Oleh: Ridwan Ma’ruf,
Ketua Majelis Pertimbangan DDII Kab. Sidoarjo ( 2024 – 2029 ) / Pendiri Tahfidz Islamic School Al Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo
Dewandakwahjatim.com, Sidoarjo – Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda dalam memaknai kemerdekaan. Ada sebagian diantaranya berpendapat, bahwa kemerdekaan adalah kebebasan dari penjajahan fisik. Namun artikel kali ini mengajak pembaca untuk menapak tilas kembali sejarah meletusnya perang Qodisiyah berlangsung selama tiga hari ( 636 M ) di sebelah timur sungai Eufrat, Irak. Perang Qodisiyah terjadi antara kaum Muslimin berhadapan dengan kaum Majusi Persia pada masa kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khattab Dan Sa’ad bin Abi Waqash sebagai panglima perang kaum muslimin pada waktu itu mengutus Rab’i bin Amir Ats-Tsaqafi untuk melakukan diplomasi dakwah menyeruh dihadapan Rustum penguasa Persia, seraya berkata:
اللهُ ابْعَثَنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ اِلَي عِبَادَةِ رَبِّ الْعِبَادِ, وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا اِلَي سَعَتِهَا, وَمِنْ جُورِ الْأَدْيَانِ اِلَي عَدْلِ الْإِسْلَامِ
“Allah mengutus kami untuk membebaskan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dari kezaliman agama-agama kepada keadilan Islam.” (Hr. Ath-Thabari)
Dari hadits tersebut diperoleh penjelasan, bahwa hakekat kemerdekaan yang sebenarnya bagi seseorang dan atau suatu bangsa ada pada tiga keadaan, yaitu :
Pertama : Kemerdekaan Dari Penghambaan Sesama Manusia
Islam mengajarkan kepada seluruh manusia agar menjadi manusia merdeka dari penghambaan kepada selain Allah. Sebagaimana firmanNya dalam An Nahl 36 :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ ۖ
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”.
Kedua: Merdeka dari kebodohan
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman di surat Muhammad 19 :
فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰىكُمْ
“Ketahuilah (ilmuilah) bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah serta mohonlah ampunan atas dosamu dan (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah mengetahui tempat kegiatan dan tempat istirahatmu.”
Dengan Ilmu pengetahuan suatu bangsa akan mampu membangun peradaban yang maju di bidang politik, ekonomi, tehnologi, sosial, budaya dlsb.
Ketiga : Merdeka dari Perbuatan Dzalim Penjajah
Kedzaliman adalah tindakan semena -mena terhadap kaum yang lemah.
Nabi SAW bersabda dalam hadis qudsi:
يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَي نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا
“Allah berfirman: wahai sekalian hambaku, aku telah mengharamkan kezaliman atas diriku, dan aku menjadikannya hal yang haram diantara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (H.R Muslim).
Oleh karenanya spirit dan pesan suci perang Qodisiyah berupa tegaknya keadilan , kesejahteraan, dan menjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan kesemuanya itu tercantum pada isi pembukaan UUD. 1945 , yaitu alinea pertama menyatakan tentang hak kemerdekaan setiap bangsa dan menolak penjajahan. Alinea kedua menjelaskan cita-cita negara Indonesia, yaitu merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Alinea ketiga menyatakan proklamasi kemerdekaan dan pengakuan atas rahmat Allah SWT. Dan Alinea keempat memuat tujuan negara, dasar negara Pancasila, dan susunan pemerintahan negara.
Sidoarjo, 17 Safar 1447 H/ 11 Agustus 2025 M
Wallaahu ‘Alamu Bish Showwab
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
