Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim
Dewandakwahkjatim.com, Surabaya – Ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, ia tak hanya hadir sebagai bacaan suci, tapi juga sebagai rahmat yang memudahkan umat. Maka turunlah sabda agung Nabi ﷺ:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ، فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah apa yang mudah dari padanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Asbābul Wurūd: Ketika Dua Sahabat Berbeda Bacaan, Tapi Sama-Sama Benar
Konteks turunnya hadits ini terjadi ketika Umar bin Khattab r.a. mendengar Hishām bin Ḥakīm r.a. membaca Surah al-Furqān di Masjid Nabawi dengan cara yang berbeda dari apa yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Umar. Umar pun murka dan membawa Hishām langsung ke hadapan Rasulullah ﷺ. Ia berkata, “Aku mendengarnya membaca dengan huruf yang tidak engkau ajarkan padaku!”
Nabi ﷺ lalu meminta Hishām membaca. Ketika selesai, Nabi bersabda, “Demikianlah Al-Qur’an diturunkan.” Umar pun membaca versinya sendiri, dan Nabi pun bersabda, “Demikian pula Al-Qur’an diturunkan.”
Melihat keheranan Umar, Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf.”
Hadits ini menegaskan betapa luasnya kasih sayang Allah dalam menyampaikan wahyu kepada umat yang beragam suku dan dialek. Perbedaan bacaan ini bukan kontradiksi, tapi bentuk rukhsah (keringanan) dan fleksibilitas wahyu yang disahkan langsung oleh Nabi ﷺ.
Dari Tujuh Huruf Menuju Qirā’āt ‘Asyrah
Istilah “tujuh huruf” ini oleh para ulama dijelaskan sebagai bentuk perbedaan dalam:
Dialek Arab,
Perubahan kata tanpa mengubah makna,
Sinonim,
Variasi gramatikal,
Dan perbedaan pengucapan lain yang divalidasi Nabi ﷺ.
Dari sinilah berkembang cabang ilmu qirā’āt, hingga pada akhirnya ditetapkanlah sepuluh qirā’ah mutawātirah (qirā’āt ‘asyarah) yang sampai ke kita melalui sanad-sanad terpercaya. Di antara qirā’ah yang paling masyhur:
Nāfi‘ (Madinah)
Ibn Kathīr (Makkah)
Abū ‘Amr (Basrah)
Ibn ‘Āmir (Syam)
‘Āṣim (Kufah)
Ḥamzah (Kufah)
al-Kisā’ī (Kufah)
Abu Ja‘far, Ya‘qūb, Khalaf (tambahan)
Dan dari imam ‘Āṣim inilah muncul perawi Ḥafṣ, yang qirā’ah-nya hari ini menjadi standar bacaan umat Islam dunia.
Kodifikasi oleh Khalifah Utsman bin ‘Affān
Tapi, ketika umat Islam makin meluas, mulai muncul kekacauan dalam bacaan Qur’an. Perbedaan bacaan yang dulu jadi rahmat, mulai menjadi perdebatan dan fitnah. Maka Khalifah Utsman bin ‘Affān r.a. mengambil langkah berani: beliau menyatukan umat pada satu mushaf dengan lahjah Quraisy, karena dialek inilah yang dipakai Nabi ﷺ saat pertama kali menerima wahyu.
Langkah-langkah beliau antara lain:
Membentuk tim penulis mushaf dari para sahabat (Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, dll.)
Menyalin mushaf standar dan menyebarkannya ke kota-kota besar.
Memerintahkan pembakaran mushaf lain yang tidak sesuai dengan mushaf Quraisy.
Mushaf ini kemudian dikenal dengan nama Mushaf Utsmani, dan menjadi tonggak penting penjagaan Qur’an dalam bentuk tulisan.
Standarisasi Cetak oleh Kekhalifahan Utsmaniyah (Ottoman)
Abad demi abad berlalu, hingga akhirnya pada abad ke-19, Sultan Abdul Hamid II dari Kekhalifahan Utsmaniyah (Ottoman) di Turki menetapkan untuk mencetak Al-Qur’an secara massal. Dari sekian banyak qirā’ah, dipilihlah qirā’ah Ḥafṣ dari ‘Āṣim, karena:
Paling populer,
Mudah diakses di Kufah, Mesir, dan Afrika Utara,
Paling stabil dari sisi bacaan dan gramatika.
Cetakan itu kemudian menyebar ke seluruh dunia Islam, termasuk ke Indonesia, dan hingga hari ini kita membaca mushaf dengan riwayat Ḥafṣ ‘an ‘Āṣim, salah satu dari qirā’āt ‘asyarah.
Qur’an Tetap Satu, Meski Dibaca Beragam
Perbedaan bacaan yang sah bukan pertentangan, melainkan kekayaan otentik yang dijaga oleh para imam qirā’āt. Firman Allah:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan Kamilah yang akan menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Dari wahyu yang fleksibel dalam tujuh huruf, hingga kemantapan mushaf Utsmani, dan kini bacaan Ḥafṣ ‘an ‘Āṣim yang kita pegang setiap hari—semuanya adalah rangkaian penjagaan Ilahiyah yang tiada tanding.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
