“Sisa Baterai Hidupmu, Tinggal Berapa Persen?”

Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dalam kehidupan modern yang serba cepat, kita begitu peduli dengan notifikasi baterai. Saat ponsel menunjukkan 5% daya tersisa, kita panik. Langsung mencari colokan, powerbank, atau mematikan fitur yang menyedot energi.

Namun, pernahkah kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:

“Sisa baterai hidupku hari ini tinggal berapa persen?”

Setiap manusia lahir dengan jumlah energi kehidupan yang tidak tampak di layar, tapi terus menipis. Umur tak pernah bertambah, hanya usia yang meningkat. Karena sejatinya, umur adalah jatah waktu yang terus berkurang.

Usia Bertambah, Umur Menyusut

Kita sering kali merayakan ulang tahun sebagai simbol bertambahnya usia. Tapi di balik lilin dan kue, ada kenyataan senyap: sejatinya jatah hidup kita sedang berkurang.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ المَوْتِ
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Āli ‘lmrān: 185)

Mati bukan menunggu kita tua. Mati hanya menunggu waktunya habis. Tidak ada sistem antrian dalam kematian. Yang muda bisa lebih dulu, yang sehat bisa tiba-tiba berpulang.

Hidup Tanpa Notifikasi Lowbat

Berbeda dengan ponsel, baterai hidup kita tidak punya indikator. Tak ada ikon merah di pojok kanan atas. Tak ada peringatan “Lowbat” atau alarm berbunyi.

Yang ada hanya detik yang terus berjalan. Diam-diam menguras daya hidup kita. Dan sayangnya, banyak dari kita baru sadar saat tenaganya sudah hampir habis.

Rasulullah bersabda:

اغتنم خمساً قبل خمسِ: شبابَكَ قبلَ هرمِكَ، وصِحَّتَكَ قبلَ سَقمِكَ، وغِنَاكَ قبلَ فَقرِكَ، وفَراغَكَ قبلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkan lima hal sebelum datang lima hal: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim, shahih)

Betapa banyak manusia yang berkata “nanti saja”, padahal ia tak pernah tahu apakah masih punya “nanti”.

Hidup: Bukan Durasi, Tapi Arti

Allah tidak menilai panjangnya umur kita, tapi kualitas isi waktunya. Karena itu Allah bersumpah dengan waktu:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَواصَوْا بِالْحَق وَتَواصَوْا بِالْصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Setiap jam yang terlewat tanpa makna, adalah kerugian. Setiap hari yang kita habiskan hanya untuk dunia, tanpa bekal akhirat, adalah waktu yang terbuang.

Ketika 1% Itu Tiba

Tak akan ada notifikasi, tak ada alarm. Baterai hidup kita bisa habis tiba-tiba. Tak ada charger yang bisa menghidupkan kembali. Dan satu-satunya yang menemani kita hanyalah amal.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ

“Ya Allah, jadikanlah amal terbaik kami adalah akhir dari amal kami, dan jadikan hari terbaik kami adalah hari ketika kami berjumpa dengan-Mu.” (HR. Ahmad)

Isi Setiap Persen dengan Makna

Jika kita tak tahu kapan layar hidup ini akan mati, maka perlakukan setiap hari sebagai hari terakhir. Isi dengan iman, amal, dan keikhlasan.

Hidup bukan soal berapa lama baterainya, tapi untuk apa dayanya dihabiskan.

“Sisa baterai hidupmu tinggal berapa persen hari ini? Sudahkah kau gunakan untuk sesuatu yang bernilai kekal?”

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *