Oleh Sudono Syueb, anggota Bidang Kominfo DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Kita, para Da’i/Daiyah diingatkan oleh Sayyidina Ali bin Abu Thalib agar selalu memperhatikan tingkat pemahaman setiap komunitas yang jadi binaan kita, supaya materi da’wah yang kita sampaikan nyambung dengan pemikiran mereka.
وَقَالَ عَلِيٌّ: حَدِّثُوا النَّاسَ، بما يَعْرِفُونَ أتُحِبُّونَ أنْ يُكَذَّبَ، اللَّهُ ورَسولُهُ
الراوي : عامر بن واثلة أبو الطفيل
المحدث : البخاري
المصدر : صحيح البخاري
الصفحة أو الرقم : 127
خلاصة حكم المحدث : [صحيح]
Ali bin Abi Thalib RA berkata: “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan apa yang mereka ketshui, apakah kalian suka jika Allah dan Rasul-Nya didustakan?”
Rawi: Amir bin Watsilah Abu Thufail
Muhaddits: Bukhari
Sumber: Shahih Bukhari
Halaman atau nomor: 127
Kesimpulan hukum hadits: Shahih
Seorang ulama memberi penjelasan perkataan Ali tersebut begini:
Kemampuan manusia berbeda-beda dalam memahami dan mengerti sesuatu. Salah satu bentuk kecerdasan seorang ulama adalah menyampaikan ilmu kepada setiap individu dan kelompok sesuai dengan kemampuan dan pemahaman mereka, tanpa membuat mereka merasa tidak nyaman.
Dalam atsar ini, lanjut ulama itu, Ali bin Abi Thalib RA memberikan arahan agar kita berbicara dengan manusia sesuai dengan kemampuan akal dan pemahaman mereka, serta meninggalkan hal-hal yang mungkin sulit dipahami atau menimbulkan kerancuan, sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk mendustakan Allah dan Rasul-Nya.
Jika manusia mendengar sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh akal mereka, maka mereka akan segera cenderung untuk mendustakannya. Oleh karena itu, seorang ulama dapat menyampaikan ilmunya dengan berbagai tingkat kesulitan kepada manusia, sehingga dapat dipahami oleh semua kalangan.
Dalam atsar ini terdapat pelajaran tentang memperhatikan kondisi orang yang diajak berbicara sesuai dengan kemampuan mereka dalam memahami, serta menggunakan metode yang mudah dan penyampaian yang baik dalam berdakwah.
Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad saw:
أمرنا معاشر الأنبياء أن نحدث الناس على قدر عقولهم
“Kami, para Nabi, diperintahkan Allah untuk berbicara/mengajak kepada masyarakat sesuai dengan tingkat akal pikiran mereka”.
Para ulama menyampaikan pandangan ini berdasarkan pemahaman atas ayat Al-Qur’an yang mengatakan:
ولا تؤتواالسفهاء أموالكم التى جعل الله لكم قياما
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan”.
Artinya kita dilarang memberikan harta milik mereka manakala mereka masih dalam keadaan belum mengerti. Orang-orang yang belum mengerti itu antara lain, anak yatim dan orang dewasa yang tidak dapat mengatur harta bendanya sendiri.
Ada pula pepatah yang mengatakan :
لِكُلِّ مِقَامٍ مَقَالٌ ، وَلَيْسَ كُلُّ مَا يُعْلَمُ يُقَالُ
“Pada setiap ruang ada bahasanya (kata-kata) sendiri, dan tidak setiap yang diketahui (harus) disampaikan”. (Sudono Syueb)
Admin: Kominfo DDII Jatim
