Artikel Terbaru ke-2.196
Oleh: Dr. Adian Husaini ,(www.adianhusaini.id), Ketua Umum DDII Pusat
Dewandakwahjatim.com, Depok -Sebenarnya, konsep pendidikan itu mudah dan sederhana. Yang membuat rumit adalah urusan administrasi. Inti pendidikan, menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, adalah penanaman nilai-nilai adab (inculcation of adab). Dan ini bisa dilakukan di mana saja. Yang penting konsepnya jelas, gurunya baik, murid dan orang tuanya juga baik.Contoh praktis dari aplikasi konsep tersebut adalah Perguruan At-Taqwa Depok.
Tahun 2023, Perguruan Islam At-Taqwa Depok berumur 25 tahun. Perguruan itu kini menaungi satuan pendidikan tingkat TK sampai Perguruan Tinggi, dengan murid lebih dari 400 orang. Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah, Perguruan At-Taqwa Depok terus berkembang dan dikenal sebagai Perguruan Islam yang menekankan penanaman adab dan budaya literasi.
Tahun 1998, mulai pembelajaran anak-anak mengaji al-Quran di Komplek Timah Depok. Lokasinya di rumah seluas 80 meter pesegi. Dua tahun kemudian, tahun 2000, atas permintaan masyarakat, didirikanlah TK At-Taqwa, sebagai lembaga pendidikan formal. Juga di tempat yang sama.
Meskipun berlokasi di rumah, TK At-Taqwa dikelola secara profesional, dengan tekad menjadi TK terbaik, dengan biaya murah. Yang tidak mampu pun bisa bersekolah. Jumlah murid terus bertambah sampai menjadi sekitar 100 murid TK. Hingga kini, lulusannya telah mencapai 1000 orang lebih.
Tahun 2012, Perguruan At-Taqwa mendirikan jenjang pendidikan tingkat SD, yang kemudian diberi nama Pesantren Adab dan Ilmu (PADI). Bermula dari meminjam tanah, PADI kemudian mendapatkan Tanah Wakaf seluas 300 meter pesegi, dan jumlah murid sebanyak 120 orang. Nama PADI sengaja diambil untuk menekankan pentingnya penanaman adab atau akhlak mulia dalam pendidikan.
Nama PADI juga diluncurkan untuk menekankan bahwa tujuan utama mencari ilmu adalah untuk menjadi orang baik. Sesuai dengan konsep pendidikan ideal dalam Islam (Ta’dib), maka PADI sangat menekankan aspek keikhlasan dan kesungguhan dalam mencari ilmu, baik orang tua, murid-murid, atau pun gurunya.
Secara formal, PADI bekerjasama dengan PKBM Insan Mandiri Depok. Para murid PADI dapat mengikuti Ujian Paket A di PKBM tersebut. Alhamdulillah, hingga kini sudah ratusan orang yang menjadi lulusan PADI. Salah satu lulusannya adalah Fatih Madini yang kini menjadi guru di Pesantren At-Taqwa Depok dan telah menulis beberapa buku. (https://mediadakwah.id/kampus-ddii-makin-berkibar-mahasiswanya-luncurkan-buku-keempat/).
Nama “Pesantren” sudah dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam yang ideal dengan beberapa ciri yang melekat, seperti keikhlasan dalam mencari ilmu, keteladanan guru, tafaqquh fid-din, dan penanaman adab atau akhlak mulia. Itulah yang sangat ditekankan dalam proses pendidikan di PADI.
Kurikulum di PADI mengacu kepada pola: beradab dan berilmu! Penanaman adab bukan hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga sampai di rumah. PADI tidak menerapkan sistem boarding. Para murid hanya belajar di kampus PADI, sampai tiba waktu dhuhur. Setelah itu, para murid melaksanakan shalat dhuhur berjamaah dan kemudian mereka pulang.
Nah, para murid PADI pulang ke rumahnya dengan dibekali BUKU ADAB yang harus diisi dan disetujui oleh orang tuanya. Esoknya, murid datang ke sekolah dengan laporan adab selama di rumah. PADI setuju dengan teori Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, bahwa akar masalah umat Islam adalah “hilang adab” (loss of adab).
Karena itulah, sejak dini, anak-anak sudah harus menjalani proses ta’dib itu dengan sebaik-baiknya. Kurikulum PADI didasarkan pada kewajiban mencari ilmu-ilmu fardhu ain dan juga ilmu-ilmu fardhu kifayah. Lulus PADI, para murid wajib bisa melaksanakan shalat dengan benar dan sudah dilatih menjadi kewajiban sehari-hari.
Begitu juga para murid dididik agar dapat membaca al-Quran dengan lancar. Sebab, Rasulullah saw sudah memerintahkan para orang tua agar memerintahkan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat lima waktu, saat berumur tujuh tahun. Ketika mereka berumur 10 tahun, maka mereka harus sudah bisa melaksanakan shalat dengan benar.
Para murid PADI juga diberi latihan bela diri agar tubuh mereka sehat dan kuat. Itulah yang diperintahkan oleh Rasululah saw, bahwa orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah, daripada orang mukmin yang lemah.
Adab lain yang sangat ditekankan di PADI adalah adab kepada para ulama dan pejuang-pejuang Islam di Indonesia. Inilah salah satu keunikan PADI. Para murid tingkat SD itu sudah mendapatkan pelajaran tentang huruf Arab Melayu. Ada kitab Arab Melayu yang wajib mereka pelajari. Para murid PADI ini pun sangat ditekankan untuk mengenal Sejarah Perjuangan Islam di Indonesia, sejak dini.
Jadi, konsep pendidikan di PADI sangat diupayakan agar sesuai dengan konsep pendidikan ideal dalam Islam. Mendidik anak, pada dasarnya, adalah tanggung jawab orang tua. Anak punya hak untuk mendapatkan pendidikan yang benar. Itulah yang nanti akan dipertanggungjawabkan oleh orang tua di akhirat. Karena itu, konsep PADI tidak boleh melanggar konsep pendidikan Islam yang benar.
Alhamdulillah, setelah 13 tahun, di tengah maraknya godaan sekularisme-materialisme dalam pendidikan, PADI masih terus bertahan. Semoga Allah SWT memberikan bimbingan dan kesabaran kepada pimpinan dan para guru di PADI, agar dapat mendidik para murid dengan sebaik-baiknya. Amin. (Depok, 20 April 2025).
Admin: Kominfo DDII Jatim
red’ Ainur Rafiq Sophiaan
Ed: Sudono Syueb
