Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim
Masa Nabi: Tajwid Diajarkan Langsung, Bukan Ditulis
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Saat wahyu pertama turun di Gua Hira, bukan hanya teks Al-Qur’an yang disampaikan, tetapi juga cara membacanya. Malaikat Jibril membacakan, dan Nabi Muhammad ﷺ menirukannya dengan tartil dan kejelasan makhraj huruf.
Tajwid di masa itu belum dinamai, namun telah dilakukan dan ditanamkan langsung oleh Nabi ﷺ kepada para sahabat melalui hafalan dan talaqqi. Inilah makna dari firman Allah:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (QS. al-Muzzammil: 4)
Imam az-Zarkasyi menjelaskan bahwa yang dimaksud tartil adalah membaca Al-Qur’an dengan perlahan, memperjelas huruf-huruf, serta memahami maknanya dengan khusyuk:
الترتيل هو القراءة بتؤدة وتبيين الحروف، ومعرفة الوقوف، وهو أقرب إلى الفهم والخشوع
Tartil adalah membaca dengan tenang, menjelaskan huruf-huruf, dan mengetahui tempat berhenti. Hal itu lebih dekat kepada pemahaman dan kekhusyukan.
Masa Klasik Awal: Mulai Ditulis Karena Tuntutan Zaman
Ketika Islam menyebar ke luar jazirah Arab, banyak orang non-Arab yang ingin membaca Al-Qur’an. Namun mereka sering salah dalam pengucapan karena lidah mereka tidak terbiasa. Inilah yang mendorong para ulama untuk membukukan cara baca Al-Qur’an dengan benar, agar bacaan tidak menyimpang dari Rasulullah ﷺ.
Salah satu pelopor di masa awal adalah Abu Qasim bin Salam (wafat 224 H), yang menyusun kitab al-Qira’āt. Ia mengumpulkan berbagai bacaan yang dinisbahkan kepada sahabat, lalu menjadikannya pedoman ilmiah.
Ia berkata:
القراءة سنة يأخذها الآخر عن الأول، ولا تُقرأ بالرأي والاجتهاد
Bacaan Al-Qur’an adalah sunah yang diambil oleh generasi setelahnya dari generasi sebelumnya. Ia tidak boleh dibaca berdasarkan akal dan ijtihad pribadi.
Perkataan ini menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an harus bersanad dan bukan sembarangan berdasarkan logika, inilah dasar pertama ilmu tajwid.
Masa Pembakuan: Tajwid Menjadi Ilmu Mandiri
Tokoh penting berikutnya adalah Ibnu Mujahid (wafat 324 H), yang menyusun kitab as-Sab‘ah fi al-Qira’āt, dan membakukan tujuh qira’at yang masyhur. Ia memperkenalkan sistem transmisi bacaan yang bisa ditelusuri secara ilmiah.
Lalu datang Imam ad-Dani (wafat 444 H), yang menyusun kitab at-Tamhid fi ‘Ilm at-Tajwid. Di sinilah istilah-istilah penting seperti makhraj huruf, sifat huruf, idgham, izhar, dan mad mulai dibahas secara detail.
Beliau mendefinisikan tajwid sebagai berikut:
التجويد إعطاء كل حرف حقه ومستحقه من الصفات، من غير إفراط ولا تفريط
Tajwid adalah memberikan setiap huruf hak dan ciri khasnya dari sifat-sifatnya, tanpa berlebihan dan tanpa kekurangan.
Inilah transisi penting: tajwid tidak lagi sekadar praktik, tapi juga ilmu teori yang bisa diajarkan dan diwariskan melalui tulisan.
Masa Nazham: Ilmu Tajwid Ditulis dalam Syair
Agar mudah dihafal, para ulama mulai menuliskan ilmu tajwid dalam bentuk syair atau nazham. Puncaknya adalah karya agung Ibnu al-Jazari (wafat 833 H), seorang ahli qira’at dan tajwid terkemuka.
Dalam kitabnya yang terkenal al-Muqaddimah al-Jazariyyah, ia menulis:
من لم يُجود القرآن آثم
لأنه به الإله أنزل
Barang siapa membaca Al-Qur’an tanpa tajwid maka ia berdosa, karena Al-Qur’an diturunkan dengan tajwid.
Dan beliau menyatakan definisi tajwid dalam bait:
فهو إعطاء الحروف حقها
وصفاتها ومستحقها
Tajwid adalah memberikan huruf-huruf hak dan sifatnya yang seharusnya, dengan benar dan sempurna.
Kitab Jazariyyah menjadi rujukan utama ilmu tajwid selama berabad-abad, dan hingga kini masih dipelajari di seluruh dunia Islam.
Masa Pendidikan Dasar: Tajwid untuk Anak dan Pemula
Di abad ke-12 H, muncul Syaikh Sulaiman al-Jamzuri, ulama dari Mesir yang menulis Tuhfatul Athfal, sebuah nazham tajwid ringan untuk pemula, khususnya anak-anak.
Kitab ini merangkum bab penting seperti hukum nun sakinah, tanwin, mim sakinah, qalqalah, dan mad, dalam bentuk bait-bait yang mudah dihafal.
Beliau membuka karyanya dengan penuh harap:
يقول راجي رحمة الغفور
سليمان بن حسين الجمزوري
Berkata orang yang berharap rahmat Tuhan Yang Maha Pengampun, yaitu Sulaiman bin Husain al-Jamzuri
Tuhfah menjadi gerbang bagi pemula menuju pembelajaran kitab Jazariyyah yang lebih kompleks.
Masa Persiapan Awal: Tajwid dari Nol untuk Anak-anak
Sebelum masuk Tuhfah, banyak pengajar tajwid memperkenalkan kitab Hidâyatush-Shibyân karya Syaikh Ilyas al-Banarsi, yang menyusun pelajaran tajwid dalam bentuk yang sangat dasar.
Kitab ini mengajarkan huruf hijaiyah, makhraj dasar, dan praktik bacaan yang benar untuk anak-anak yang baru belajar membaca Al-Qur’an. Ia menjadi tangga pertama dalam pendidikan tahsin dan tajwid.
Masa Kontemporer: Tajwid dan Qira’at Dikembangkan secara Global
Di era modern, ilmu tajwid tidak berhenti. Ulama seperti Dr. Ayman Rushdi Suwaid menulis kitab Salsabil al-Mujawwidin fi al-Qira’at al-‘Asyr, yang membahas tajwid dalam konteks 10 qira’at mutawatir.
Beliau berkata:
علم التجويد اليوم ليس فقط علماً صوتياً، بل هو طريق لفهم القراءات والروايات، وضبط الأداء القرآني الصحيح
Ilmu tajwid hari ini bukan hanya ilmu suara, tetapi juga jalan untuk memahami perbedaan qira’at dan menjaga kesahihan bacaan Al-Qur’an.
Kitab ini menggabungkan antara teori, praktik, sanad, dan tafsir dalam konteks qira’at, sehingga menjadi rujukan utama dalam pembelajaran tahfizh dan pengajaran qira’at di dunia Islam kontemporer.
Hukum Belajar Tajwid dan Membaca Al-Qur’an dengan Tajwid
Para ulama menyepakati bahwa:
Belajar ilmu tajwid hukumnya fardhu kifayah, yaitu wajib bagi sebagian umat agar ilmu ini tidak punah
Membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar hukumnya fardhu ‘ain, wajib bagi setiap Muslim agar tidak salah dalam bacaan yang bisa mengubah makna
Membaca Al-Qur’an dengan suara indah dan tartil (mujawwad) hukumnya sunnah muakkadah, sangat dianjurkan untuk meningkatkan kekhusyukan dan keutamaan bacaan
Imam Ibn al-Jazari menegaskan bahwa meninggalkan tajwid secara sengaja bisa berdosa jika menyebabkan kesalahan makna, karena Al-Qur’an tidak boleh dibaca dengan sembarangan.
Ilmu tajwid adalah penjaga suara wahyu, dari Rasulullah ﷺ hingga zaman kita. Ia lahir dari amanah lisan, tumbuh dalam hafalan sahabat, dibukukan oleh para ulama, dan disebarkan melalui syair, kitab, dan halaqah.
Dari Hidâyatush-Shibyân sebagai tangga awal, Tuhfatul Athfal sebagai jembatan, al-Jazariyyah sebagai pematangan, hingga Salsabil sebagai perluasan mendalam, semua menunjukkan bahwa tajwid adalah cahaya abadi yang diwariskan generasi ke generasi.
Dan ketika kita membaca Al-Qur’an dengan tartil dan tajwid, maka lisan kita sedang menyambung suara Nabi, dan hati kita sedang terhubung dengan langit.
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (QS. al-Muzzammil: 4)
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
