Bintang: Titik Cahaya Kecil yang Menuntun Langkah Besar

Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim

Dewandajwahjatim.com, Surabaya – Sebelum kompas ditemukan, sebelum GPS muncul di layar ponsel, umat manusia lebih dulu mengenal bintang. Ia bukan sekadar cahaya kecil di langit gelap, tapi peta langit yang tak pernah salah arah.

Bintang dalam Peradaban Pra-Islam: Petunjuk di Tengah Gurun

Bangsa Arab kuno hidup di lingkungan padang pasir yang luas dan minim penanda. Mereka bepergian malam hari karena siang terlalu panas, dan ketika matahari tenggelam, bintanglah yang menuntun mereka.

Mereka pun memberi nama pada bintang-bintang dan rasi-rasi langit:

Suhail, Sirius, Al-Thurayya (Pleiades), dan banyak lagi.

Beberapa bintang digunakan sebagai penanda musim, musim tanam, atau waktu migrasi hewan.

Al-Manazil al-Qamar (27 posisi bulan): digunakan oleh bangsa Arab untuk mengenali waktu dan arah lewat posisi bulan dan bintang.

Mereka melihat bintang, dan berkata: “Ini jalan ke Yaman. Itu menuju Syam. Itu tanda musim panen.”

Jadi, bagi mereka, bintang adalah petunjuk perjalanan dan penjaga waktu.

Bintang dalam Islam: Hiasan Langit, Penunjuk Jalan, dan Senjata Melawan Setan

Islam datang bukan untuk menghapus makna bintang, tapi memurnikannya dari unsur syirik dan tahayul.

Allah menyebut bintang secara agung dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan bintang-bintang itu sebagai perhiasan langit dunia, dan sebagai alat lempar bagi setan, dan Kami jadikan ia sebagai penunjuk arah bagi manusia.” (QS. Al-Mulk: 5)

Makna bintang dalam Islam mencakup tiga hal besar:

  1. Zinah – Perhiasan langit:
    Bintang menghiasi malam, membangkitkan rasa takjub dan keindahan ciptaan Allah.
  2. Rujum li asy-syayatin – Lemparan bagi setan:
    Makna gaib: Allah menjadikannya pengusir jin yang mencuri berita langit. Ini adalah dimensi transenden bintang.
  3. ‘Alamat – Penunjuk arah:
    Bagi pelaut, musafir, dan pengembara, bintang adalah penunjuk jalan yang Allah tugaskan secara langsung.
    Allah berfirman:

“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu agar kamu mendapat petunjuk dengan perantaraannya dalam kegelapan di darat dan di laut.” (QS. Al-An’am: 97)

Islam Menolak Penyembahan & Ramalan Bintang

Masyarakat jahiliyah sering mengaitkan bintang dengan nasib, ramalan, dan peruntungan, seperti: Zodiak dan Ramal arah hidup berdasarkan bintang lahir. Keyakinan bahwa bintang membawa sial atau keberuntungan

Islam menolak itu semua. Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang mempelajari sebagian ilmu bintang (untuk ramalan), maka ia telah mempelajari sebagian dari sihir…” (HR. Abu Dawud)

Jadi: Islam membolehkan ilmu astronomi dan navigasi selama untuk ilmu dan penunjuk arah, bukan untuk ramalan dan sihir.

Bintang dan Jiwa: Simbol Cahaya Kecil dengan Fungsi Besar

Secara ruhani dan filosofis, bintang adalah simbol: Petunjuk dalam kegelapan. Cahaya kecil yang tak padam. Kesetiaan pada porosnya. Ilmu yang menunjukkan arah

Ibnul Qayyim pernah mengatakan:

“Ilmu itu laksana bintang-bintang di langit; jika bintang padam, musafir tersesat.”

Bintang dan Umat Ini

Wahai umat Islam,
Lihatlah ke langit di malam hari. Jangan hanya melihat gelapnya malam, tapi perhatikan bintang-bintang yang Allah tempatkan di sana.

Bintang tak bersinar seperti matahari, tapi ia setia menunjukkan arah saat semuanya gelap.

Maka jadilah seperti bintang: Kecil di mata dunia,Tapi penunjuk arah bagi mereka yang tersesat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *