Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Ada satu ayat dalam Al-Qur’an yang diulang empat kali oleh Allah dalam satu surat.
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar: 17, 22, 32, 40)
Diulang Empat kali. Dalam satu surat, bukan karena kurang kata. Tapi karena banyak manusia yang keras kepala.
Al-Qur’an itu sudah dimudahkan
Bacaan dan hurufnya tersedia di jutaan aplikasi gratis.
Suara merdunya bisa kita dengar dari YouTube hingga Spotify.
Tafsirnya tinggal klik — mau dari Ibn Katsir, Al-Muyassar, dan lainnya.
Tapi… apa yang kita pilih buka tiap pagi?
Al-Qur’an atau notifikasi Instagram?
Dzikir atau swipe TikTok?
Tadabbur atau trending topic?
Allah sudah mudahkan. Tapi manusianya — yang makin mempersulit dirinya sendiri.
Empat Kali Allah Tegur — Empat Kaum yang Keras Kepala
- Kaum Nuh – QS Al-Qamar: 17
950 tahun dakwah, cuma segelintir yang ikut.
Sisanya sibuk mengejek, menolak, dan tertawa.
Sampai akhirnya… air bah datang. Habis semua.
Lalu Allah tegur:
“Sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur’an. Masihkah ada yang mau belajar?”
Kaum ‘Ād – QS Al-Qamar: 22
Badan besar, otot kuat, teknologi hebat. Tapi sombong.
Mereka bilang: “Siapa yang lebih kuat dari kami?”
Lalu Allah kirim angin topan — bukan sekadar angin, tapi badai penghancur peradaban.
Dan Allah ulang lagi: “Sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur’an. Masihkah ada yang mau belajar?”
- Kaum Tsamūd – QS Al-Qamar: 32
Minta mukjizat? Dikasih unta betina keluar dari batu.
Apa respons mereka? Disembelih. Dibunuh. Dihina.
Allah timpakan petir dan gempa yang menghancurkan semuanya.
Lalu Dia berkata lagi:
“Sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur’an. Masihkah ada yang mau belajar?”
- Kaum Lūṭ & Fir’aun – QS Al-Qamar: 40
Kaum Lūṭ, rusak moralnya.
Fir’aun, rusak pikirannya.
Keduanya hidup dalam kekuasaan, harta, dan dominasi.
Tapi itu tak menolong mereka dari kehancuran.
Langit menghujani batu. Laut menenggelamkan keangkuhan.
Lalu Allah menutup dengan:
“Sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur’an. Masihkah ada yang mau belajar?”
Tafsir, Kenapa Diulang?
Ibnu Katsīr:
“Ini peringatan agar kita tidak mengulang kesalahan mereka.”
Al-Qurṭubī:
“Al-Qur’an itu sudah dipermudah dalam segala aspek. Tapi tetap saja, banyak yang berpaling karena sombong atau lalai.”
As-Sa’dī:
“Siapa pun yang ingin mengambil pelajaran akan diberi jalan. Yang penting bukan seberapa pintar kamu, tapi seberapa jujur niatmu.”
Refleksi Zaman Digital
Hari ini kita tidak hidup di zaman nabi Nuh. Bukan zaman Tsamūd. Bukan di bawah kekuasaan Fir’aun.
Tapi kita hidup di zaman gadget, di mana scroll bisa lebih cepat dari tadabbur,
dan notifikasi bisa lebih keras dari panggilan Allah.
Kita tidak dibinasakan oleh air bah atau petir,
Tapi oleh keasyikan yang membunuh waktu,
dan kesibukan yang menghilangkan makna.
Jadi, Siapa yang Mau Jadi “Muddakir”?
Kata مُّدَّكِرٍ (muddakir) artinya:
Orang yang sadar.
Orang yang mau merenung.
Orang yang hatinya masih hidup, dan mau berubah.
Bukan harus ustaz. Bukan harus hafiz. Bukan harus lulusan pesantren. Cukup: buka mushaf. Buka hati. Buka waktu. Dan biarkan Al-Qur’an menyapa jiwamu.
Al-Qur’an Sudah Dimudahkan. Hati Kita Sudah Dilunakkan?
Kalau belum, masih ada waktu.
Kalau sudah, jangan berhenti.
Karena hari ini — umat tak dibinasakan karena tidak tahu…
Tapi karena tahu, lalu tetap memilih lalai.
Satu ayat yang dibaca dengan sadar, lebih baik dari seribu scroll yang sia-sia.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
