Artikel Terbaru ke-2.230
Oleh: Fatih Madini
(Guru Pesantren At-Taqwa Depok)
Dewandakwahjatim.com, Depok – Pada hakikatnya Islam adalah agama ilmu. Peradabannya adalah peradaban yang berlandaskan ilmu serta menjunjung tinggi ilmu dan semangat keilmuan. Islam menempatkan ilmu sebagai kewajiban, tolak ukur kemuliaan manusia serta kebangkitan negara dan agama.
Karena itu, ilmu menempati kedudukan yang sangat mulia dalam Islam. Burhanuddin al-Zarnuji misalnya, melalui kitab Ta’lim al-Muta’allim-nya mengatakan:
“Kami ridha dan rela pembagian Yang Maha Kuasa atas kami ilmu, dan bagi musuh-musuh kami, harta. Karena harta dalam waktu dekat akan binasa, sementara ilmu akan terus kekal dan senantiasa ada… Orang-orang bodoh (yang enggan dan malas menuntut ilmu) lama-kelamaan akan “mati”, meskipun belum datang kematian untuk mereka. Sedangkan orang-orang berilmu, akan tetap hidup meskipun telah wafat… Dan dalam kebodohan, sebelum orangnya wafat, kejahilan sudah mematikan orang-orangnya. Sekalipun belum dikubur, jasad mereka seakan telah menjadi kuburan yang hina… Adapun orang-orang berilmu, sekalipun ajal menjemput, mereka akan selalu hidup di tengah umat manusia. Mereka akan terus hidup kekal setelah kematiannya, bahkan setelah tulang-berulang mereka hancur seketika di dalam kubur. Sedangkan mereka yang malas memupuk dirinya dengan ilmu, hanya akan seperti orang yang mati, namun berjalan-jalan di alam dunia. Pada hakikatnya, keberadaan mereka di muka bumi, adalah suatu ketiadaan.”
Para sarjana Barat pun mengakui eratnya hubungan Islam dengan ilmu pengetahuan. Robert Briffault, seorang ahli bedah berkebangsaan Perancis, mengungkapkan, “Sungguh ilmu merupakan suatu karunia besar yang diberikan peradaban Arab (baca: Islam) kepada dunia dewasa ini.”
Timothy C. Batten Sr, seorang Hakim dari Mahkamah Daerah Amerika Serikat untuk Daerah Utara Georgia menegaskan kalau “Kecenderungan itu (Muslimin Arab yang senang berpindah-pindah dan mengembara) didukung oleh naluriah senang memetik ilmu dari bangsa Yunani dan bangsa-bangsa kuno lainnya dalam bidang ilmu bumi dan ilmu falak. Di samping itu kesenangan melakukan penelitian dan penyelidikan yang menjalar ke seluruh umat Islam lainnya, bersama mengalirkan sifat rindu ingin ziarah ke Mekah dan ke lembaga-lembaga pendidikan Islam yang utama. Ketika bangsa Eropa masih asyik dengan soal sihir, para dokter Arab Muslim sudah melakukan operasi tubuh, dan pandai menggunakan berbagai ramuan untuk obat.”
Seorang orientalis sekaligus arkeolog asal Inggris, Stanley Edwart Lane-poole pun sampai berkesimpulan: “Bagi orang yang mempelajari sejarah Perang Salib, tidak perlu lagi belajar tentang keutamaan peradaban. kiranya keberanian, kebesaran jiwa, kemuliaan akhlak, toleransi, kemurahan hati yang hakiki dan pendidikan yang sehat, semuanya itu pada waktu berkecamukannya perang ada dipihak kaum Muslimin.” (Dikutip dari buku: Zakaria Hasyim Zakaria, Pendapat Cendekiawan Dan Filosof Barat Tentang Islam, (1990).
Tidak hanya mereka, Franz Rosenthal (profesor Louis M. Rabinowitz ahli Bahasa Semit di Yale University dan Profesor Sterling Emiritus dari Arab, serta sarjana Sastra Arab dan Islam di Yale) juga menjelaskan kemuliaan kedudukan ilmu dalam Islam. Melalui karyanya, Knowledge Triumphant: The Concept of Knowledge in Medieval Islam, (Leiden: Brill, 2007), ia mengakui bahwa ilmu dan Islam adalah satu kesatuan yang tak dapat terpisahkan. Konsep ilmu, sebagai konsep terpenting, telah menjelmakan Islam sebagai peradaban yang berbeda dan kompleks. Tidak ada cabang kehidupan intelektual Muslim, dalam kehidupan beragama dan politiknya, dan kehidupan masyarakat Muslim awam yang tidak tersentuh dari meluasnya ilmu sebagai nilai yang agung dalam diri seorang Muslim. Dan secara tegas ia nyatakan, “’Ilm is Islam”:
“For ‘ilm is one of those concepts that have dominated Islam and given Muslim civilization its distinctive shape and complexion. In fact, there is no other concept that has been operative as a determinant of Muslim civilization in all its aspects to the same extent as ‘ilm. This holds good even for the most powerful among the terms of Muslim religious life such as, for instance, tawwîd “recognition of the oneness of God,” ad-dîn “the true religion”, and many others that are used constantly and emphatically. None of them equals ‘ilm in depth of meaning and wide incidence of use. There is no branch of Muslim intellectual life, of Muslim religious and political life, and of the daily life of the average Muslim that remained untouched by the all-pervasive attitude toward “knowledge” as something of supreme value for Muslim being. ‘Ilm is Islam, even if the theologians have been hesitant to accept the technical correctness of this equation. The very fact of their passionate discussion of the concept attests to its fundamental importance for Islam.”
Begitulah kemuliaan ilmu dalam Islam. Rasulullah saw menempatkan para pencari ilmu di tempat yang terhormat dan mulia. “Siapa yang keluar rumah untuk mencari ilmu, maka ia sedang berjihad di jalan Allah,” begitu pesan Rasulullah saw. Semoga kita bisa memahami dan mengamalkannya. Amin. (Depok, 28 Mei 2025).
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
