Oleh: Sudono Syueb, Anggota Bidang Kominfo DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Sering kali terjadi dalam kehidupan sosial ada persekutuan kepemilikan aset bersama baik berupa barang bergerak atau tidak bergerak. Apakah itu persekutuan keluarga atau dengan orang lain.
Dalam perjalanan persekutuan itu ada salah satu anggota sekutu (syafiq) mau menjual asetnya yang ada dalam persekutuan tersebut. Jika itu terjadi, maka yang punya hak pertama membeli, menurut Rasulullah, adalah anggota sekutu yang lain sebelum dibeli pihak ketiga. Ini jika aset teresebut belum dibagi dan ditentukan batas-batas, jenis-jenis dan volume aset tersebut. Inilah yang disebut teori Syuf’ah ala Rasulullah Tetapi jika sudah bibagi secara jelas, maka siapa pun boleh membelinya.
Hal ini bisa diketahui dalam hadis dari Jabir RA berikut ini:
جَعَلَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ الشُّفْعَةَ في كُلِّ مَالٍ لَمْ يُقْسَمْ، فَإِذَا وقَعَتِ الحُدُودُ، وصُرِّفَتِ الطُّرُقُ، فلا شُفْعَةَ.
الراوي : جابر بن عبدالله
المحدث : البخاري
المصدر : صحيح البخاري
الصفحة أو الرقم: 2213
خلاصة حكم المحدث : [صحيح]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menetapkan hak syuf’ah (prioritas pembelian oleh anggota sekutu) pada setiap harta yang belum dibagi. Jika batas-batasnya telah ditentukan dan jalan-jalannya telah disiapkan, maka tidak ada hak syuf’ah lagi.”
Rawi hadits ini adalah Jabir bin Abdullah
Dalam mushaf Bukhari no 2213
Setatus hadis ini Shahih
شرح الحديث
حَرَصتِ الشَّريعةُ الإسلاميَّةُ على كلِّ ما يَحفَظُ للنَّاسِ مَصالِحَهم، ويُديمُ وُدَّهُم، وخاصَّةً فيما يَكونُ بيْن الشُّرَكاءِ، ولذا جُعِلَت الشُّفعةُ للشَّريكِ في نَصيبِ شَريكِه إذا أراد بَيعَه، وَفْقَ ضَوابطَ مُحدَّدةٍ.
Penjelasan Ulama
Syariat Islam sangat memperhatikan kemaslahatan manusia dan menjaga hubungan baik di antara mereka, terutama dalam hal harta yang dimiliki bersama. Oleh karena itu, diberikan hak syuf’ah kepada salah satu pihak yang memiliki harta bersama jika pihak lainnya ingin menjual hartanya.
وفي هذا الحديثِ
يُخبِرُ جابرُ بنُ عبدِ اللهِ رَضيَ اللهُ عنهما أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ
حكَمَ بالشُّفعةِ في كلِّ مالٍ بيْن الشُّركاءِ يَحتمِلُ القِسمةَ، كالعَقارِ والأرضِ ونحْوِهما، ولم يُقْسَمْ،
Dalam hadits ini, Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memutuskan bahwa hak syuf’ah berlaku pada setiap harta yang dimiliki bersama dan belum dibagi, seperti tanah atau properti lainnya.
والشُّفْعةُ:
هي ضَمُّ نَصِيبٍ إلى نَصيبٍ آخَرَ، وصُورتُها: أنَّه إذا باعَ أحدُ الشُّرَكاءِ في دارٍ أو أرضٍ نَصيبَه لغيرِ الشُّركاءِ، فللشُّرَكاءِ أَخْذُ هذا النَّصيبِ بالثَّمَنِ نفْسِه الَّذي بَاعَه به،
ويكونُ حَقُّ الشُّفعةِ في كلِّ مالٍ -أرضًا كان أو عَقَارًا- إذا لم يُقسَمْ، وتُبَيَّنْ حُدودُ نَصيبِ كلِّ شَرِيك فيه،
فإذا وُضِعَتِ الحدودُ وظَهَر نَصيبُ كلِّ فرْدٍ مِن الشُّرَكاءِ، وصُرِّفَتِ الطُّرُقُ،
أي: مُيِّزَتْ وبُيِّنت الطُّرقُ والشَّوارعُ لكلِّ نَصيبٍ؛ فلا يكونُ لأيٍّ مِن الشُّركاءِ حقُّ الشُّفعةِ،
ويكونُ لأيِّ شَرِيكٍ منهم بَيْعُ نَصِيبِه لِمَن أراد حتَّى لغَيرِ الشُّرَكاء
Syuf’ah adalah hak untuk membeli bagian dari harta bersama dengan harga yang sama seperti yang ditawarkan kepada orang lain. Hak syuf’ah ini berlaku pada setiap harta yang belum dibagi dan belum ditentukan batas-batasnya.
Namun, jika batas-batas harta telah ditentukan dan jalan-jalannya telah disiapkan, maka tidak ada hak syuf’ah lagi. Pada saat itu, setiap pihak yang memiliki harta bersama dapat menjual bagiannya kepada siapa saja yang mereka inginkan, bahkan kepada orang yang bukan bagian dari harta bersama.
Hadits ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan hak-hak individu dan kemaslahatan bersama dalam memiliki harta, serta memberikan aturan yang jelas tentang hak syuf’ah dalam harta bersama.
Admin: Kominfo DDII Jatim
