Larangan Viralkan Aib Orang dan Riya’

Oleh: Sudono Syueb, Anggota Bidang Kominfo DDII Jatim

Dewandawahjatim.com, Surabaya – Dalam obrolan ofline atau online tidak jarang kita menyebut aib kawan kita, lalu kita goreng hingga obrolan itu semakin seru dan melebar kesan-kemari karena asyiknya.

Ketauilah bahwa ketika kita memviralkan aib orang lain, maka Allah akan memviralkan aib kita juga.

Rasulullah SAW bersabda:

عن جُنْدُب الْعَلَقِيَّ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ يُسَمِّعْ يُسَمِّعِ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ “.
صحيح مسلم 2987

Dari Jundub Al-‘Alaqi, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang memviralkan (aib orang lain), maka Allah akan memviralrkan (aibnya) kepadanya. Dan barangsiapa yang memperlihatkan (amalannya) untuk dilihat orang lain, maka Allah akan memperlihatkan (aibnya) kepadanya.” (Shahih Muslim no 2987)

Allah SWT menjadikan balasan sesuai dengan jenis amal perbuatan. Maka, barangsiapa yang ikhlas dalam beramal dan berniat karena Allah, maka dia akan mendapatkan balasan yang sempurna. Namun, barangsiapa yang beramal dengan niat lain, maka Allah akan memperlakukan dia sesuai dengan apa yang dia inginkan, tetapi dengan cara yang bertentangan dengan apa yang dia inginkan.

Dalam hadis ini, Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa memviralkan/memperdengarkan (aib orang lain), maka Allah akan memperdengarkan (aibnya) kepadanya.”

Artinya, barangsiapa yang mengumumkan aib orang lain dan tidak menutupinya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, maka Allah akan mengumumkan aibnya di dunia dan di hari kiamat di hadapan makhluk-Nya, dan akan menampakkan apa yang dia sembunyikan.

Demikian pula, barangsiapa yang beramal untuk mendapatkan pujian dan sanjungan dari orang lain, maka Allah akan memperlakukan dia sesuai dengan apa yang dia inginkan, yaitu dengan memperlihatkan aibnya.

Dalam hadis ini, terdapat peringatan agar tidak mencari pujian dan sanjungan orang lain dalam beramal, dan agar seseorang hanya berniat untuk mencari ridho Allah semata. Allah tidak akan menerima amal kecuali yang ikhlas karena-Nya.

Perbedaan antara riya’ dan sum’ah adalah bahwa sum’ah terkait dengan pendengaran, sedangkan riya’ terkait dengan penglihatan. Namun, keduanya sama-sama merupakan tindakan yang tidak ikhlas dalam beramal.

Hadis ini juga menunjukkan bahwa Allah akan memperlihatkan aib seseorang yang beramal tidak ikhlas di dunia atau di akhirat, dan mungkin akan memperlihatkan amalannya kepada orang lain sehingga mereka mengetahuinya, lalu Allah akan menghukumnya di akhirat. Sebagaimana
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَنْ كَا نَ يُرِيْدُ حَرْثَ الْاٰ خِرَةِ نَزِدْ لَهٗ فِيْ حَرْثِهٖ ۚ وَمَنْ كَا نَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰ خِرَةِ مِنْ نَّصِيْبٍ
Artinya, “Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 20)

Admin: Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *