Ibrahim As Kesayangan Allah

Oleh M. Anwar Djaelani, pengurus Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Disayangi sesama manusia, itu menyenangkan. Dikasihi sesama manusia, sungguh membahagiakan. Maka, jika demikian, seperti apa gerangan tingkat kebahagiaan kita jika bisa seperti Ibrahim As yang berstatus sebagai Kekasih Allah?
 
Selalu Lulus

Dari sejarah umat terdahulu kita diminta untuk mengambil i’tibar atau pelajaran. Maka, di antara tokoh-tokoh besar dalam sejarah kemanusiaan dan keimanan, ada nama Ibrahim As. Ia adalah tokoh, yang Allah meminta kita untuk melakukan studi atas seluruh sisi kehidupannya. Perhatikanlah ayat ini: “Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim” (QS Asy-Syu’araa’ [26]: 69).

Ibrahim As adalah manusia yang lulus dari berbagai ujian dari Allah, seperti tergambar di ayat ini: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia’.  Ibrahim berkata: ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku’.  Allah berfirman: ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim’.”  (QS Al-Baqarah [2]: 124).
         
Ibrahim As diuji ketika berusaha “menemukan” Tuhan. Tuhankah bintang? Bulan? Matahari? Atau, Tuhan itu haruslah sesuatu yang tak tergantung atau dipengaruhi oleh sesuatu yang lain? Terkait ini kita bisa baca QS Al-An’aam [6]: 74-83.

Ibrahim As diuji ketika berani menentang penduduk negerinya (termasuk bapaknya sendiri, juga Namrudz rajanya sendiri), yang menyembah berhala. Terkait ini kita bisa baca QS Asy-Syu’araa’ [26]: 69-104, QS Maryam [19]: 41-50,  QS Al-Baqarah [2]: 258, dan QS Al-Anbiyaa’ [21]: 51-70.
         
Ibrahim As diuji ketika harus memilih: Apakah lebih menyukai kampung halaman sendiri atau hijrah ke tempat lain karena dakwahnya selama ini tak mendapatkan sambutan yang semestinya. Tentang ini, simaklah QS Al-‘Ankabuut [29]: 26.

Ibrahim As diuji ketika sampai usia 80 tahun, belum berputra. Kemudian, ketika pada akhirnya berputra, Allah masih juga mengujinya seperti yang tergambar di ayat-ayat QS Ash-Shaaffaat [37]: 100-111. Intinya: “Korbankan Ismail, anak terkasihmu, wahai Ibrahim”.

Berat atau ringannya ujian berbanding lurus dengan derajat iman seseorang. Semakin tinggi iman seseorang, maka ujian kepadanya semakin berat. Renungkanlah hadits ini: “Manusia yang paling berat ditimpa cobaan ialah Nabi-Nabi, kemudian orang-orang shalih, sesudah itu menurut perbandingan demi perbandingan. Dicobai seseorang menurut ukuran keagamaannya. Bertambah tebal agamanya, bertambah hebat pula cobaannya” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi).

Mari lihat Ibrahim As lebih saksama. Untuk itu, kita pilih peristiwa pengorbanan Ismail. Inti dari kisah itu adalah, pertama, cobaan itu dahsyat. Lama menunggu anak dan setelah anak benar-benar lahir, kemudian tumbuh menjelang dewasa dan menjadi kebanggaan keluarga, datang perintah Allah: “Korbankan!” 

Kedua, Ibrahim As (dan Ismail) lulus ujian, yang itu diperolehnya secara tidak mudah. Pada diri Ibrahim As sempat ada pertarungan batin: Cinta Allah atau sayang anak.

Di saat kritis, seperti biasa, setan memberikan rasionalisasi kepada Ibrahim As. Bahwa, “Hal yang datang lewat mimpi itu bukan wahyu Allah. Bagaimana mungkin, Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang sebegitu jauh dalam memberi perintah,” demikian goda setan.

Ibrahim As menggeleng. Tidak! Itu wahyu Allah. Untuk itu, hanya ada satu pilihan: “Kami dengar dan  kami taat!”   
         

Ibrahim As ingin sempurna dalam beriman. Ibrahim As sadar bahwa kehidupan di dunia ini, di samping bersifat sementara juga sekadar permainan yang menipu jika kita tak berhati-hati.
         
Ibrahim As orang beriman. Ia tak ingin dihinakan oleh Allah pada Hari Kiamat, hanya karena lebih mendahulukan kesenangan dunia ketimbang Allah. Perhatikanlah ayat ini: “(Ibrahim berdoa): ‘Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak laki-laki tidak berguna’.” (QS Asy-Syu’araa’ [26]: 87-88).
         
Ibrahim As orang beriman. Ia ingin merasakan kebahagiaan hakiki kelak di akhirat. Untuk itu jika perlu menunda kesenangan di dunia, andai itu bisa membuat kita terlena dari mengingat Allah.
         
Ibrahim As orang beriman. Ia tahu bahwa kebahagiaan hakiki hanya di sisi Allah, berupa tinggal abadi di surga-Nya dan itu tak akan pernah bisa diperoleh secara gratis. Hal itu harus diperjuangkan. Hal itu memerlukan jihad dan jihad memerlukan kesabaran. Perhatikanlah ayat ini: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar” (QS Ali-‘Imraan [3]: 142).
         
Ibrahim As orang beriman. Puncak keimanan adalah berserah diri secara penuh kepada Allah. Apapun persoalan hidup kita, larilah kepada Allah dan serahkanlah diri kepada-Nya. Perhatikanlah ayat ini: “Barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS Al-Baqarah [2]: 112).

Lalu, inilah balasan lain bagi Ibrahim As yaitu gelar “Kekasih Allah” seperti yang disebut di ayat ini: “Dan, Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya” (QS An-Nisaa’ [4]: 125). Alhamdulillah, betapa sangat indah dan betapa sangat berbahagianya! Jika sekadar menjadi kekasih dari sesama manusia saja kita sudah berbahagia, maka derajat kebahagiaan itu akan tak terkirakan rasanya saat kita berkesempatan menjadi Kekasih Allah.
 
Siapa Mau

Berdasar uraian ringkas di atas, inginkah kita menjadi Kekasih Allah sebagaimana Ibrahim As? Jika iya, bagaimana caranya? Resep itu sederhana: Selalulah mendahulukan kehendak Allah. Senantialah membesar-besarkan Allah. Berserah dirilah hanya kepada Allah dan itu kita buktikan dengan mengamalkan segala perintah-Nya dan meninggalkan segenap larangan-Nya. []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *