Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 12 judul lainnya
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Pandai pidato penting, tapi cakap mengarang jauh lebih utama. Pidato, meski disampaikan secara menarik, isinya cenderung segera terlupakan oleh pendengarnya. Hal ini, berbeda dengan isi karangan.
Karangan untuk dipikirkan. Jika karangan sekali baca belum dipahami, bisa kita ulang sesuai keperluan sampai kita mengerti. Lebih dari itu, bersama karangan, kita bisa ”berdialog”. Caranya, dengan menulis catatan-catatan di pinggirnya. Tulislah pendapat atau komentar kita jika ada isi karangan yang tidak kita setujui. Begitu juga, jika ada yang kita setujui bahkan sangat menginpirasi.
Pidato bisa menggerakkan pendengarnya. Lihatlah, pidato Bung Karno dalam sejarah Indonesia. Perhatikanlah, pidato Bung Tomo di Pertempuran 10 November 1945 – Surabaya. Simaklah pidato sang singa podium dari Masyumi, KH Isa Anshary, di 1950-an.
Pidato bisa menggerakkan, karangan juga. Hanya saja, daya menggerakkan dari karangan jauh lebih kuat (dan lebih lama). Perhatikan apa yang pernah disampaikan Sayyid Qutb. Bahwa satu peluru hanya dapat menembus satu kepala, namun satu karangan dapat menembus ribuan (bahkan lebih) kepala.
Kalimat Sayyid Qutb di atas, bisa dibilang, disetujui semua orang. Kalimat itu dipegang dengan sepenuh cinta oleh para pengarang. Juga, dipegang dengan sepenuh semangat oleh mereka yang masih belajar menjadi pengarang. Hal yang demikian, karena kalimat itu bukan hanya menginpirasi tapi sekaligus menggerakkan.
Siapa pencetus kalimat hebat itu? Dia, Sayyid Qutb, lahir di Mesir pada 1903. Dia hafal Al-Qur’an sejak anak-anak. Dia aktivis Ikhwanul Muslimin. Dalam perjalanan waktu, dia dipenjara rezim Gamal Abdel Nasser yang menganut Sosialisme Arab. Dia syahid dihukum mati pada 20 Agustus 1966.
Apa “kesalahan” dia? Sayyid Qutb menulis sejumlah buku antara lain Ma’alimut Thariq (Tonggak Jalan) yang berisi penolakan terhadap kebudayaan jahiliyah modern dalam segala bentuknya. Sementara, rezim Gamal Abdel Nasser memandangnya sebagai sebuah kesalahan besar.
Tafsir Fii Zhilalil Qur’an (Di Bawah Lindungan Al-Qur’an) bisa dibilang “dilahirkan” Sayyid Qutb saat berada di penjara. Terkait, Hamka mengaku, tafsir Fii Zhilalil Qur’an “Banyak mempengaruhi saya dalam menulis Tafsir Al-Azhar”.
Selain Hamka, banyak ulama yang menilai Fii Zhilalil Qur’an sebagai salah satu tafsir terbaik. Hujjah-nya kuat meneguhkan iman. Bahasanya indah menyejukkan hati. Pendek kata, mampu menggelorakan spirit iman, hijrah, dan jihad.
Ajaib, Menggerakkan!
Cukup banyak kisah orang yang merasa tergerakkan untuk berbuat kebajikan setelah membaca sebuah karangan. Benar, karangan secara umum, bisa berupa dari sekadar artikel sampai buku. Semua itu, bisa menggerakkan.
Karangan bisa menggerakkan. Bahwa, lewat artikel, puisi, cepen, novel, buku, atau bentuk karangan lain yang dibacanya, seseorang atau masyarakat bisa tergerak melakukan kebajikan. Benar, tersebab sebuah karangan, seseorang atau suatu kaum bisa “hijrah” menuju keadaan yang Allah ridha.
Lihatlah!
Pernah, di Bandung, seorang ibu terbebani pikirannya atas performa sang anak. Hal ini, karena si anak yang sedang kuliah sangat malas. Dia tidak mau melakukan apapun, termasuk belajar. Bahkan, terjerat narkoba karena pergaulan yang salah.
Suatu malam, dari kamar anaknya, si ibu mendengar tangis. Dijumpainya si anak sedang sesenggukan, sementara di tangannya tergenggam sebuah novel. “Ibu, saya berjanji. Mulai sekarang saya akan rajin belajar, saya akan menyelesaikan kuliah. Pokoknya hidup saya harus sangat berguna. Selama membaca buku Laskar Pelangi saya bertekad untuk berubah. Sungguh, selama ini saya picik sekali,” tutur si anak (Huda, 2020: 118-119).
Laskar Pelangi memang fenomenal. Novel memoar itu berkisah tentang kehidupan sepuluh anak-anak dalam memperjuangkan sekolahnya. Banyak yang memuji novel-yang kemudian difilemkan-tersebut karena jalinan ceritanya yang memikat dan penuh nilai moral.
Kita pindah ke buku lain. Pascapeluncuran karya Asma Nadia dan kawan-kawan yang berjudul Catatan Hati Seorang Istri (CHSI), mengalirlah testimoni dari banyak pembaca. Bahwa, mereka merasa “harus berubah”.
Tema pokok CHSI berkisah tentang luka perempuan akibat ulah sang suami. Pada saat yang sama, digambarkan pula betapa kuatnya si perempuan dalam mengatasi masalah yang menindihnya. Lewat CHSI, para perempuan/istri dapat mengail inspirasi untuk keluar dari kemelut di atas fondasi kesabaran.
”Saya jadi merenung, memikirkan dalamnya luka perempuan akibat kelakuan suaminya. Saya ingin berubah dan membahagiakan istri saya,” demikian pengakuan seorang suami. Intinya, dia ungkapkan perasaannya yang bertambah cinta kepada sang istri setelah membaca CHSI.
Dalam takaran berbeda, saya punya cukup banyak pengalaman serupa. Salah satunya, ini sudah sangat lama, bertahun-tahun yang lalu. Kisahnya, saya mengarang artikel di sebuah koran besar kala itu. Judulnya, “Habiburrahman sebagai Fenomena Penulis Kaya” (HsFPK).
Karangan itu berintikan bahwa menjadi penulis dapat menjadikan seseorang “kaya” dan kaya. Pertama, pasti “kaya” yaitu kaya ilmu sebab profesi itu mengharuskannya banyak membaca. Tanpa membaca mustahil penulis dapat berkarya dengan baik. Dengan banyak membaca, bisa dipastikan ilmu seorang pengarang / penulis akan lebih kaya ketimbang yang bukan. Kedua, berkemungkinan kaya secara materi dari royalti buku yang ditulisnya.
Menyusul pemuatan artikel itu, saya menerima sejumlah telepon dan SMS (saat itu belum ada WA). Pagi-pagi, tak lama setelah koran edisi itu beredar, seseorang menelepon. Dia bilang, bahwa setelah membaca artikel itu, niatnya untuk menulis yang sudah lama terkubur kini bangkit lagi.
Ada juga SMS dari seorang penulis yang telah bertahun-tahun “pensiun” tak lagi menulis artikel untuk surat kabar. “Berkat motivasi Anda (di karangan itu), saya mulai menulis artikel lagi dan dimuat di harian X, hari ini,” tulis dia beberapa hari setelah pemuatan artikel saya itu.
Hai, Pengarang!
Siapa ingin menjadi pengarang / penulis? Berikut ini, saya sarikan pendapat Hamka di buku Falsafah Hidup (2002). Di halaman 153-165 ada kajian menarik. Di situ, Hamka menyampaikan beberapa hal yang terkait dengan kepengarangan.
Hamka berharap, para pengarang merdeka pikirannya. Dengan modal itu, mereka bisa tegak di tengah-tengah masyarakat. Mereka mulia, sebab berkedudukan sebagai penganjur-penganjur umat. Adapun cara menyalurkan karangan, tersedia bermacam-macam pilihan seperti lewat surat kabar, buku, dan lain-lain.
Pahamilah, tutur Hamka, tidak semua orang yang pandai menulis bisa dikatakan sebagai pengarang. Orang yang boleh menyandang predikat sebagai pengarang adalah mereka yang sanggup menyatakan pikirannya dengan kalimat yang dapat dipahami oleh banyak orang.
Enam Poin
Sejauh dapat diikuti, ada sejumlah syarat agar kita bisa menjadi pengarang yang merdeka. Ada beberapa ketentuan supaya kita patut disebut pengarang yang baik. Mari, kita simak, berikut ini:
Pertama, karangan kita dapat menjadi penambah ilmu dan bisa menjadi pedoman di dalam kehidupan. Di karangan kita, ada unsur yang baru. Di karya kita, ada perspektif spesial dalam melihat masalah yang dibahas.
Kedua, karangan kita harus disajikan dengan kata-kata yang fasih menurut kondisi waktu itu. Kalimat-kalimatnya bisa saja sedikit, namun sanggup mengatakan perasaan hati atau pikiran sang pengarang secara tajam. Dengan kualitas seperti ini, meski ada pembaca yang tidak setuju dengan isi karangan kita, yang bersangkutan terpaksa tidak membantahnya.
Ketiga, ungkapan pikiran di karangan kita bersifat sederhana. Hendaknya, narasi kita jangan dengan bahasa yang berlebihan sehingga melebihi bobot kita sendiri. Menulislah dengan sederhana, tidak melebihi hikmat yang ada pada kita.
Keempat, sadarilah tiap-tiap pengarang mempunyai ciri khas sendiri. Gaya karangan Soekarno tidak sama dengan Hatta. Prinsipnya, jadilah diri sendiri. Sekali-kali, jangan hanya meniru kepada orang-orang yang sudah terkenal. Jangan menjadi pengekor saja, sebab yang demikian potensial ditolak orang.
Kelima, karangan berharga adalah yang jujur, pendek dan terang. Boleh panjang tetapi ditulis dengan cara yang tidak membosankan.
Keenam, mengaranglah dari hati sebab yang demikian akan masuk ke hati pembaca. Yakinilah, karangan yang hanya lahir dari ujung jari hanya akan singgah sebentar di pelupuk mata pembaca.
Bayangan Akal
Bersikaplah sederhana, nasihat Hamka sekali lagi. Saat mengarang, mestilah melalui timbangan yang cukup. Dasarilah karangan kita dengan ilmu yang memadai.
M Membacalah sebanyak mungkin, yang tersurat dan tersirat.
Mengaranglah dan pakailah kata-kata yang terpilih. Berhati-hatilah, sebab kata-kata adalah bayangan akal kita. Kata-kata yang ditulis memberikan gambaran tentang dalam atau dangkal-kah kapasitas keilmuan kita. Teruslah pegang ini: Orang yang berakal, perkataannya sudah melalui ”timbangan”.
Mari, kita istiqomah mengarang. Jadilah pengarang yang merdeka, yang karangannya baik. Untuk itu, antara lain, selalu perhatikanlah berbagai petunjuk Hamka di karangan ini. []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
