Artikel Terbaru ke-2.178
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id), Ketua Umum DDII Pusat
Dewandakwahjatim.com, Depok - Dalam acara Peringatan Holocaust, yang disiarkan Haaretz.com 29 April 2003, tokoh Yahudi Ariel Sharon menyatakan: “The murder of six million Jews has demonstrated that the Jewish people can only achieve security through strength.” Jadi, tegas Sharon, yang berpidato ketika itu lengkap dengan “Kipa” (peci Rabbi Yahudi), bahwa Yahudi harus memiliki kekuatan sendiri. “Power” itulah kata kuncinya.
Meskipun hanya berjumlah tak lebih dari 15 juta orang sedunia, kaum Yahudi bisa mengendalikan negara super power seperti AS. Bagaimana dengan umat Islam Indonesia yang jumlahnya kini sekitar 250 juta orang?
Itulah ironisnya. Allah SWT sudah memerintahkan agar kaum menghimpun segala kekuatan, sebagaimana dijelaskan dalam QS at-Taubah:60. “Power” banyak jenisnya: political power, economical power, knowledge power, ideological power, dan yang penting saat ini juga information power.
Kaum Yahudi yang jumlahnya sangat sedikit, mereka kuat, bisa mendominasi politik negara superpower. Ini sekaligus pelajaran bagi kaum Muslim: jangan bangga hanya dengan mayoritas, jangan merasa aman dengan jumlah yang banyak, sebab Allah sudah mengingatkan, jumlah banyak bisa tidak berarti apa-apa. Itulah yang terjadi dalam Perang Hunain, saat kaum Muslimin berbangga dengan jumlah mereka yang besar, sehingga mereka hampir-hampir dikalahkan oleh sisa-sisa pasukan kuffar.
Kaum Yahudi di AS hanya sekitar 2 persen dari jumlah penduduk AS. Tapi, mereka bisa menguasai opini dan keuangan di AS. Dalam kasus legalisasi pernikahan sejenis, kaum Yahudi berhasil mempengaruhi opini bangsa AS, sehingga sikap mereka berubah: dari membenci sampai akhirnya menerima dan melegalkan perkawinan sesama jenis.
Kini, Presiden Prabowo Subianto memiliki visi untuk membangun Indonesia menjadi negara kuat. Visi tersebut tidak mungkin bisa diwujudkan tanpa menguatnya kondisi umat Islam Indonesia. Sebab, jumlah umat Islam begitu besar. Jika mereka lemah – karena bodoh, miskin, atau berpecah belah – maka akan memberikan dampak buruk untuk membangun kekuatan bangsa Indonesia.
Cara terpenting untuk menguatkan umat Islam Indonesia adalah melalui pendidikan. Kita berharap, pemerintah benar-benar menyelenggarakan pendidikan nasional yang melahirkan manusia-manusia unggul. Bukan hanya melahirkan manusia-manusia yang bisa cari makan.
Tetapi, lebih dari itu. Manusia-manusia unggul adalah manusia-manusia pejuang yang memiliki cita-cita mulia untuk memajukan umat dan bangsanya. Mereka tidak egois dan materialis yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli pada kondisi masyarakat dan bangsanya. Mereka memiliki visi akhirat. Bahwa kehidupan dunia ini hanya jembatan penyeberangan menuju kehidupan abadi, yaitu kampung akhirat.
Terbentuknya manusia-manusia unggul ini sebenarnya telah dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945 dan pasal-pasal pendidikan dalam UUD 1945. Pendidikan nasional kita harusnya melahirkan manusia-manusia unggul dan mulia. Kondisi masyarakat kita sekarang adalah produk dari pendidikan kita beberapa tahun lalu. Para pemimpin kita sekarang adalah produk pendidikan kita sendiri.
Umat Islam Indonesia – sebagai bagian terbesar dari bangsa Indonesia – tidak boleh bergantung sepenuhnya kepada pemerintah. Sebab, pemerintah memiliki keterbatasan dalam berbagai bidang, baik secara anggaran maupun keragaman pemikiran tentang pendidikan nasional. Tentu saja akan sangat baik jika pemerintah memberikan dukungan dan bantuan terhadap pendidikan yang dijalankan oleh umat Islam.
Selama ratusan tahun, di bawah pemerintahan jajahan, umat Islam telah melaksanakan pendidikan secara mandiri. Hebatnya, pendidikan itu terbukti melahirkan para tokoh hebat, seperti Panglima Sudirman, Mohammad Natsir, Buya Hamka, dan banyak lagi yang lainnya. Kualitas mereka jelas lebih unggul dari banyak tokoh dan cendekiawan produk pendidikan Barat.
Di bawah pemerintahan Prabowo Subianto saat ini, umat Islam memiliki peluang besar untuk membangun pendidikan yang unggul, merdeka, dan mandiri. Secara prinsip, pendidikan unggul bertumpu pada proses penanaman akhlak mulia dan penguasaan ilmu pengetahuan yang mumpuni. Pendidikan ini harus melahirkan manusia-manusia yang memiliki keunggulan dalam akhlak mulia, fisik yang kuat, penguasaan ilmu yang integral, dan kebijakan dalam bertindak.
Presiden Prabowo Subianto memiliki komitmen dan kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan. Ia dikenal hobi membaca buku. Ia memiliki koleksi perpustakaan pribadi yang sangat memadai. Ia memiliki tradisi ilmu yang kuat. Kebijakan-kebijakan yang diambilnya diputuskan berdasarkan ilmu. Jarang-jarang kita memiliki presiden yang seperti ini.
Karena itu, sangat disayangkan, jika peluang kebangkitan umat dan bangsa Indonesia ini dilewatkan begitu saja. Kita jangan terlalu disibukkan hal-hal yang justru melemahkan kita sendiri. Dalam hal ini, kita bisa mempelajari sejarah dan usaha bangsa Yahudi untuk menjadi bangsa yang kuat, meskipun jumlahnya sedikit.
Ingatlah selalu pesan Nabi kita: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah!” Semoga Allah SWT menolong kita semua. (Depok, 2 April 2025).
Admun: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
