Dakwah: Jalan Kemuliaan, Pilar Keteguhan, dan Sumber Hidayah

Oleh : Abidah Yumna Taqiya,
(Mahasiswi Akademi Dakwah Indonesia Dewan Dakwah Jatim 2024-2025)

Dewandakwahjatim.com, Mojokerto – Dakwah adalah kehormatan agung yang menghubungkan seorang hamba dengan jejak kenabian. Ia menuntut kebijaksanaan dalam menetapkan prioritas, sehingga setiap langkahnya tepat sasaran dan bermanfaat. Banyak jiwa yang tersentuh dan mendapat hidayah melalui program dakwah yang sederhana namun tulus. Di sisi lain, dakwah juga menjadi penguat iman bagi da’inya, menjaga konsistensi di tengah ujian kehidupan. Kunci utama keberhasilan dakwah adalah keikhlasan, sebab hanya dengan niat yang murni, dakwah akan diberi taufik oleh Allah. Ucapan para da’i menjadi yang terbaik ketika mengajak kepada Allah dan amal saleh, sebagaimana pujian Allah dalam Al-Qur’an.

Kemuliaan Besar yang Allah Anugerahkan

Dakwah adalah tugas agung dan mulia yang hanya diberikan kepada orang-orang pilihan. Ia bukan sekadar aktivitas berbicara atau mengisi ceramah, melainkan tanggung jawab spiritual untuk menyambung risalah para nabi, menyampaikan kebenaran, dan mengajak umat manusia kepada jalan Allah. Ketika seseorang terlibat dalam dakwah, maka itu adalah indikasi bahwa Allah menginginkannya menjadi bagian dari penyambung risalah kenabian. Maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa dakwah adalah شَرَفٌ كَبِيرٌ (kemuliaan besar) yang Allah karuniakan kepada sebagian hamba-Nya.
Kemuliaan ini ditegaskan dalam firman Allah Ta‘ala:

“وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ”

“Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim’.” (QS. Fushshilat: 33)

Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada ucapan yang lebih baik daripada perkataan seorang da’i. Hal ini bukan karena ia berbicara dengan retorika yang indah, tetapi karena ia menyampaikan seruan yang paling mulia: seruan kepada Allah. Ia bukan hanya menyelamatkan dirinya, tapi juga menjadi perantara keselamatan bagi orang lain. Ucapan dan perbuatannya membawa nilai ibadah yang terus mengalir pahalanya, selama orang-orang mengikuti kebaikan yang ia ajarkan.

Lebih dari itu, kemuliaan dakwah juga terletak pada dampaknya yang tidak terbatas oleh waktu dan tempat. Seseorang bisa saja mengucapkan satu kalimat dakwah yang sederhana, namun menjadi sebab hidayah bagi banyak orang. Rasulullah ﷺ bersabda:

“لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ”

“Sungguh, jika Allah memberi hidayah kepada satu orang melalui dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memperlihatkan bahwa dakwah yang tulus walau kecil dapat bernilai sangat besar di sisi Allah.

Karena itu, siapa pun yang diberi kesempatan oleh Allah untuk terjun dalam dakwah baik sebagai pengajar, penulis, pengingat, ataupun pemberi contoh hendaknya menyadari kemuliaan posisi tersebut. Jangan sampai peluang mulia ini dirusak oleh niat yang salah atau dilakukan dengan cara yang tidak Allah ridhai. Dakwah adalah kehormatan, bukan beban; ia adalah tangga menuju kemuliaan dunia dan akhirat jika dijalani dengan keikhlasan dan ilmu.

Memahami Prioritas Dakwah

Seorang da’i yang bijak bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu menata langkah dakwahnya secara strategis dan penuh pertimbangan. Dalam setiap misi dakwah, tidak semua hal bisa dilakukan sekaligus. Ada hal yang harus didahulukan karena urgensinya, dan ada pula yang perlu ditunda karena belum sesuai waktunya. Maka, seorang da’i perlu menguasai kaidah fiqh al-awlawiyyāt (prinsip prioritas), agar dakwahnya terarah, efektif, dan tidak sia-sia.
Kebijaksanaan ini penting karena masyarakat yang menjadi objek dakwah sangat beragam: ada yang masih jauh dari agama, ada yang sudah mulai taat, dan ada pula yang butuh penguatan iman. Pendakwah yang memahami skala prioritas akan bisa menyesuaikan isi dakwahnya dengan kondisi dan kebutuhan umat. Ia tidak akan membahas masalah cabang ketika dasar-dasar iman belum kokoh. Ia tahu kapan harus bersikap lembut, dan kapan perlu tegas.


Allah Ta‘ala berfirman:

“ادْعُ إِلِىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ”

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini menunjukkan bahwa hikmah adalah syarat utama dalam berdakwah. Hikmah mencakup ketepatan dalam memilih kata, waktu, tempat, dan pendekatan yang sesuai dengan kondisi mad’u (objek dakwah). Tidak setiap orang dapat didekati dengan cara yang sama. Maka da’i yang bijak akan melakukan analisa sebelum melangkah, agar pesan yang ia sampaikan bisa menyentuh hati dan menggugah kesadaran.
Sebaliknya, da’i yang tidak menyusun prioritas akan sering terjebak pada kesalahan. Ia bisa jadi sibuk pada hal-hal kecil, sementara hal besar justru diabaikan. Ia terlalu fokus pada bentuk, tapi melupakan substansi. Akibatnya, kesempatan berdakwah yang berharga bisa hilang sia-sia, dan pesan yang disampaikan tidak membekas. Padahal dakwah adalah seni menyentuh hati, bukan hanya menyampaikan kata-kata.

Oleh karena itu, menjadi da’i yang berhasil tidak cukup hanya dengan semangat, tetapi harus disertai pemahaman yang matang tentang arah, tujuan, dan urutan prioritas dakwah. Dengan itu, seorang da’i akan mampu menyusun program dakwah yang kuat, menyentuh, dan berkesinambungan—yang pada akhirnya membawa manfaat besar bagi umat dan kejayaan agama.

Jembatan Hidayah Bagi Jiwa yang Lalai

Dalam setiap program dakwah yang dilakukan dengan niat tulus dan metode yang tepat, terdapat peluang besar untuk menyalurkan hidayah Allah kepada hamba-Nya. Betapa sering kita menyaksikan seseorang yang dulunya jauh dari masjid, lalai dalam shalat, atau tenggelam dalam kehidupan dunia, tiba-tiba berubah menjadi pribadi yang taat karena menghadiri satu majelis ilmu, mendengar satu ceramah, atau bahkan membaca satu kutipan singkat dari media sosial.

Inilah rahasia dari dakwah yang dilakukan dengan niat ikhlas dan pendekatan yang lembut. Ia mampu mengetuk hati-hati yang keras, membangunkan jiwa-jiwa yang tertidur. Tak jarang seorang da’i tidak menyadari bahwa satu kalimat yang ia ucapkan mampu mengubah jalan hidup seseorang. Maka jangan pernah meremehkan sekecil apa pun upaya dakwah, sebab Allah-lah yang menanamkan hidayah di dalam hati manusia.


Allah Ta’ala berfirman:

“وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ”

“Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11)

Ayat ini menunjukkan bahwa hidayah adalah milik Allah, tetapi ikhtiar manusia seperti dakwah dan nasehat sering menjadi wasilah (perantara) sampainya hidayah tersebut. Karena itu, setiap program dakwah, sekecil apa pun, sangat berarti. Tidak harus selalu dalam bentuk besar seperti seminar atau tabligh akbar, bahkan pesan singkat, diskusi santai, atau konten dakwah di media digital bisa menjadi sebab berubahnya kehidupan seseorang.

Dari sinilah pentingnya menyebarkan dakwah dengan penuh cinta dan strategi. Seorang da’i harus percaya bahwa apa yang ia lakukan hari ini, walau tidak langsung terlihat hasilnya, bisa menjadi sebab berubahnya banyak jiwa di masa depan. Maka teruslah berdakwah, teruslah menebar kebaikan, karena setiap langkah di jalan ini bisa menjadi jembatan menuju hidayah bagi orang lain dan menjadi sebab kebahagiaanmu di akhirat.

Jalan Untuk Meneguhkan Iman dan Konsistensi Beragama

Dakwah bukan hanya sarana menyampaikan kebenaran kepada orang lain, tetapi juga menjadi sebab kokohnya iman bagi diri seorang da’i itu sendiri. Ketika seorang hamba menghabiskan waktunya untuk menyeru kepada Allah, mengajak kepada ketaatan, dan mengingatkan orang lain untuk tetap berada di atas jalan Islam, maka secara tidak langsung ia juga sedang memperkuat keyakinan dan komitmen pribadinya terhadap agama yang ia dakwahkan.

Dalam aktivitas dakwah, seorang da’i dituntut untuk mengamalkan apa yang ia ucapkan, karena ia sadar bahwa lisannya menyeru kepada kebaikan. Hal ini menjadikannya terus-menerus berada dalam atmosfer iman, ilmu, dan introspeksi diri. Ia belajar lebih banyak, memurnikan niat, dan menjaga amal agar selaras dengan pesan-pesan dakwahnya. Maka tidak heran jika dakwah menjadi penjaga keistiqamahan para penyerunya.
Allah Ta‘ala berfirman:

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ”

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian.” (QS. Muhammad: 7)

Ayat ini memberikan janji yang luar biasa: barang siapa yang menolong agama Allah melalui dakwah, maka Allah akan menolongnya dan meneguhkan langkahnya di atas kebenaran. Artinya, setiap program, tenaga, bahkan lelah yang dicurahkan dalam dakwah akan dibalas oleh Allah dengan pertolongan dan keteguhan iman yang tidak semua orang miliki.

Oleh karena itu, dakwah bukan hanya tentang orang lain, tapi juga tentang penyucian diri dan penguatan keyakinan. Ia menjadi sumber energi rohani yang membuat seorang da’i tidak mudah goyah oleh ujian dunia. Dalam kondisi di mana banyak orang mulai ragu, futur (lemah iman), dan kehilangan arah, para da’i yang aktif berdakwah justru menjadi lebih kuat, karena mereka terus-menerus berada dalam orbit ketaatan. Maka, siapa pun yang ingin istiqamah di jalan Allah, hendaknya menjadikan dakwah sebagai bagian dari hidupnya.

Ruh dan Pondasi Utama Dalam Dakwah

Dalam perjalanan dakwah yang panjang dan penuh ujian, sifat paling agung yang wajib dimiliki oleh seorang da’i adalah keikhlasan. Ikhlas berarti memurnikan niat semata-mata karena Allah, tidak mengharap pujian, sanjungan, ketenaran, atau keuntungan duniawi. Seorang da’i yang ikhlas menjadikan dakwah sebagai bentuk pengabdian, bukan sebagai sarana mencari posisi atau prestise sosial.

Keikhlasan adalah ruh dakwah. Tanpanya, segala amal menjadi hampa, meskipun secara lahiriah tampak besar dan mengesankan. Allah Ta‘ala hanya menerima amal yang dilakukan untuk mencari wajah-Nya semata. Maka, seorang da’i sejati tidak akan terpengaruh oleh tepuk tangan manusia atau kecewa karena tidak dihargai. Ia menyampaikan kebenaran karena ingin Allah ridha, dan cukup baginya jika Allah mencatatnya sebagai hamba yang setia di jalan-Nya.
Allah Ta‘ala berfirman:

“وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ”

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ayat ini menunjukkan bahwa intisari dari segala amal ibadah, termasuk dakwah, adalah keikhlasan. Semua ilmu, retorika, dan strategi tidak akan bernilai tanpa hati yang tulus mengharap ridha Allah. Bahkan, semakin besar pengaruh dan posisi seorang da’i, semakin berat pula ujian keikhlasannya. Sebab godaan dunia akan senantiasa mengintai dan bisa merusak niat yang murni jika tidak dijaga.

Keikhlasan juga membawa keberkahan dakwah. Seorang da’i yang ikhlas akan lebih mudah mendapatkan taufik dari Allah. Kalimat-kalimatnya menembus hati, meski sederhana. Dakwahnya diterima dan membekas, karena keluar dari hati yang bersih. Dan yang lebih utama, Allah akan menjaga dan membimbingnya, sebab ia berdiri di atas fondasi yang kokoh: niat yang lurus karena-Nya semata. Maka, jika engkau ingin sukses berdakwah, mulailah dengan meluruskan niat.

Amalan Terbaik dan Ucapan Paling Mulia

Dakwah bukan hanya aktivitas biasa dalam kehidupan seorang Muslim, tetapi termasuk amal yang paling utama dan perkataan yang paling indah di sisi Allah Ta‘ala. Ketika seseorang menyampaikan kebenaran, mengajak manusia kepada kebaikan, serta mengarahkan mereka menuju Allah dan Rasul-Nya, maka sejatinya ia telah melaksanakan tugas yang sangat mulia dan penuh pahala. Dakwah bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi menghidupkan jiwa-jiwa yang mati dan membimbing hati menuju cahaya petunjuk.
Allah Ta‘ala mengabadikan keutamaan ini dalam firman-Nya:

“وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ”

“Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim’.”(QS. Fushshilat: 33)

Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa tidak ada ucapan yang lebih baik daripada dakwah kepada-Nya, sebab ia bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mengandung kebenaran, ketulusan, dan harapan akan perubahan. Dakwah menyentuh tiga hal penting: akal, hati, dan amal. Ucapan seorang da’i, jika disampaikan dengan keikhlasan dan hikmah, dapat menggugah jiwa yang paling beku sekalipun.

Lebih dari itu, dakwah merupakan bentuk kasih sayang seorang Muslim terhadap sesama. Ia tidak membiarkan orang lain larut dalam kebodohan dan maksiat, melainkan berusaha menyelamatkan mereka dengan ilmu, nasihat, dan teladan. Ucapan para da’i adalah penyambung wahyu, pengingat akan kebenaran, dan petunjuk menuju surga. Inilah yang menjadikan dakwah tidak hanya utama di dunia, tetapi juga tinggi nilainya di akhirat.

Maka siapa pun yang diberi kemampuan untuk berdakwah, hendaknya menyadari betapa besar kedudukan tugas ini. Jangan remehkan kata-kata yang mengajak kepada kebaikan, karena di dalamnya bisa terkandung kemenangan dan kemuliaan, sebagaimana Allah memuji ucapan para da’i dalam ayat-Nya. Teruslah berdakwah, karena dengan itu, engkau sedang menapaki jalan orang-orang yang Allah cintai.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *