Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Bagi mereka yang hatinya terus mencari sandaran, yang gelisah saat merasa sendirian, sesungguhnya tidak ada sandaran yang lebih kokoh selain Allah. Dunia ini tak pernah menjanjikan kepastian. Kekasih bisa berkhianat, tahta bisa runtuh, harta bisa lenyap sekejap. Maka menautkan hati kepada Allah adalah jalan keselamatan. Karena hati selalu butuh tempat bersandar, dan tempat bersandar yang paling kuat adalah pada Dzat Yang Maha Kuat dan Kekal.
Iman kepada Allah dalam Al-Qur’an sering digandengkan dengan iman kepada hari akhir. Hari akhir bukan cuma tentang kiamat jagat raya, tetapi juga tentang kematian pribadi setiap manusia.
“وَبِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ”
dan kepada kehidupan akhirat, mereka meyakini sepenuh hati. (QS. Al-Baqarah: 4).
Keyakinan ini melahirkan keberanian, karena orang yang yakin akan akhirat tidak akan goyah hanya karena kegagalan duniawi.
Orang mukmin yang menautkan hatinya kepada Allah akan siap menghadapi kematian kapan pun ia datang. Karena ia selalu bersiap. Ia tidak hidup dalam ketakutan, tapi dalam persiapan. Ia tidak lari dari kematian, tapi berlari menuju pertemuan terbaiknya. Itulah yang membuatnya kokoh menjalani hidup: hatinya tidak mudah tumbang, tidak gampang mengeluh, dan pantang sambat.
Dalam mengarungi lautan kehidupan, ada ombak dan badai — tetapi ia tetap tenang dan tangkas, karena hatinya ditambatkan kepada Allah, bukan pada dunia.
Hadimulladz-dzat — pemutus segala kelezatan — yaitu kematian, bukan sesuatu yang menakutkan bagi mereka yang bersandar kepada Allah. Ia bukan tragedi, melainkan gerbang menuju kehidupan yang abadi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“أكثروا ذكر هادم اللذات”
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi).
Karena dengan mengingat kematian, hati menjadi jernih, dan dunia tak lagi menipu.
Seorang ulama berkata:
“Orang yang cerdas bukan yang banyak hartanya, tapi yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk setelahnya.”
Maka orang yang terus menautkan hati kepada Allah akan kuat dalam menghadapi kenyataan hidup. Ia tahu, dia tidak bisa mengendalikan segala yang di luar dirinya, tapi dia bisa mengendalikan apa yang di dalam dirinya — yaitu hatinya. Jika hatinya lemah, dia akan panik, mudah tersesat, salah ambil keputusan. Tapi jika hatinya kuat, dia akan tetap tenang, fokus, dan terarah. Karena yang menuntun langkahnya bukan hawa nafsu, tapi cahaya iman.
Mati bukan sesuatu yang ditakuti, tapi sesuatu yang harus selalu disiapkan. Sebab ia bukan akhir segalanya, tetapi awal dari segalanya — jika kita telah menautkan hati kepadaNya dan memutus tali-tali dunia yang mengikat jiwa.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
