Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – WAIL: Bukan Sekadar Celaka. Ini Ledakan Azab dari Langit.*
“Wailun…”
Saat kata ini diucapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, itu bukan sekadar umpatan. Itu bukan kata biasa.
Ini adalah peringatan keras, yang tak hanya menyayat telinga, tapi mengguncang hati mereka yang sadar.
“Wail” adalah ancaman, adalah seruan murka dari Rabb yang Maha Kasih tapi juga Maha Adil.
Dan ketika satu kata disebut 14 kali dalam Al-Qur’an, maka kita tahu: ada yang sangat serius sedang Allah peringatkan.
- QS. Al-Baqarah (2):79
فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ…
“Maka celakalah bagi mereka yang menulis Kitab dengan tangan mereka, lalu berkata: ‘Ini dari Allah’, untuk memperoleh keuntungan sedikit…”
Waspada! Ini untuk pemalsu agama. Yang memutarbalikkan ayat demi kepentingan.
Wail ditujukan kepada mereka yang memanipulasi wahyu, membuat-buat agama, lalu mengklaim itu dari Tuhan.
Tafsir Ibnu Abbas: Wail adalah nama lembah di neraka, sangat dalam, jika dijatuhkan batu ke dalamnya, takkan sampai ke dasar meski berabad-abad.
- QS. Al-Humazah (104):1
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ
“Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela.”
Waspada! Untuk para penebar hinaan, body shamer, pembully online maupun offline.
Mulutmu, jempolmu, bisa menyeretmu ke neraka. Dan Allah tak diam saat kehormatan sesama diinjak-injak.
Tafsir Qurtubi: Humazah = mencela di depan. Lumazah = menusuk dari belakang. Dua arah dosa, satu kutukan: wail.
- QS. Al-Ma’un (107):4–5
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
“Celakalah orang-orang yang shalat, (tapi) lalai dalam shalatnya.”
Waspada! Bukan untuk yang meninggalkan shalat saja, tapi untuk yang shalatnya asal-asalan.
Gerakan lengkap, tapi hati kosong. Ada tapi tak hadir. Wailun menghantam mereka yang menjadikan shalat sebagai formalitas, bukan koneksi spiritual.
Tafsir Ath-Thabari: Mereka sengaja menunda-nunda, sibuk dunia lalu pura-pura suci saat adzan menggema.
- QS. Al-Jāthiyah (45):7
وَيْلٌ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ
“Celakalah bagi setiap pendusta yang banyak dosa.”
Waspada! Untuk mereka yang hidup dari kebohongan. Jual nama agama, tipu dengan akhlak palsu, hidup dalam kemunafikan.
Tafsir Al-Baghawi: Afaak = pendusta besar. Atsiim = tenggelam dalam maksiat. Dua sifat, dua dosa besar, satu hukuman: wail.
5–13. QS. Al-Mursalat (77): Ayat 15, 19, 24, 28, 34, 37, 40, 45, 47
وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ
“Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”
Waspada! Ini yang paling sering: diulang 9 kali!
Bukan karena Allah kehabisan kata, tapi karena umat terlalu keras kepala. Mendustakan hari kiamat. Menertawakan azab. Mencemooh para nabi.
Tafsir Al-Qurtubi: Pengulangan menunjukkan betapa seriusnya dosa mereka. Setiap ‘wail’ adalah tanda betapa beratnya penolakan mereka terhadap kebenaran.
Kalau satu kata diulang-ulang oleh Allah sampai 9 kali dalam satu surah, artinya Allah sedang teriak keras pada umat manusia:
“Stop mendustakan kebenaran, atau siap-siap hadapi wail!”
- QS. Ibrahim (14):2
وَوَيْلٌ لِّلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ
“Celakalah bagi orang-orang kafir dari azab yang sangat keras.”
Waspada! Ini tentang penolakan total terhadap kebenaran. Kafir bukan soal status KTP, tapi soal menolak setelah tahu, membangkang terang-terangan, menertawakan wahyu, dan memusuhi jalan Tuhan.
Tafsir Al-Sa’di: “Kafir” di sini adalah **mereka yang keras kepala, tahu kebenaran tapi menolaknya karena sombong dan benci.”
Wail adalah Kode Merah dari Langit
Satu kata. Pendek. Tapi dalam Al-Qur’an, وَيْلٌ bukan sekadar ucapan.
Ia adalah ledakan azab, sinyal marah-Nya Allah, peringatan keras tanpa basa-basi.
Dan ketika Allah mengulangnya, lagi dan lagi, itu bukan tanpa maksud.
Itu adalah suara alarm dari langit. Untuk mengguncang hati. Untuk menyadarkan kita.
Jangan main-main dengan:
Shalat yang lalai
Lidah yang jahat
Dosa yang dibungkus senyum
Kebenaran yang ditolak
Agama yang dimanipulasi
Karena…
وَيْلٌ… وَيْلٌ… وَيْلٌ…
Wail sedang menunggu. Dan ia tidak pernah datang dengan pelan.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
