Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Di era digital yang semakin transparan tapi penuh polarisasi, kita menyaksikan begitu banyak pihak yang mengaku memperjuangkan keadilan, solidaritas, bahkan kemanusiaan. Namun jika kita cermati lebih dalam, banyak dari mereka sebenarnya hanya digerakkan oleh kepentingan—bukan kebenaran.
Aliansi terbentuk, blok politik disusun, dan narasi dibangun, tapi semua itu rapuh jika tidak disatukan oleh nilai yang kuat. Maka pertanyaannya: apa sebenarnya yang bisa benar-benar menyatukan manusia secara hakiki?
Jawabannya hanya satu: kalimat tauhid. Sebab persatuan yang dibangun di atas dunia akan runtuh oleh dunia pula. Sebaliknya, persatuan yang lahir dari keimanan akan kekal selagi iman itu hidup.
Allah ﷻ telah menggambarkan dengan sangat jelas dalam firman-Nya:
تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُونَ
“Kamu kira mereka itu bersatu, padahal hati mereka berpecah-belah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al-Hasyr: 14)
Betapa sering kita menyaksikan “persatuan semu”—di mana individu atau kelompok hanya terlihat kompak di permukaan, padahal hatinya saling curiga, saling rebut pengaruh, atau menunggu momentum untuk saling tikam. Itulah persatuan tanpa fondasi iman.
Di sisi lain, Allah memuji persatuan yang lahir karena iman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)
Persaudaraan dalam Islam tidak dibatasi suku, warna kulit, bahkan negara. Ia dibentuk oleh tauhid: pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa kita semua sama di hadapan-Nya, kecuali dalam takwa.
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَّا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ
“Sekiranya kamu belanjakan seluruh harta yang ada di bumi, kamu tidak bisa menyatukan hati mereka, tetapi Allah-lah yang menyatukan mereka.” (QS. Al-Anfal: 63)
Dengan kata lain: tauhid adalah energi pemersatu yang tidak bisa dibeli, disewa, atau direkayasa.
Iran vs Israel: Siapa Lawan, Siapa Kawan?
Dalam beberapa waktu terakhir, dunia menyaksikan ketegangan antara Iran dan Israel, dua negara yang tampaknya saling berseberangan secara ideologis dan politik. Namun penting untuk dicatat bahwa kedua pihak memiliki kepentingan masing-masing, dan keduanya juga digerakkan oleh agenda geopolitik serta dukungan dari negara-negara besar.
Di tengah konflik itu, jangan sampai kita sebagai umat Islam terjebak dalam euforia atau simpati yang membabi buta. Kita wajib bersikap adil dan cermat, bukan hanya menilai berdasarkan siapa yang melawan siapa, tetapi apa niatnya, siapa yang dizalimi, dan bagaimana umat menjadi korban.
Kita memang tidak bisa diam melihat kezaliman, terutama yang terus-menerus terjadi di Palestina. Kita tidak rela penjajahan terus berlangsung dan kekerasan terhadap rakyat sipil menjadi hal biasa. Tapi kita juga tidak boleh menutup mata bahwa ada pihak yang memanfaatkan penderitaan umat sebagai alat politik.
Allah ﷻ memperingatkan:
وَلَا تَرْكَنُوٓا إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, nanti kamu akan disentuh api neraka.” (QS. Hud: 113)
Jangan sampai karena kita antipati terhadap kezaliman Zionis, kita justru membela kezaliman lainnya. Kita berpihak pada nilai dan prinsip, bukan pada panji geopolitik.
Saatnya Kembali pada Kalimat Tauhid
Persatuan umat tidak akan hadir lewat konferensi internasional, tidak akan kuat hanya dengan slogan kemanusiaan, dan tidak akan bertahan jika hanya dibangun di atas sentimen atau kemarahan sesaat. Umat Islam hanya akan benar-benar bersatu jika kembali kepada kalimat tauhid.
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
Kalimat inilah yang dulu mempersatukan Bilal dari Habasyah dengan Salman dari Persia dan Suhaib dari Romawi. Kalimat ini pula yang mempersatukan ribuan suku di Madinah dan menjadikan mereka satu barisan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan kita tahu: bangunan itu hanya kokoh jika fondasinya kuat. Dan fondasi itu adalah tauhid.
Konflik global akan terus terjadi. Kepentingan akan terus saling berbenturan. Tapi kita sebagai umat yang membawa risalah langit harus jernih membaca zaman: jangan cepat mengidolakan siapa pun, dan jangan mudah ikut arus.
Yang kita perjuangkan bukan hanya tanah atau batas negara, tapi tegaknya keadilan dan kembalinya umat kepada tauhid murni. Karena hanya dengan tauhid, umat ini bisa bersatu—dan hanya dengan persatuan itulah, kita bisa menang.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editot: Sudono Syueb
