Kita Minta Hidayah, Allah Kasih Jalan. Tapi Kita Mau Jalan atau Masih Muter-Muter di Tempat?

Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Setiap hari, lima kali sehari…
Kita berdiri menghadap Allah.
Dan dalam setiap rakaat kita mengulang satu permintaan:
permintaan yang kita ucapkan bahkan sebelum minta rezeki, jodoh, atau ampunan.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

Permintaan ini bukan main-main.
Karena hidup ini bukan tentang kemana kamu pergi,
tapi jalan apa yang kamu tempuh untuk sampai.

Dan Allah — yang tak pernah mengecewakan hamba yang mencari — menjawab langsung:

وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًۭا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Itulah yang Dia wasiatkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An‘ām: 153)

Imam Al-Qurṭubī menjelaskan:

“Inna hādzā ṣirāṭī mustaqīman”
Ini adalah agama Islam yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang mencakup iman, amal saleh, dan akhlak mulia.
“Mustaqīman” artinya: lurus, jelas, tidak berliku, tidak bercabang, dan tidak membawa kepada kesesatan.

“Fattabi‘ūh”
Ikutilah jalan ini! Maksudnya: ikutilah ajaran Islam dengan penuh ketaatan, bukan sekadar ikut-ikutan.
Jangan ambil sebagian dan tinggalkan sebagian.

“Wa lā tattabi‘ū as-subul”
As-subul (jalan-jalan lain) adalah segala bentuk penyimpangan dari jalan Islam:
aliran sesat, hawa nafsu, filsafat yang menyesatkan, bid’ah, bahkan gaya hidup yang jauh dari nilai Qur’an dan Sunnah.

Al-Qurṭubī menyebut:
“Setiap jalan selain jalan Allah adalah jalan setan. Jika kamu tinggalkan shirāṭ Allāh, maka kamu pasti akan tersesat di jalan lain.”

Dalam hadis shahih yang beliau kutip:

Nabi ﷺ menggambar garis lurus dan bersabda:
“Ini adalah jalan Allah.”
Lalu beliau menggambar garis-garis bercabang di kiri dan kanan dan bersabda:
“Ini adalah jalan-jalan lain. Di setiap jalan itu ada setan yang mengajak ke jalannya.” (HR. Ahmad, an-Nasa’i, disahihkan oleh al-Albani)

Sekarang, kita tanya diri kita sendiri:

Kita minta jalan lurus, tapi masih asyik jalan di zigzag dunia.

Kita baca Al-Fatihah, tapi lari ke ideologi yang gak karuan.

Kita ingin petunjuk, tapi nggak siap ninggalin yang bikin kita nyasar.

Padahal jalan lurus itu bukan tren,
bukan sekadar quote motivasi,
tapi jalan perjuangan yang nuntun kita ke surga.

Jalan Allah itu satu, lurus, dan terang.

Jalan lain? Banyak, rame, penuh rayuan. Tapi semuanya berujung gelap dan memecah.

Hari ini kita minta lagi: “Tunjukkan aku jalan lurus, ya Allah.”
Tapi kali ini…
kita siap jalanin, bukan cuma bacain.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *