MAKNA IJAZAH DALAM DUNIA KEILMUAN ISLAM

Artikel Terbaru ke-2.205
Oleh: Fatih Madini
(Guru Pesantren At-Taqwa Depok)

Dewandakwahjatim.com, Depok – Pada hari Senin tanggal 5 Juni 2018 — tujuh tahun lalu — merupakan hari yang sangat bersejarah bagi kami para santri At-Taqwa Depok angkatan I dan II. Karena ketika itulah kami mendapatkan satu barang berupa secarik kertas bernama ijazah atas kesepakatan guru-guru kami dengan tujuan sebagai bukti berhasilnya kami menempuh batas minimal dari satu tahap pembelajaran adab dan ilmu.
Acara yang lebih dikenal wisuda ini diselenggarakan dalam bentuk event, dimana selain acara inti (pemberian ijazah) pesantren juga mengadakan beberapa penampilan seperti puisi, nasyid, hadrah, dan pembacaaan kitab Arab dan Melayu.


Namun disamping itu ada satu bagian yang sangat penting, bahkan lebih daripada pembagian ijazah tersebut, yaitu nasihat dari dua guru kami, Ustadz Dr. Alwi Al-Attas dan Ustadz Dr. Muhammad Ardiansyah. Karena nasihat inilah yang sangat berarti bagi kami.


Dr. Alwi berkisah tentang Ibn Jarir dan Abu Raihan al-Biruni. Ketika murid-murid Ibn Jarir mencoba menghitung jumlah karyanya, seperti kitab tafsirnya (Ath-Thabari) dan kitab tarikhnya, maka mereka ,menyimpulkan bahwa guru mereka bisa menulis dalam sehari sebanyak 40 halaman.


Karena ketinggian semangatnya dalam mencari ilmu, suatu ketika, saat beliau sedang terbaring sakit, ada beberapa sahabatnya pergi menemuinya. Saat mendengar salah satu sahabatnya membacakan doa untuknya, dia mengatkan, “Bisa kamu ambilkan kertas dan pulpen, karena saya ingin menulis dan menghafal doa yang tadi kamu bacakan, yang saya sendiri belum pernah mendengarnya.”


Bahkan saat dinasihati untuk istirahat saja, dia mengatakan bahwa, “Saya lebih senang meninggal dalam keadaan menuntut ilmu.” Kemudian tidak lama setelah itu, dia pun meninggal setelah berhasil menulis dan menghafal doa tersebut.
Ustadz Alwi menasihati agar kami terus memiliki semangat menuntu ilmu. Beliau menegaskan bahwa ijazah bukanlah tanda berakhirnya pembelajaran. Seperti seorang doktor yang saat ditanya mengapa anda tidak pernah meneliti dan membaca lagi, dia mengatakan, “Untuk apa saya menulis, sekarang saya sudah doktor.”

Para ulama kita benar-benar mengamalkan haidts Nabi bahwa menuntut ilmu itu dari buaian sampai liang lahad. Ijazah ini hanya bukti berhasilnya kami dalam satu tahap pembelajaran, dan masih banyak tahap-tahap yang harus kami tempuh.
Berikutnya, ustadz Ardiasnyah menjelaskan bahwa ijazah sekarang sangat berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Seperti yang beliau contohkan saat gurunya, Muallim Syafi’i Hadzami. Beliau belajar dulu selama 40 tahun, barulah ia mendapatkan ijazah yang tidak pernah ia harapkan selama masa pembelajarannya. Isi ijazah itu bukan berisi nilai-nilai berupa angka, melainkan nasihat yang berkisar satu halaman penuh.


Dan sebetulnya dalam tradisi Islam, ijazah yang berasal dari bahasa Arab itu yang berarti “izin” itu ada tiga tingkatan. Pertama, Ijazah Tadris. Yaitu adanya izin oleh sang guru kepada muridnya untuk segera mengajar. Inilah yang sebetulnya paling diharapkan oleh para ulama terhadap para muridnya. Karena yang paling mereka inginkan adalah agar ilmu yang telah mereka ajakan segera diamalkan.


Kedua, ada Ijazah ifti. Yaitu adanya izin oleh sang guru kepada muridnya untuk boleh memberikan fatwa. Seperti yang pernah dilakukan oleh syaikh Mulim bin Khalid Az-Zanji kepada muridnya Muhammad bin Idris As-Syafi’i. Beliau diberi izin berfatwa pada usia yang relatif muda, yaitu usia lima belas tahun. Itulah bukti akan keluasan ilmunya.
Ketiga, Ijazah Ijtihad. Yakni, ijazah untuk seorang murid yang sudah mendapat izin dari sang guru untuk berijtihad. Inilah tingkatan yang paling sulit dilakukan apalagi di era sekarang.


Beliau mengingatkan bahwa jangan sampai ijazah itu menjadi tujuan utama, tetap saja tujuan utama adalah mencari ridha Sang Pencipta. Layaknya para ulama dulu, mereka tidak pernah mencari atau bahkan memikirkan hal itu. Mereka tahu tugas utama mereka adalah mencari ilmu dan kemudian mengamalkannya, entah dengan mengajar ataupun yang lainnya.
Setelah mendapat ijazah, kami kembali diingatkan, agar jangan pernah merasa tinggi hati, karena pasti nantinya akan mudah jatuh. Dan jangan pernah berfikir bahwa ijazah adalah tanda akhir dari pembelajaran. (Depok, 30 April 2025. Editor: Adian Husaini).

Admin: Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *