akan diisi oleh ideologi, tren, dan gaya hidup yang justru menjauhkan mereka dari nilai-nilai Islam. Maka, inilah saatnya kebangkitan dakwah perempuan dimulai—dengan semangat, cinta, dan visi peradaban.
- Pengaruh Channel-Channel Islami
Banyak yang beranggapan bahwa channel-channel Islam tidaklah bermanfaat. Padahal jika dilihat chanel Islami memiliki banyak pengaruh positif, seperti menambah wawasan, lebih seruh dalam belajar agama, dan masih banyak yang lainnya. Tentunya untuk menjadikan channel Islam menjadi bermanfaat butuh beberapa tahapan, perencanaan yang baik, kejelasan dalam tujuan, kualitas dalam program, dan pemilihan narasumber yang tepat.
Perencanaan dan Tujuan yang Baik
Untuk menjadikan channel lebih bermanfaat, tentuanya harus mempunyai perencanaan yang matang sehingga channel yang dibuat memiliki tujuan yang baik bagi pendengar ataupun penonton. Dalam membuat channel juga harus mempunyai kejelasan, tidak boleh asal-asalan agar tidak memberi pengaruh negatif kepadapendengar ataupun penonton.
Kualitas dan Narasumber yang Tepat
Dalam membuat channel harus dipastikan kualitasnya, jangan sampai channel yang dibuat mempunyai kualitas buruk hal ini, mengakibatkan hilangnya manfaat dari channel yang dibuat. Pemilihan narasumber juga menjadi bagian penting dalam membuat channel, agar channel yang dihasil tidak membosankan sehingga menjadi daya tarik tersendiri dalam channel yang dibuat.
- Wahai Mahasiswa, Ke Mana Langkah Kalian Menuju?
Di tengah kesibukan dunia akademik, kuliah, tugas, dan aktivitas organisasi, ada satu panggilan suci yang kadang terlupakan: dakwah kepada masyarakat. Seruan ini bukan hanya untuk para ustaz atau da’i senior, tetapi juga untuk kalian—para mahasiswa, khususnya yang menuntut ilmu agama dan ilmu sosial yang berkaitan dengan umat. Kalian adalah para pemuda harapan. Maka, ke mana langkah kalian?
Waktu Luang: Kesempatan Emas yang Sering Terabaikan
Setiap bulan, mahasiswa biasanya memiliki waktu-waktu luang—entah di akhir pekan, libur tengah semester, atau hari-hari tanpa perkuliahan. Mengapa tidak digunakan untuk mengunjungi desa-desa, mendekati masyarakat, menyapa anak-anak muda yang kehilangan arah, atau menyentuh hati para orang tua yang haus akan nasihat dan ilmu agama?
Terkadang, hanya dengan satu kata yang tulus, satu pertemuan sederhana, atau satu kisah yang menyentuh, seseorang bisa kembali kepada Allah. Dan itu semua bisa bermula dari langkah sederhana seorang mahasiswa yang mau bergerak.
Di Manakah Pewaris Para Nabi?
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa para ulama adalah “waratsatul anbiya’” (pewaris para nabi). Mahasiswa yang menekuni ilmu-ilmu syar’i atau sosial keislaman sejatinya sedang meniti jalan itu. Namun, pewaris sejati tidak hanya duduk di bangku kuliah dan membaca buku di ruang kelas, melainkan turun ke lapangan, merasakan denyut nadi umat, dan menyampaikan risalah Islam dengan hikmah.
Pertanyaannya: di manakah para pewaris nabi saat umat menanti bimbingan?
Di mana semangat safari dakwah para pemuda muslim seperti yang dilakukan oleh generasi awal Islam?
Dakwah Adalah Kebutuhan Umat
Desa-desa dan pelosok negeri bukan kekurangan orang baik, tapi sering kekurangan orang yang mau menyampaikan kebaikan. Tidak semua masyarakat bisa datang ke masjid besar atau mengikuti kajian daring. Maka, mahasiswa bisa menjadi penghubung antara ilmu yang mereka pelajari dengan realitas yang dihadapi umat.
Lebih dari itu, safari dakwah bukan hanya mendidik masyarakat, tapi mendidik diri sendiri. Mahasiswa akan belajar menyentuh hati, memahami realitas sosial, dan membangun empati yang tidak diajarkan di ruang kelas.
Wahai mahasiswa, jangan tunggu lulus untuk berdakwah. Mulailah dengan langkah kecil: sisihkan waktu liburmu, kumpulkan temanmu, dan kunjungilah desa-desa dengan semangat membawa cahaya ilmu dan kasih sayang. Masyarakat menanti. Umat menunggu. Dan Allah mencatat setiap langkah kalian sebagai bagian dari warisan kenabian.
Bangkitlah, karena dakwah adalah jalan hidup orang-orang pilihan.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
