Oleh Kemas Adil Mastjik, Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kader Ulama Dewan Da’wah Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Ada yang menarik, terkait Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) Ramah. Hal itu, yaitu MPLS ramah, adalah kegiatan pengenalan lingkungan sekolah yang dilakukan dengan cara yang menyenangkan, aman, dan mendukung tumbuh kembang siswa. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu siswa baru merasa nyaman dan percaya diri dalam lingkungan sekolah baru mereka. MPLS yang ramah juga dapat membantu meningkatkan motivasi belajar siswa dan dapat mengembangkan keterampilan sosial yang penting dan memiliki karakter yang positif.
Untuk mewujudkan MPLS Ramah yang mendorong tumbuh kembang potensi dan penguatan karakter murid, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menerbitkan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 10 Tahun 2025 tentang Pelaksanaan MPLS Ramah pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Tahun Ajaran 2025/2026.
Membangun Karakter
Menurut Pusat Bahasa Depdiknas, karakter diartikan sebagai “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Sementara, dalam KBBI Kemedikbud Edisi V, karakter memiliki pengertian “Sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti”.
Karakter merupakan fondasi penting dalam kehidupan seseorang. Karakter yang baik dapat membantu individu menjadi lebih percaya diri, memiliki integritas, dan dapat berinteraksi dengan orang lain secara positif. Oleh karena itu, membangun karakter yang baik sejak dini sangat penting.
Bullying, Awas!
Kasus bullying di sekolah merupakan masalah serius yang dapat memiliki dampak negatif pada siswa, baik secara fisik maupun mental. Berikut beberapa contoh kasus bullying di sekolah:
- Bullying verbal: Siswa menjadi korban ejekan, hinaan, atau ancaman dari teman-temannya.
- Bullying fisik: Siswa menjadi korban kekerasan fisik, seperti dipukul, ditendang, atau dilempari benda.
- Bullying sosial: Siswa diisolasi atau dikucilkan oleh teman-temannya, sehingga merasa tidak memiliki teman atau tidak diterima.
- Cyberbullying: Siswa menjadi korban bullying melalui media sosial, seperti ejekan atau ancaman melalui pesan singkat atau postingan di media sosial.
Dampak bullying di sekolah dapat sangat serius, termasuk:
- Stres dan kecemasan: Siswa yang menjadi korban bullying dapat mengalami stres dan kecemasan yang berkepanjangan.
- Rendahnya prestasi akademik: Siswa yang menjadi korban bullying dapat mengalami kesulitan dalam belajar dan memiliki prestasi akademik yang rendah.
- Masalah mental: Siswa yang6 menjadi korban bullying dapat mengalami masalah mental, seperti depresi atau gangguan kecemasan.
- Kurangnya kepercayaan diri: Siswa yang menjadi korban bullying dapat kehilangan kepercayaan diri dan merasa tidak berharga.
Agar Baik
Strategi yang dapat dibangun untuk mencapai tujuan:
- Model perilaku positif: Orang tua dan guru dapat menjadi model perilaku positif bagi anak.
- Diskusi dan refleksi: Anak dapat diajak berdiskusi dan refleksi tentang nilai-nilai positif dan perilaku yang diharapkan.
- Kegiatan kelompok: Anak dapat diajak melakukan kegiatan kelompok yang mempromosikan kerja sama dan keterampilan sosial.
- Penghargaan dan pujian: Anak dapat diberikan penghargaan dan pujian atas perilaku positif mereka.
- Pendidikan karakter: Anak dapat diberikan pendidikan karakter yang sistematis dan terstruktur.
Dengan strategi tersebut, anak dapat membangun karakter yang kuat dan positif, sehingga dapat mengurangi atau menghilangkan bullying.
Konsep Pendidikan
Patut dicatat bahwa dalam kondisi apa pun, secara prinsip, konsep pendidikan ideal dalam pandangan Islam tidak berubah. Hal ini, karena fokus utamanya adalah mendidik manusia – yang memang tidak berubah sejak zaman Nabi Adam As sampai hari kiamat tiba. Manusia (Bani Adam) tetap manusia ciptaan Allah dengan kondisi jiwa dan raganya yang sama sepanjang zaman.
Oleh karena itulah, maka konsep pendidikan ideal sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an dan dicontohkan langsung oleh Rasulullah Saw, secara prinsip tidaklah berubah. Nabi Muhammad Saw diutus untuk seluruh manusia sepanjang zaman. Rasulullah Saw pun menjadi model ideal dalam pendidikan; baik diri beliau, keluarga beliau maupun masyarakat Madinah yang menjadi model dan contoh masyarakat terbaik.
Pendidikan anak sejak kecil harus terbiasa menjalankan adab sosial yang baik dan dasar-dasar psikis yang mulia. Semua itu, harus bersumber pada aqidah islamiyah yang abadi dan perasaan keimanan yang mendalam agar di dalam masyarakat nanti dia bisa tampil dengan pergaulan dan adab yang baik, keseimbangan akal yang matang dan tindakan bijaksana.
Islam dan Karakter
Islam telah menegakkan dasar-dasar pendidikan yang utama di dalam jiwa individu-individu, baik kecil maupun besar, laki-laki maupun wanita, orang tua maupun pemuda. Dasar dasar yang dimaksud bersifat mulia dan mapan serta di atas dasar paedagogis yang abadi.
Untuk menanamkan dasar-dasar psikis di dalam diri individu dan kelompok, Islam telah menetapkan arahan yang sangat berharga, demi tercapainya kesempurnaan pendidikan sosial yang berkarakter, dari segi makna maupun tujuannya.
Gambaran manifestasi tercapainya kesempurnaan pendidikan anak yang berkarakter antara lain, mengutamakan orang lain di dalam masyarakat islami terdahulu. Contoh, Al-Ghazali meriwayatkan di dalam al-Ihya’ dari ibnu Umar Ra. Bahwa ia berkata, aku menyediakan satu penggal kepala kambing kepada seorang laki-laki dari seorang sahabat Rasulullah Saw. Laki-laki itu berkata, si fulan lebih membutuhkannya daripada aku. Kemudian laki-laki itu mengirimkannya kepada orang yang disebutkannya tadi. Orang yang disebutkan itupun mengirimkan kepada orang yang dianggap lebih membutuhkannya dibanding dirinya sendiri. Kepala kambing itu masih saja dikirim-kirimkan dari seseorang kepada yang lainnya sampai kembali lagi kepada orang yang pertama, setelah 7 kali berpindah tangan. Jadi, ia telah melupakan dirinya sendiri di dalam upaya membahagiakan orang lain.
Petunjuk Terang
Simak (terjemahan) beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits yang terkait dengan pendidikan karakter, berikut ini:
“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” (QS Al-A’raf 199).
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain” (QS Al-Hujurat 12).
“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan itu, dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS Al-Furqan 2).
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR Bukhari dan Muslim).
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbicaralah yang baik atau diam”( HRTirmidzi).
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya” (HR Muslim).
Demikian pendidikan karakter berdasarkan al-Qur’an dan Hadits yang dapat membangun akhlak yang mulia seperti jujur, amanah, sabar, pemaaf dan toleran terhadap orang lain. Di samping itu, karakter yang baik bercirikan menekankan pentingnya komunikasi yang baik dan bijak dalam berinteraksi dengan orang lain.
Unggul dan Sukses!
Terakhir, mari introspeksi. Bahwa, orang yang melaksanakan tanggung jawab pendidikan sosial kemudian ia tidak melandaskan pendidikannya pada dasar-dasar psikis yang pasti, maka ia akan seperti orang yang menulis di atas permukaan air, bernapas di dalam kelemahan dan berteriak di dalam suatu lembah tanpa makna.
Mestinya, dengan memahami dasar-dasar dari Al-Qur’an dan Hadits, kita dapat mengembangkan pendidikan karakter yang lebih efektif. Hal ini, karena berbasis kepada nilai-nilai Islam.
Kembali kepada para murid (baru). Selamat datang di sekolah, wahai para murid! Semoga engkau semua berhasil dan unggul. Wallahu a’lam. []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
