Penyakit Hati, Racun Jiwa: 6 Sifat yang Menggerogoti dan Lawan yang Menyembuhkan

Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Hati itu ibarat raja dalam kerajaan tubuh. Jika hatinya bersih, maka seluruh anggota tubuh pun akan bersih. Tapi jika hatinya keruh, semua akan rusak. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah! Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. al-Bukhari, Muslim)

Berikut ini 6 penyakit hati paling berbahaya, yang secara diam-diam menggerogoti akhlak dan amal, beserta obat lawannya yang bisa membersihkan jiwa.

  1. Su’udzon (Berburuk Sangka)

Buruk sangka terhadap saudara Muslim bisa menjatuhkan seseorang ke dalam dosa yang amat keji. Allah mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Ḥujurāt: 12)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah sebohong-bohongnya ucapan.” (HR. al-Bukhari, Muslim)

Lawan dari su’udzon adalah husnudzon (berbaik sangka). Husnudzon menjaga hati dari prasangka dan menjaga ukhuwah.

  1. Ghibah (Menggunjing)

Membicarakan keburukan orang lain tanpa hak adalah ghibah. Allah menggambarkannya dengan sangat mengerikan:

وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

“Dan janganlah menggunjing satu sama lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik.” (QS. Al-Ḥujurāt: 12)

Lawan dari ghibah adalah diam atau berkata yang baik, serta menjaga kehormatan saudara.

  1. Hasad (Iri Dengki)

Hasad adalah membenci nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

“Jauhilah oleh kalian hasad, karena hasad itu memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud dihasankan oleh al-Albani)

Lawan dari hasad adalah qana’ah (nerimo) dan ikut bahagia atas nikmat saudara (gibtah).

  1. Ujub (Bangga pada Diri Sendiri)

Ujub adalah merasa diri hebat, padahal semua dari Allah. Ibnul Qayyim berkata:

العُجْبُ يُفْسِدُ العَمَلَ كَمَا يُفْسِدُ الخَلُّ العَسَلَ

“Ujub merusak amal sebagaimana cuka merusak madu.” (Madarijus Salikin)

Lawan dari ujub adalah tawadhu’ (rendah hati). Mengakui bahwa semua kebaikan dari Allah.

  1. Takabbur (Sombong)

Kesombongan menjauhkan seseorang dari surga. Nabi ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar zarrah dari kesombongan.” (HR. Muslim)

Lawan dari takabbur adalah khusyu’ dan rendah hati, serta menyadari semua manusia sama di hadapan Allah.

  1. Riya’ (Pamer Amal)

Amal yang baik bisa gugur jika niatnya ingin dilihat manusia. Allah berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ. الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ. الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“Maka celakalah orang-orang yang shalat. Yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya. Yang berbuat riya’.” (QS. Al-Mā’ūn: 4–6)

Nabi ﷺ juga bersabda:

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ… الرِّيَاءُ

“Yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil… yaitu riya’.” (HR. Ahmad)

Lawan dari riya’ adalah ikhlas, yaitu beramal karena Allah semata, tanpa berharap pujian.

Kesimpulan: Hati yang Bersih Melahirkan Jiwa yang Tenang

Keenam sifat ini bukan sekadar dosa-dosa kecil di hati. Ia adalah penyakit jiwa yang bisa meluluhlantakkan amal, memutus ukhuwah, dan menjauhkan dari Allah. Jalan keluar dari semua itu adalah dengan mengenali penyakitnya, lalu mengobatinya dengan sifat-sifat mulia lawannya, dan selalu memohon pada Allah agar dijaga hatinya.

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

“Ya Allah, berikanlah pada jiwaku ketakwaannya, dan sucikanlah ia. Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya, Engkau pelindung dan pemiliknya.” (HR. Muslim)

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *