Oleh: Sudono Syueb, Anggota Bidang Kominfo DDII Jatim
Dewandakwahjatum.com, Surabaya – Awwalan: Nabi Musa As adalah seorang Nabiullah dan Rasulullah yang pemalu. Selama hidupnya tidak pernah melepaskan baju atau sirwalnya apalagi telanjang di depan kaumnya Bani lsrael. Padahal saat itu Bani lsrael suka pamer-pamer kulit dan otot tubuhnya (kaya bina ragawan/wati sekarang).
Karena itu kaumnya Bani lsrael menuduh kulitnya Nabi Musa jelek dan atau korengen. Allah tidak ridha Nabi Kalamullah-Nya dicitrakan berkulit jelek, maka Allah ingin menunjukkan pada Bani lsrael kalau kulit Nabi Musa As bagus, mulus, bersih dan tanpa cacat, apalagi korengen. Caranya? Ketika Nabi Musa As mandi di sungai Nil, pakaiannya yang diletakan di atas sebuah batu dibawa lari batu itu ke publik dan berhenti di tengah-tengah krumunan Bani lsrael. Sepontan Nabi Musa mengejarnya dengan telanjang. Bani lsrael terkesima melihat keindahan tubuh dan kulit Nabi Musa As. Hal itu dinarasikan Rasulullah SAW berikut ini:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ شَقِيقٍ قَالَ:أَنْبَأَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ #قَالَ:
« كَانَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ رَجُلًا حَيِيًّا. قَالَ: فَكَانَ لَا يُرَى مُتَجَرِّدًا. قَالَ: فَقَالَ بَنُو إِسْرَائِيلَ: إِنَّهُ آدَرُ! قَالَ: فَاغْتَسَلَ عِنْدَ مُوَيْهٍ فَوَضَعَ ثَوْبَهُ عَلَى حَجَرٍ، فَانْطَلَقَ الْحَجَرُ يَسْعَى، وَاتَّبَعَهُ بِعَصَاهُ يَضْرِبُهُ: ثَوْبِي حَجَرُ! ثَوْبِي حَجَرُ! حَتَّى وَقَفَ عَلَى مَلَإٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ، وَنَزَلَتْ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللهِ وَجِيهًا }.»
الراوي : عبدالله بن شقيق
المحدث : مسلم
المصدر : صحيح مسلم
الصفحة أو الرقم : 339
خلاصة حكم المحدث : صحيح
Dari Abdullah bin Shaqiq, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Musa adalah seorang laki-laki yang sangat pemalu. Karena itu, dia tidak pernah terlihat telanjang. Bani Israil berkata: ‘Dia menderita penyakit kulit!’ Maka Musa pergi ke sebuah sumber air untuk mandi, dan dia meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu. Tiba-tiba batu itu berlari membawa pakaiannya, dan Musa mengejarnya sambil memukul batu itu dengan tongkatnya seraya berkata: ‘Kembalikan pakaianku! Kembalikan pakaianku!’ Hingga batu itu berhenti di hadapan sekumpulan Bani Israil. Kemudian Allah menurunkan ayat: ‘Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang yang menyakiti Musa, lalu Allah membersihkannya dari tuduhan yang mereka katakan, dan dia adalah seorang yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah.’ (QS. Al-Ahzab: 69)”
Ar-Rawi: Abdullah bin Syaqiq
Muhdadits:Muslim.
Mashdar: Shahih Muslim
Ash-Shafhah au Ar-Raqm:33
Khulashatu hukm Al-Muhaddis: Shahih
الشرح
جمَعَ اللهُ عزَّ وجلَّ لأنبيائِه ورُسُلِه صَلواتُ اللهِ عليهم أجمَعِين الكَمالاتِ البَشريَّةَ جَميعَها؛ الخِلقيَّةَ منها والخُلُقيَّةَ،
ورَغْمَ ذلك نالَتْهم ألْسِنةُ السُّفهاءِ بالسَّبِّ والانتقاصِ والتُّهَمِ الباطلةِ،
ولكنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ كان لهم مُبرِّئًا ومُعينًا وناصرًا، ومِن هَؤلاءِ أحَدُ أُولِي العَزمِ مِن الرُّسُلِ، وهو نَبيُّ اللهِ مُوسَى عليه السَّلامُ.
« كَانَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ رَجُلًا حَيِيًّا. قَالَ: فَكَانَ لَا يُرَى مُتَجَرِّدًا
أي: يَسْتحْيِي ويخجَلُ مِن أنْ يُظهِرَ منه ما يُعابُ عليه طَبْعًا وجِبلَّةً، وهذِهِ أخلاقُ النُّبوَّةِ،
شَدَيدَ السَّترِ لجسَدهِ، فكانَ يَستُرُ جَميعَ بدَنهِ؛ حتَّى لا يَظْهرَ شَيءٌ مِن جِلدِه،
وسَببُ سَترِهِ لجَسدِه الحياءُ، وهوَ مِن الصِّفاتِ التي يَتحلَّى بها الإنسانُ وتَكمُلُ فَضائلُه بها.
فَقَالَ بَنُو إِسْرَائِيلَ: إِنَّهُ آدَرُ!
أي: جَعلُوا يَعيبونَ عليهِ سَتْرَه هذا وحَياءَهُ، فأشاعُوا أنَّ مُوسى عليه السَّلامُ ما سَتَرَ جَسَدَهُ وجِلدَه بهذهِ الصُّورةِ المبالَغِ فيها إلَّا لمرَضٍ أصابَ جِلْدَه؛ إمَّا بَرَصٌ، وإمَّا أدْرَةٌ، وإمَّا آفةٌ، #والبرَصُ: بُقَعُ بَياضٍ تَكونُ على الجِلدِ،
والأدْرةُ: انتِفاخٌ يكونُ بالخُصْيةِ، والآفَةُ: العَيبُ، وربَّما يُريدونَ بها العَيبَ الَّذي يُولَدُ به الإنسانُ
فَاغْتَسَلَ عِنْدَ مُوَيْهٍ فَوَضَعَ ثَوْبَهُ عَلَى حَجَرٍ، فَانْطَلَقَ الْحَجَرُ يَسْعَى، وَاتَّبَعَهُ بِعَصَاهُ يَضْرِبُهُ: ثَوْبِي حَجَرُ! ثَوْبِي حَجَرُ! حَتَّى وَقَفَ عَلَى مَلَإٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ،
فأرادَ اللهُ أنْ يُبرِّئَه، أي: يُنزِّهَه ويُظهِرَ خُلوَّه مِن هذهِ الآفاتِ،
فانفردَ نَبيُّ اللهِ مُوسى بنَفْسِه عن النَّاسِ وابتَعدَ في الخَلاءِ؛ ليغتَسِلَ، فنَزَعَ ثِيابَه ووضَعَها على الحَجَرِ بجانبِ الماءِ، ثمَّ اغتَسلَ،
فلمَّا انتَهى مِن غَسلهِ، أرادَ أنْ يَرتدِي ثِيابَه، وأقْبَل نحْوَ الحَجَرِ الَّذي وَضَعَ عليه ثِيابَه، فحَملَ الحجَرُ ثِيابَه وفَرَّ بها،
وَاتَّبَعَهُ بِعَصَاهُ يَضْرِبُهُ: ثَوْبِي حَجَرُ!
أي: هاتِ ثَوبِي يا حَجرُ؛ يُنادي على الحَجَرِ ليُعطيَه ثوبَهُ، حتَّى انتَهى في تَتبُّعِه للحَجَرِ عندَ مكانٍ كانتْ بَنو إسْرائيلَ مُجتمِعةً فيه،
Penjelasan:
Allah SWT telah menganugerahkan kepada para nabi dan rasul-Nya berbagai kesempurnaan manusiawi, baik secara fisik maupun akhlak. Namun, meskipun memiliki kesempurnaan tersebut, mereka tetap mendapatkan cercaan dan cercaan dari orang-orang bodoh. Akan tetapi, Allah SWT selalu membersihkan dan menolong mereka.
Musa adalah salah satu nabi yang memiliki sifat pemalu. Dia tidak pernah terlihat telanjang, dan Bani Israil mengira bahwa dia menderita penyakit kulit. Suatu hari, Musa pergi ke sebuah sumber air untuk mandi, dan dia meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu. Tiba-tiba batu itu berlari membawa pakaiannya, dan Musa mengejarnya sambil memukul batu itu dengan tongkatnya.
Batu itu berhenti di hadapan sekumpulan Bani Israil, dan Musa dapat mengambil kembali pakaiannya. Dengan demikian, Allah membersihkan Musa dari tuduhan yang dilontarkan oleh Bani Israil.
وفي رواية للبخاري
«فرأَوهُ عُرْيانًا أحسَنَ ما خَلَقَ اللهُ، وأبْرأَهُ ممَّا يَقولونَ»،
أي: فظَهَرَ لهمْ أنَّ مُوسى عليه السَّلامُ كانَ خاليًا ممَّا كانوا يدَّعونهُ فيهِ مِن عُيوبٍ وأنَّه ما يَستُرُ نفْسَه إلَّا حياءً،
فتَوقَّف الحَجرُ، فأخَذَ مُوسى عليه السَّلامُ ثَوبَه فلَبِسَه، وجَعَلَ يَضرِبُ الحَجرَ بعَصاهُ،
يَقولُ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ:
«فَواللهِ إنَّ بالحَجرِ لَنَدَبًا مِن أثَرِ ضَربهِ، ثلاثًا أو أرْبعًا أو خَمسًا»،
أي: بهِ مِن العلاماتِ التي أثَّرتْ فيهِ بسَببِ تلكَ الضَّرَباتِ؛
فذلكَ تفسيرُ قولِ اللهِ تعالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللهِ وَجِيهًا} [الأحزاب: 69]،
أي: يا مَن آمنْتُم باللهِ تعالَى حقَّ الإيمانِ، الْتَزِموا الأدَبَ والطَّاعةَ والاحترامَ لنَبيِّكم صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، واحْذَروا أنْ تَسلُكوا معه المسلَكَ الَّذي سَلَكَه بَنو إسرائيلَ مع نَبيِّهم مُوسى عليه السَّلامُ،
حيث آذَوه واتَّهَموه بنِسبةِ العَيبِ في بَدَنِه، فأظهَرَ اللهُ تعالَى بَراءتَه مِن كلِّ ما نَسبوه إليه مِن سُوءٍ؛ بإبرازِ جَسَدِه لقَومِه حتَّى رَأَوه وعَلِموا فَسادَ اعتِقادِهِم وقَولِهم، وكانَ لهُ مِن الصِّفاتِ والمنزِلةِ التي يَعلو بها عِندَ اللهِ تعالَى.
والتَّعرِّي الَّذي ظَهَرَ فيهِ مُوسى عليه السَّلامُ لم يَقصِدْه، وإنَّما كانَ ذلكَ مِن إرادةِ اللهِ عزَّ وجلَّ،
Dalam riwayat Bukhari disebutkan: ‘Maka mereka melihatnya telanjang, dan ternyata dia adalah sebaik-baik ciptaan Allah, serta terbebas dari apa yang mereka tuduhkan.’ Artinya, Bani Israil menyadari bahwa Musa tidak memiliki cacat apa pun seperti yang mereka tuduhkan, dan bahwa dia hanya menutupi dirinya karena rasa malu. Maka berhentilah batu itu, dan Musa mengambil pakaiannya lalu memakainya. Dia juga memukul batu itu dengan tongkatnya.
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Demi Allah, sungguh batu itu masih memiliki bekas luka akibat pukulan itu, sebanyak tiga, empat, atau lima kali.’ Artinya, batu itu masih memiliki tanda-tanda yang timbul akibat pukulan-pukulan tersebut.
Hal ini merupakan penjelasan dari firman Allah Ta’ala: ‘Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang yang menyakiti Musa, lalu Allah membersihkannya dari tuduhan yang mereka katakan, dan dia adalah seorang yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah.’ (QS. Al-Ahzab: 69)
Artinya, wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dengan iman yang sebenarnya, hendaklah kamu menjaga adab, ketaatan, dan penghormatan kepada Nabi kalian shallallahu alaihi wasallam. Janganlah kamu mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh Bani Israil terhadap Nabi mereka Musa, yaitu menyakiti dan menuduh Nabi Musa memiliki cacat pada tubuhnya. Allah kemudian membersihkan Nabi Musa dari semua tuduhan yang mereka lontarkan dengan memperlihatkan tubuhnya kepada kaumnya sehingga mereka dapat melihat dan menyadari kesalahan keyakinan dan perkataan mereka.
Kemuliaan dan kedudukan Musa di sisi Allah sangat tinggi. Peristiwa Musa terlihat telanjang tidaklah disengaja olehnya, melainkan itu semua adalah kehendak Allah.”
Hadits ini menunjukkan bahwa Allah SWT membersihkan para nabi-Nya dari tuduhan yang tidak benar dan memberikan mereka kedudukan yang tinggi di sisi-Nya. Ayat yang disebutkan dalam hadits ini juga mengingatkan kita untuk menghormati dan mematuhi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, serta menghindari perilaku yang menyakitinya seperti yang dilakukan oleh Bani Israil terhadap Nabi Musa.
Admin: Kominfo DDII Jatim
