TANPA IJAZAH, MONYET BISA BEKERJA

Artikel Terbaru ke-2.232
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

Dewandakwahjatim.vom, Depok - Beberapa hari lalu, saya menerima kiriman video yang menarik. Seekor monyet bekerja di sebuah restoran. Ia tampak terampil memotong daging, menggoreng, dan juga menyajikan makanan. Jelas itu monyet. Tapi, sangat terampil. Kabarnya, ini hasil rekayasa Kecerdasan Buatan (AI).

Terlepas dari itu, monyet selama ini termasuk binatang yang bisa dilatih untuk menjalani pekerjaan tertentu. Dulu, tontonan topeng monyet cukup digemari anak-anak. Di dunia sirkus, monyet pun bisa memainkan ketrampilan tertentu. Asalkan dilatih.
Bukan hanya monyet yang bisa dilatih. Binayang lain pun bisa. Meskipun sangat terampil mengerjakan pekerjaan tertenti, tetapi binatang tidak dapat membangun peradaban. Mereka bisa cari makan. Setelah itu, ia bersenang-senang menikmati aneka syahwat. Ujungnya berakhir dengan keterasingan jiwa. 

Prof. Wan Mohd Nor dalam bukunya, Budaya Ilmu, mengutip filosof Spanyol Jose Ortega yang menggambarkan bahwa pendidikan di Eropa telah melahirkan banyak orang-orang profesional tetapi juga uncivilised (tidak beradab).
Dalam buku Jangan Kalah Sama Monyet, saya menulis:  “Jika mahasiswa kuliah hanya untuk cari makan, maka renungkanlah: "Monyet saja bisa makan tanpa kuliah". 

Nabi Muhammad SAW bersabda: "Akan datang pada umat manusia tahun-tahun yang penuh kebohongan. Saat itu pembohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap pembohong. Pengkhianat dianggap sebagai orang amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Dan yang banyak berbicara kepada masyarakat adalah ruwaibidhah. Ada yang bertanya, "Siapakah ruwaibidhah itu?" Rasulullah SAW menjawab, "Orang bodoh yang memegang urusan masyarakat". (terj. HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Hakim).

Pembukaan UUD 1945 sudah menegaskan, bahwa negara kita berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Sepatutnya, pendidikan kita sejalan dengan amanah konstitusi UUD 1945, yaitu melahirkan manusia beriman, bertaqwa dan berakhak mulia. Jadi, pendidikan jangan disempitkan maknanya sekedar proses untuk melahirkan manusia agar bisa mencari makan. 

Pakar pendidikan Islam, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan, pendidikan merupakan proses penanaman nilai-nilai adab (inculcation of adab) ke dalam diri manusia, sehingga manusia menjadi semakin adil. Tujuan pendidikan adalah melahirkan orang baik (good man), sebagai manusia, sebagai hamba Allah dan khalifatullah di bumi. 
Al-Quran banyak memperingatkan tentang manusia-manusia yang perilakunya seperti binatang. Ada yang digambarkan perilakunya seperti binatang  ternak; ada yang digambarkan seperti anjing, dan sebagainya (Lihat QS al-A’raf: 175-176, 179, Muhammad:12, dan sebagainya). 

Jadi, tugas pendidikan adalah menjadikan manusia agar menjadi makhluk yang paling mulia, yaitu manusia yang bertaqwa. Jangan manusia diturunkan derajatnya sebagai makhluk yang tujuan hidupnya hanyalah untuk mencari makan. Padahal, tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. 
Dalam al-Quran  surat At-Tin dijelaskan, bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik. Tapi, derajatnya bisa jatuh ke jurang kehinaan, jika ia tidak beriman dan beramal shalih. 

Jadi, beriman dan beramal sholih, itulah kunci kemuliaan manusia. Pendidikan yang tidak mengangkat derajat manusia menjadi mukmin sejati adalah pendidikan yang gagal. Perwujudan dari iman yang sempurna adalah akhlak mulia.
Kunci meraih semua kesuksesan itu adalah ‘ilman nafi’an (ilmu yang bermanfaat). Ilmu yang bermanfaat didapat jika pendidikan didasari niat yang ikhlas dan adab yang baik dalam mencari ilmu. Anggaran pendidikan penting. Tapi, bukan yang terpenting. Guru, orang tua, dan murid yang baik menjadi kunci sukses pendidikan.
Pendidikan anak memang menjadi tanggung jawab orang tua. Tetapi, pemerintah yang baik memiliki peranan besar dalam mendidik orang tua, agar bisa menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya.


Semoga pendidikan kita lebih mengutamakan iman dan akhlak mulia, ketimbang soal administrasi dan ijazah. InsyaAllah, kita tidak kalah dengan monyet. (Depok, 30 Juni 2025).

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *