Nasihat A.Hassan bagi Murid dan Guru

Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 12 judul lainnya

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – A.Hassan seorang Ulama Besar. Ahmad Hassan (nama lengkapnya) seorang pendidik terkemuka yang telah melahirkan banyak murid sukses. Sebagian di antara muridnya lalu menjadi pemimpin umat dan bangsa. Satu di antara murid A.Hassan adalah M.Natsir (Bapak NKRI dan Perdana Menteri pertama setelah Indonesia kembali ke NKRI).

A.Hassan yang Guru Utama Persis (Persatuan Islam), punya banyak karya tulis. Dua di antara yang mudah kita ingat adalah Tafsir Al-Furqan dan Pengajaran Shalat. Tentu, akan sangat bermanfaat jika kita bisa mengambil pelajaran dari berbagai karyanya.

Dari Ulama-Pendidik

Pada 2023 Mufi Alzihad menulis skripsi berjudul Peran Ahmad Hassan di Pondok Pesantren Persis Pajagalan Bandung (1936-1940). Di dalamnya disebutkan bahwa untuk membentuk karakter atau akhlak santrinya, Ahmad Hassan memberikan perhatian yang luar biasa. Bahwa, agar santrinya berakhlak dan kelak berguna di masyarakat sesuai tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah, Ahmad Hassan memberikan pengajaran seperti kedisiplinan, keteladanan, kejujuran dan mencintai buku.

Di atas, disebut bahwa di antara yang dikerjakan A.Hassan agar santrinya (pada 1936-1940) punya akhlak yang baik dan berguna bagi masyarakat adalah dengan mengondisikan santrinya untuk mencintai buku. Agar mencintai buku, harus tersedia banyak buku. Terkait, Ahmad Hassan konsekwen. Dia menulis banyak buku. Salah satu di antaranya berjudul Kesopanan Tinggi Secara Islam. Buku ini terbit kali pertama pada 1939.
Buku yang disebut di atas telah cetak ulang beberapa kali. Mari kita buka buku itu, yang terbitan aA-Muslimun qaa(Pasuruan) aaaapada 2021. QTebalnya, vii + 96 halaman. Isinya, qqqberupa qqqqqqqnasihat-nasihat A.Hassan kepada masyarakat umum.
Kita lihat Daftar Isi-nya:
Pendahuluan.

  1. Kesopanan Manusia terhadap Tuhan
  2. Kesopanan Umat terhadap Nabi-nya
  3. Kesopanan Anak terhadap Ibu/bapak-nya
  4. Kesopanan Anak(-anak) terhadap Orang Tua-nya
  5. Kesopanan Manusia terhadap Orang Alim
  6. Kesopanan Seseorang terhadap Jiran (Tetangga)-nya
  7. Kesopanan Manusia di Dalam Hal Perkawinan dan Rumah Tangga

Muliakanlah Guru

Kita baca buku Kesopanan Tinggi Secara Islam. Di halaman 30, dibahas Kesopanan Manusia terhadap Orang Alim. Bahwa, tiap-tiap manusia yang belajar, pasti ingin mendapat ilmu. Meskipun ilmu itu ada tertulis di buku-buku, tetapi kunci dan rahasianya ada di tangan guru (h.30).

Pokok-pokok ilmu patut kita dapat dari guru-guru. Hikmahnya, antara lain, agar kita bisa mendapatkan ilmu dengan lekas, terang, dan jelas. Benar, waktu kita bisa termanfatkan dengan lebih baik saat mencari ilmu.
Hendaknya, kita menjaga adab kepada guru. Yakinilah, murid yang disukai guru selalu dapat mencapai cita-citanya yang tinggi. Terus bersikap manislah kita kepada guru. Hormatilah guru dengan berlaku sopan di hadapannya dan menuruti perintah-perintahnya (baik di hadapan dan di belakangnya).

Nabi Saw bersabda, ”Muliakanlah orang yang kamu belajar darinya” (HR Abdul Hasan Al-Mawardi). Sabda Nabi Saw yang lain, ”Muliakanlah guru-guru agama karena barangsiapa memuliakan mereka berarti ia memuliakan aku” HR Abul Hasan Al-Mawardi).

Ini, Jauhi!

Ada hal-hal lain yang seharusnya juga menjadi pedoman dasar, yaitu sekali-kali jangan pernah bersikap tak memuliakan guru. Berikut ini, tak boleh kita lakukan. Berikut ini, sekadar contoh, perkara-perkara yang tidak sopan terhadap guru saat di dalam kelas:

  1. Bertingkah laku kasar.
  2. Bercakap-cakap dengan teman, apalagi jika sampai tertawa.

Berhati-hatilah! Perbuatan-perbuatan yang seperti di atas dinamakan perbuatan murid yang tidak mengindahkan gurunya. Begitu juga, dengan perbuatan-perbuatan lain yang serupa itu (h.31).

Orang yang tidak menghormati guru dinamakan tidak sopan kepada guru dan kepada ilmu yang diajarkan. Adapun orang yang tidak memuliakan ilmu adalah orang yang tidak memuliakan perintah Allah. Padaha, telah bersabda Nabi Saw, ”Barang siapa menghormati orang alim berarti ia menghormati Tuhannya” (HR Abul Hasan Al-Mawardi). Hal ini, karena menghormati orang alim itu berarti menghormati ilmunya dan menghormati ilmu itu berarti menghormati perintah Allah (h.32).

Ada contoh lain terkait perbuatan tak terpuji dari murid. Misalnya, murid menyiapkan pertanyaan (yang sebenarnya ia sudah tahu jawabannya). Lalu ia tanyakan kepada gurunya di hadapan murid-murid yang lain atau di depan orang-orang lain. Dia merasa senang kalau gurunya tidak bisa menjawab. Bersamaan dengan itu ia berharap dipuji teman atau orang lain, karena dikira pintar. Kelakuan murid yang seperti ini, selain tidak sopan juga termasuk menghina guru (h.32).

Saling Hormat

Hal yang mesti, kata A.Hasssan, antara murid dan guru harus saling hormat. Murid menghormati guru dan guru menghormati murid. Untuk yang disebut terakhir, Nabi Saw bersabda, ”Hormatilah orang yang kamu ajar” (HR Abul Hasan Al-Mawardi). Maka, guru yang tidak hormat kepada murid sebagaimana mestinya tentulah tidak mendapat kehormatan dari murid sebagaimana mestinya (h.33).

Dengan demikian, tak hanya murid yang harus menghormati guru. Guru pun harus menghormati murid. Hanya dengan ”keseimbangan” itu akan didapat situasi belajar-mengajar yang kondusif.

Ikuti, Jalani!

A.Hassan seorang Ulama Besar. Tentu semua pendapatnya didasarkan terutama kepada Al-Qur’an dan Hadits. Di titik ini, kita tak meragukan atas berbagai nasihatnya di buku Kesopanan Tinggi Secara Islam.
A.Hassan seorang Ulama Besar sekaligus pendidik yang sudah teruji. Atas fakta ini, sungguh beralasan jika kita mengikuti berbagai nasihatnya di berbagai karya tulisnya. Khusus kepada murid dan guru, perlu kiranya mencermati dan mengamalkan nasihat A.Hassan di telaah berjudul Kesopanan6 Manusia terhadap Orang Alim.@ Semoga Allah mudahkan, aamiin. []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *